• BERITA UTAMA
    • NASIONAL
    • Internasional
    • KABAR DAERAH
    • METROPOLITAN
  • KABAR SEKOLAH
    • SMA
    • SMK
    • MA
    • SMP
    • MTS
    • SD
    • MI/DINIYAH
    • PAUD/TK
  • KABAR KAMPUS
  • KABAR PESANTREN
  • MENULIS
    • Artikel Guru
    • Artikel Dosen/Mahasiswa
    • Opini
  • TIPS EDU
  • EDU INFO
    • Klik Pendidikan
    • Info Pendidikan
    • Info Guru
  • INSPIRASI PENDIDIKAN
    • Inspirasi
  • JEJAK PRESTASI
  • E-PAPER
  • LAINNYA
    • Profil Sekolah
      • SMK
      • SMA
      • MA
      • SMP
      • MTS
      • SD
      • TK/PAUD
      • MI/DINIYAH
    • Ruang Sastra
      • Cerpen
      • Puisi
    • ULASAN BUKU
      • BAHAN AJAR
      • BUKU UMUM
    • SAPA WILAYAH
      • Kecamatan Beji
      • Kecamatan Bojongsari
      • Kecamatan Cilodong
      • Kecamatan Cimanggis
      • Kecamatan Cinere
      • Kecamatan Cipayung
      • Kecamatan Limo
      • Kecamatan Pancoran Mas
      • Kecamatan Sawangan
      • Kecamatan Sukmajaya
      • Kecamatan Tapos
    • WAWASAN PUBLIK
      • Parlemen
      • Pemerintahan
      • Peristiwa
      • Politik
      • Sosial
      • Suara Publik
      • Ekonomi & Bisnis
      • Infotaintment
      • Opini
Swara Pendidikan
Wednesday, May 6, 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Swara Pendidikan
No Result
View All Result

Tanpa Keteladanan, Transformasi Pendidikan dengan 3M, Hanya Slogan

Oleh Drs. Supartono, M.Pd. (Supartono JW)

by SWARA PENDIDIKAN
5 May 2026
in Opini
0
Tanpa Keteladanan, Transformasi Pendidikan dengan 3M, Hanya Slogan
3
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

 

 

Dalam pidato di Hari Pendidikan Nasional (Hardikanas), 2 Mei 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, mengungkapkan bahwa kunci peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah  pentingnya faktor 3M.

“Berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa 3M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus.”

BACA JUGA

27 Tahun Kota Depok: Saatnya Naik Kelas, Bukan Berdesakan di Kelas

Hardiknas 2026: Data Bicara, Partisipasi Semesta Jadi Kunci Mutu Pendidikan

Hardiknas 2026:  “Memuliakan Manusia, Meneguhkan Arah Pendidikan Bangsa”

66 Tahun Hardiknas, Pendidikan Jauh dari Kebutuhan Dunia Nyata

Hal tersebut disampaikan melalui tayangan pidatonya. Mu’ti menjelaskan, tanpa ketiganya, semua kebijakan yang telah berjalan hanya akan berhenti sebagai program dan formalitas, yang sekadar ditandai dengan capaian angka-angka kuantitatif.

Mu’ti memaknai pendidikan adalah proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak dan peradaban bangsa, sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003.

Mu’ti menilai, pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan potensi manusia sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur, bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya.

Hal tersebut, “Sesuai dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pendidikan adalah usaha bersama untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, kuat, dan tangguh untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, makmur, dan bermartabat,” katanya.

 

Di awang-awang

Dari apa yang disampaikan Mu’ti dalam pidatonya, rasanya apa bedanya dengan tema Hardiknas ke-66 2026, yaitu “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”?

Keduanya hanya sekadar mengawang-awang, kembang kalimat, slogan, yang sulit untuk dipraktikkan, dibuktikan, diwujudkan, direalisasikan.

Konsep yang disampaikan Mu’ti dengan rumus 3M yang dianggapnya kunci utama peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan, agar kebijakan tidak hanya menjadi rutinitas. Itu hanya konsep yang terlalu mengawang-awang seperti slogan dan sulit dicapai bila tidak disertai dengan langkah konkret, sinergi nyata, dan komitmen seluruh aktor pendidikan untuk mengubah pola pikir (mindset) dari administratif-sentris menjadi berfokus pada dampak siswa.

