Menanti Bimbingan Yang Menyejukkan

by Redaksi
0 Komentar 223 Pembaca

 

“Ya Tuhan…kenapa aku bisa seperti ini?” Kalimat yang bernada gelisah tersembur dari mulutnya dengan aroma minuman keras yang begitu menyengat. Sementara lintingan tembakau terselip diantara jari tangannya yang lunglai. Tubuh yang setengah telanjang tertutup oleh relief tatto mulai dari gambar Kobra sampai Garuda menandakan kegarangan ekpresi jiwa. Pun gambar bunga dan kepala wanita, yang mengekspresikan keindahan penuh cinta.

Tersandar lemah di dinding kamar yang cukup luas penuh goresan pesan. Tulisa-tulisan protes pada keadaan. Semaca “aku ingin menjemput mati” atau “dunia sudah gila” ada juga tulisan yang bernada menantang

“lu jual gua beli” atau “langkahi mayatku”….dan lain-lain dan sebagainya.

Dengan perawakan tinggi kerempeng rambut gondrong, ia membiarkan kumis, brewok dan jenggotnya tak terpotong. Sekilas memang terlihat garang dan seram. Meski kini sorot matanya kosong menatap sesuatu yang tak pasti, begitu kelam dan begitu suram. Baginya dunia ibarat neraka yang ingin dihindari. Dan ia memang menghindari dan lari dari kenyataan dengan jalan yang menentang fitrah.

Sejenak aku ragu ketika google map menunjuki arah kendaraanku untuk berhenti persis di depan rumah 3 lantai yang serba putih. Kawasan komplek perumahan mewah  dengan penataan ruang yang cukup apik. Jalanan dua arah dengan kiri kanan pepohonan yang rindang serta bunga-bunga yang mekar juga deretan rumah-rumah dengan ukuran yang besar dan bertingkat, seakan memasuki taman yang sejuk dan indah.

Aku memastikan lagi pesan wa dari seseorang tentang alamat yang harus dituju.

“Ah benar ini alamatnya” gumamku.

Aku parkirkan motor bututku persis di depan pagar rumah itu yang terlihat kokoh dan begitu tinggi. Ku tengok di sepion wajahku sambil memakai peci. Dan kubuka jaket yang sempat membuatku gerah kemudian digantungkan di kaca sepion. Kuintip ke dalam pagar tidak kelihatan ada orang. Akhirnya kuraih bel rumah dan kupijit beberapa kali.

Sesaat kemudian keluarlah ibu-ibu paruh baya dengan tergopoh-gopoh sambil membuka pintu pagar ia berujar

“Dengan ustadz Jose ya?”

“Maaf agak telat buka pintunya, soalnya bibi tadi lagi di lantai 3 merapikan barang-barang yang berantakan di kamar Aden”.

Belum sempat aku jawab si ibu itu sudah minta maaf. Dan dia begitu yakin kalo aku adalah tamu yang ditunggunya.

“Silahkan Pak Ustadz”.

Sementara si ibu menutup pintu pagar.

Aku mendorong motorku memasuki pekarangan yang cukup rimbun dengan pepohonan hias dan bunga-bunga yang kelihatanya sedang mekar dengan lampu-lampu hias pula. Sementara teras rumah yang begitu lapang dengan sofa ukiran jati. Dan garasi yang muat untuk 3 unit mobil menyisakan satu mobil Rubikon. Aku memarkir motorku disamping mobil mewah itu.

“Ini mobil seharga seratus motorku,” gumamku.

“Pak ustadz silahkan masuk.”

Suara itu mengagetkanku sesaat terpatung memperhatikan taman rumah yang begitu tertata apik.

“Oh iya…Bu…eh bi,” Jawabku sambil memilih panggilan yang tepat untuknya.

“Assalamu’alaikum,” Aku melangkah ke dalam rumah mengikuti si bibi sambil mengucapkan salam.

“Waalaikumussalam,” setengah bergumam si bibi menjawab salam.

“Duduk dulu pak ustadz, biar bibi ambilkan minum,” si bibi mempersilahkan aku duduk sambil ngeloyor ke ruang dalam.

“Ah …mpuk benar nih bangku…” Kulemparkan pantatku di sofa berukir dari kayu jati.

“Ini rumah apa istana ya?” Tanyaku penuh penasaran.

Sementara mataku berkeliling menyapu setiap sudut ruangan. Dan kutemukan gambar dalam pigura ukuran dua kali satu yang bergelantungan persis di atas etalase bertingkat dari kayu jati yang memuat barang-barang antik serta sedikit buku-buku bacaan.

“Sepertinya ini foto keluarga,” gumamku ingin memastikan.

Dalam foto itu terlihat seorang bapak paruh baya didampingi perempuan seumurannya. Sementara kiri kanannya ada seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Semuanya berpakaian batik.

“Silahkan diminum pak Ustadz,” sedikit kaget aku dibuatnya.

“Terima kasih Bi,” sahutku sambil tak henti memperhatikan gambar tersebut.

“Itu gambar keluarga besar di sini Pak Ustadz,” tanpa ditanya si bibi menjelaskan gambar keluarga yang aku perhatikan.

