POLITIK Versus MORALITAS

by Redaksi
0 Komentar 112 Pembaca

KOLAM politik masih keruh setelah enam hari lewat dari waktu pemungutan suara. Dasarnya belum terlihat karena di permukaan saja airnya hitam legam. Pemenang dan pecundang tak bisa dipastikan. Angka-angka statistik tak bisa dipercaya. Sebagian orang merasa sudah menang, meskipun penghitungan suara jelas kacau balaunya. Sebagian lagi sibuk mengumpulkan bukti pelanggaran, tak terima dengan kekalahan yang sebenarnya belum bisa juga dipastikan. Mereka belum mau berhenti berteriak-teriak tentang kecurangan.

 

Kaum gampangan berkata, “Sudahlah, terima saja! Toh, siapapun yang berkuasa sama saja, alias tidak ada bedanya! Si A atau si B sama culasnya. Yang penting kita dapat apa dari mereka.”

 

Tak enak sungguh mendengar omongan seperti itu. Karena yang culas jadi bertambah. Tapi orang-orang dengan moralitas semacam itu benar adanya, banyak pengikutnya. Nalar kaum gampangan ini mudah saja menganggap banyak = menang = benar. Mereka tahu penalaran seperti ini salah, tapi tetap saja dipegang erat-erat, entah untuk alasan apa. Tak usah mereka diingatkan bahwa tujuan tak bisa membenarkan cara, karena mereka tidak akan menggubris.

 

Di seberang sana, ada kaum yang tiba-tiba idealis-moralis, tanpa riwayat di masa lalu. Mereka gugup menghadapi gelagat kekalahan. Mereka ciut mendengar cibiran, “Kalau kalah ya, kalah! Tak usah teriak-teriak curang! Lebih baik kalah terhormat daripada menang hina, bukan?”

 

KEBENARAN dan kehormatan memang tak pernah mudah. Sejarah kemanusiaan tak pernah menunjukkan secara jelas kebenaran itu benar-benar ada dan selalu menang, sementara kejahatan selalu kalah. Baik diuji lewat perang maupun lewat politik semacam Pemilu Indonesia 2024.

 

Misalnya Hitler. Sejarah mencatatnya sebagai orang jahat dan bersalah sekaligus. Padahal bisa jadi salahnya Hitler hanya karena dia kalah dalam Perang Dunia II. Kalau dia menang pastilah dia bisa menciptakan kebenarannya sendiri. Dan sejarah tidak akan mencatat Hitler sebagai penjahat kemanusiaan, melainkan patriot sejati.

 

Pun para pemenang Pemilu Indonesia 2024, sebentar lagi mereka akan menciptakan kebenarannya sendiri dengan kekuasaan di tangan. Karena jalan politik tak terlalu suka memberi tempat bagi hidupnya etika dan moralitas.

 

Silakan buka sejarah politik sejak zaman Socrates di Yunani sekitar 5 abad SM, Cicero pada abad ke-1 di Romawi, Machiavelli pada sekitar abad 15-16 di Itali, dan Indonesia sejak Pemilu 1971, atau sejarah politik paling mutakhir di manapun. Para pemenang di kancah politik adalah mereka yang tidak menyertakan agenda etika dan moral dalam usaha merebut kekuasaan.

 

Kalau Soeharto saja sanggup membunuh jutaan warga negaranya sendiri untuk melempangkan jalannya menuju puncak kekuasaan, tak heran jika penguasa sekarang berani memproduksi dusta sebegitu banyak untuk menipu sebanyak mungkin orang.

 

Itu strategi kampanye, kata mereka. Karena setelah kuasa di tangan apapun bisa dibuat, terutama kebenaran menurut versi penguasa. Mereka sadar akan pakem: Segenggam kekuasaan lebih berguna daripada segudang pengetahuan.

 

Well…, go on with that. Karena boleh jadi kalian bisa menaklukkan ruang, tapi tak bakal kalian sanggup menaklukkan waktu. Silakan cek atribut Bapak Pembangunan bagi Soeharto dengan atribut Rezim Otoriter Orde Baru, mana yang lebih menghujam dalam ingatan?

***


Penulis : Alan ES

Baca juga

Tinggalkan Komentar