Saya pastikan, “Konsep 3M” akan sulit diwujudkan, sebab hingga saat ini, saya masih melihat bahwa kebijakan pendidikan hanya berhenti pada laporan angka-angka kuantitatif tanpa dampak riil pada proses pembelajaran mendalam (deep learning) di kelas.

Kemudian apa yang diharapkan dari sisi mentalitas?  Apakah semudah membalik telapak tangan membuat dan membentuk mental tangguh, berkarakter, sikap optimis, penuh daya juang, dan integritas (mental kuat) dari para pendidik dan tenaga kependidikan untuk keluar dari zona nyaman.

Rasanya, meski pendidikan di Indonesia terus tercecer, para pendidik dan tenaga kependidikan khususnya yang sudah ASN/P3K, tetap adem ayem saja. Sebab, apa pun hasil pendidikan para peserta didik/siswa/murid, baik atau buruk, gaji mereka tetap utuh, tidak pernah dipotong, uang sertifikasi, tunjangan ini dan itu tetap jalan dari uang rakyat. Intinya, mereka terus nyaman dan tetap ada di zona nyaman meski out put pendidikan terus bermasalah.

Berbeda dengan para pendidik dan tenaga kependidikan di sektor swasta yang terus dan selalu berada di zona tidak nyaman, karena siapa yang membayar mereka? Bukan dari uang rakyat. Tetapi mereka bertanggung jawab langsung kepada para orang tua peserta didik yang menggajinya.

Berikutnya, bagaimana misi lurus dapat berjalan bila fokus pendidikan terpecah atau tidak konsisten antara membangun kualitas manusia seutuhnya (karakter, potensi, keterampilan) dan sekadar mengejar nilai akademis?

Di sisi lain, kurangnya sinergi dan pemerataan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat tidak berjalan, serta kesenjangan fasilitas dan sarana-prasarana, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), masih tinggi, sehingga ide “maju” sulit diterapkan merata.

Meski Mu’ti menegaskan bahwa agar 3M tidak sekadar slogan, 3M harus diturunkan dalam tindakan nyata, seperti penguatan digitalisasi, peningkatan kualifikasi guru, serta pengembangan materi yang lebih substantif dan bermakna. Tetapi, apakah selama ini, hal tersebut belum digembar-gemborkan? Lalu, apa hasilnya?

Maaf, hasilnya “seperti bau kentut di ruangan ber-AC”. Baunya “mbulek”, berputar-putar di tempat/ruang yang sama. 3M hanya sekadar bunga kata-kata, slogan. Pendidikan Indonesia terus tercecer.

 

Butuh keteladanan

Kendati dalam delapan belas bulan, Mu’ti mengatakan, Kemendikdasmen telah meletakkan fondasi pendidikan bermutu untuk semua melalui berbagai regulasi dan ekosistem yang mengintegrasikan empat pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Mu’ti menekankan bahwa keberhasilan peningkatan mutu pendidikan bukan hanya soal kebijakan teknis, melainkan ketergantungan pada kualitas SDM pendidik dan tenaga kependidikan.

Kebijakan secanggih apa pun akan gagal jika eksekutor di lapangan tidak memiliki pola pikir maju, mentalitas tangguh, dan tujuan lurus.

Pertanyaannya, apakah untuk terwujudnya 3M, hanya para pendidik dan tenaga kependidikan saja yang harus memiliki 3M?

Mindset (Pola Pikir) yang maju, yaitu berpikir inovatif, terbuka, dan tidak kaku. Berorientasi pada pemecahan masalah (solution-oriented), kreatif, serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan teknologi?

Mental yang kuat, yaitu tangguh, tidak mudah menyerah (resilient), berdedikasi tinggi, dan berani mengambil risiko untuk kemajuan. Memiliki etos kerja tinggi dan komitmen untuk mengatasi keterbatasan?

Misi yang lurus, yaitu bekerja dengan niat tulus (ikhlas) untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan demi kepentingan pribadi atau golongan. Fokus pada integritas, kejujuran, dan pengabdian demi mutu pendidikan?

Jawabannya dapat saya pastikan, tidak. Meski para pendidik dan tenaga kependidikan adalah ujung tombak untuk terwujudnya 3M, namun bila mereka tidak dicontohkan atau tidak ada keteladanan dari para pemimpin dan pejabat negeri ini untuk bekerja dengan 3M, maka jangan berharap 3M untuk keberhasilan pendidikan di Indonesia akan terwujud.