“Bapak bertugas di kedutaan besar Indonesia di Jordania, sementara ibu sudah almarhum. Dan si Eneng itu sedang kuliah di Amerika. Yang ada di rumah cuma Den Melki aja,” si bibi menjelaskan.

“Oh…” Aku cuma bisa manggut-manggut.

“Kalo udah minum Pak Ustadz langsung ke atas aja ya…” Pinta si bibi.

“Iya Bi..” aku menuruti ajakan si bibi.

Naik ke lantai tiga cukup membuat dengkulku lelah. Sementara si bibi terus menuntun arah.

“Nah ini kamarnya Den Melki Pak Ustadz. Silahkan ketuk aja,” kata si bibi sambil ngeloyor kembali ke lantai bawah.

“Assalamu’alaikum…tok tok tok'”

Perlahan aku mengetuk pintu.

“Waalaikum salam,” buka aja sahut yang di dalam.

Saat aku membuka pintu kamar, aroma minuman begitu menyengat. Sementara asap mengepul memenuhi ruangan. Kamar itu begitu luas, namun sedikit berantakan. Disamping tempat tidur ada lemari yang begitu besar untuk ukuranku. Tapi aku maklum pasti isinya berbagai macam pakaian yang bermerk luar negeri. Maklum orang kaya.

“Perkenalkan saya denga Jose…” Aku menyodorkan tangan.

“Oh iya pak Ustadz Jose,” suaranya begitu parau sambil berusaha meraih tanganku.

“Papah pernah bilang via telpon beberapa hari yang lalu untuk mengundang guru ngaji,” dengan suara tidak terlalu jelas ia bercerita.

“Rupanya baru kali ini Pak Ustadz bisa datang…terima kasih atas kedatanganya Pak Ustad…” Kulihat raut mukanya memelas penuh kesedihan, dan matanyapun berkaca-kaca.

“Iya..iya..maafkan saya juga, karena baru kali ini bisa dating,” aku meminta maaf dengan perasaan sangat bersalah.

“Pak Ustadz…hik…hik..hik” tiba-tiba ia menangis tersedu.

“Banyak hal yang ingin saya ceritakan..” seperti tercekat tenggorokannya begitu sulit ia mencoba memulai mencurahkan problem yang menggelayuti hidupnya.

Aku sendiri mencoba menjadi pendengar yang baik.

“Pak Ustadz…” Ia mencoba menenangkan hatinya sambil meraih air putih dan meneguknya .

“Apakah saya masih punya kesempatan untuk bertobat???” Keluar pertanyaan itu seperti penuh harap.

“Semenjak ditinggalkan ibu, sepertinya hidup saya kehilangan arah. Tidak ada lagi orang yang bisa memahami dan tempat curahan hati…” Bulir-bulir air matanya tak terbendung meleleh menahan kesedihan.

“Saya terjerembab ke jalan yang penuh dosa Pak Ustadz…saya minum-minuman keras, nyabu, main perempuan…ah…ya Tuhan kenapa aku bisa seperti ini….” Begitu memelas ia menceritakan jalan hidupnya.

“Saya ingin tobat Pak Ustad…saya ingin memulai jalan hidup yang benar…saya ingin belajar ngaji….” Subhanallah permintaan itu begitu luhur dan begitu tulus.

“Den…” Belum lagi aku menjawab dia menukas

” Jangan panggil Den, panggil saja aku Melki Pak Ustadz,” pintanya.

“Iya Melki…Alloh maha penerima taubat, maha pengasih dan maha penyayang. Dia tidak akan meninggalkan umatnya selagi umatnya mau bertobat. Pintu taubatnya terbuka lebar selagi kita masih hidup di dunia ini,” aku mencoba menumbuhkan harapannya.

“Apalagi tadi Melki mau mulai belajar ngaji. Tidak ada kata terlambat. Mulailah selagi ada waktu, selagi hidup, dan selagi sehat,” lanjutku

“Pak ustad siap membimbing Melki kapan dan dimana pun,” janjiku.

“Terima kasih Pak ustadz atas kesediaannya,” dia meraih tanganku dan menciumnya.

Binar matanya menggambarkan tumbuhnya harapan. Harapan untuk hidup dan harapan untuk menyongsong masa depan. Kesempitan perlahan bergeser menjadi kelapangan. Dan rongga-rongga jiwanya mulai terisi kesadaran untuk segera mengalihkan kemudi ke arah mata angin yang benar. Jiwa fitrah itu seperti sudah siap mendapatkan bimbingan suci ajaran para Nabi. Itulah sejatinya sebuah proses mendapatkan eksistensi diri sebagai hamba yang siap dibawah bimbinganNYA.

***

“Abaaah….”

Panggilan si bungsu membuyarkan lamunanku. Aku memang sedang berpikir tentang sebuah terapi yang harus aku berikan kepada klienku yang sedang memasuki masa pertobatan. Dan aku sudah punya jawaban. Bahwa dengan bimbingan agama yang menyentuh hati dan menyejukkan, itulah cara terbaik yang harus aku lakukan.

“Basyiiron wa nadhiiron” desahku.**


Penulis: Jojo (Pengelana di simpang masa)

Baca juga

Tinggalkan Komentar