Para pemimpin dan pejabat di negeri ini juga wajib memberikan keteladanan dalam 3M, kombinasi kompetensi berfikir (Mindset), ketahanan karakter (Mental), dan integritas moral (Misi) dalam mewujudkan amanah pendidikan untuk rakyat. 3M juga menjadi tanggung jawab para pemimpin dan para pejabat hingga para elite di negeri ini.

Bagaimana 3M akan terwujud, di negeri ini, kini inflasi pemimpin dan pejabat alias banyak pemimpin dan pejabat yang tidak kompeten menjadi fakta yang secara telanjang diketahui oleh masyarakat. Tentunya, dalam 3M juga buruk.

Jadi, percuma bila Mu’ti hanya bicara 3M, tetapi dirinya dan para pemimpin dan rekan pejabat di negeri tidak dapat menjadi teladan dalam hal 3M. Dana pendidikan saja diambil untuk MBG. Di mana 3Mnya?

Menurut saya, saat Presiden lebih fokus kepada Peringatan Hari Buruh tanggal 1 Mei, padahal Hardiknas tanggal 2 Mei, maka harapan Mu’ti, saya pikir hanya sekadar “lempar batu, sembunyi tangan”.

Arti sesuai konteks pendidikan Indonesia, Pemerintah (baca: Presiden) telah melakukan tindakan salah, bahkan jahat, sehingga menimbulkan masalah pendidikan terus menjadi benang kusut, namun berpura-pura tidak tahu atau bersembunyi untuk menghindari tanggung jawab. Ini adalah bentuk ketidakjujuran dan pengecut, padahal pelakunya adalah aktor intelektual atau pelaku utama dari sebuah kekacauan pendidikan di Indonesia.

Atas situasi tersebut, bagaimana transformasi pendidikan Indonesia akan terwujud?


Drs. Supartono, M.Pd. (Supartono JW)
Pengamat pendidikan, sosial, dan humaniora

 

ShareTweetSendShare

BeritaTerkait

Dana Guru Honorer Diambil untuk MBG, Mendikdasmen Minta Dana Lagi, Ironis dan Konyol
Opini

Dana Guru Honorer Diambil untuk MBG, Mendikdasmen Minta Dana Lagi, Ironis dan Konyol

6 March 2026
0
78

Penulis: Drs. Supartono, M.Pd

Read more
Ketika Uang Negara Berakhir di Jamban melalui Program Makan Bergizi Gratis

Ketika Uang Negara Berakhir di Jamban melalui Program Makan Bergizi Gratis

6 March 2026
20
Kami Hanya Ingin Bekerja:  Dinamika Kepemimpinan Kepala Sekolah di Tengah Regulasi, Pengawasan, dan Intimidasi

Kami Hanya Ingin Bekerja: Dinamika Kepemimpinan Kepala Sekolah di Tengah Regulasi, Pengawasan, dan Intimidasi

2 March 2026
118
MBG dan KMP, Menyehatkan dan Mensejahterakan Siapa?

MBG dan KMP, Menyehatkan dan Mensejahterakan Siapa?

25 February 2026
43
“Orang-Orang yang Tahan Banting Tambeng”

Siapa Diuntungkan, MBG di Bulan Ramadan Tetap Berjalan?

20 February 2026
59
“Orang-Orang yang Tahan Banting Tambeng”

“Orang-Orang yang Tahan Banting Tambeng”

17 February 2026
67
Next Post
Vaksin Haji 2026, RSUI Ingatkan Pentingnya Imunisasi bagi Calon Jemaah

Vaksin Haji 2026, RSUI Ingatkan Pentingnya Imunisasi bagi Calon Jemaah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SMK Perbas – 14
Sumarno – 20
pkb – 19
siti – 21
Lego – 12
https://dewanpers.or.id/data

2026 © swarapendidikan.co.id

TENTANG KAMI

  • Berita
  • Disclaimer
  • KERJAMASA DAN IKLAN
  • KODE ETIK JURNALIS SWARA PENDIDIKAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • LOKER / MAGANG
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Swara Pembaca
  • swarapendidikan.co.id
  • Tentang Kami

Follow & Share

No Result
View All Result
  • Berita
  • Disclaimer
  • KERJAMASA DAN IKLAN
  • KODE ETIK JURNALIS SWARA PENDIDIKAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • LOKER / MAGANG
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Swara Pembaca
  • swarapendidikan.co.id
  • Tentang Kami

2026 © swarapendidikan.co.id