Oleh: Eman Sutriadi, Pimpinan Umum Swara Pendidikan
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini bukan sekadar slogan seremonial, melainkan panggilan nyata yang didasarkan pada data dan kondisi pendidikan kita hari ini.
Potret Mutu Pendidikan Saat Ini
Berbagai indikator menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia terus bergerak, meski belum sepenuhnya merata.
Pertama, Rapor Pendidikan Indonesia kini menjadi rujukan utama dalam mengevaluasi mutu pendidikan. Data yang dihimpun dari hasil asesmen nasional, survei, serta berbagai indikator pendidikan lainnya menjadi dasar bagi sekolah dan pemerintah daerah dalam menyusun strategi peningkatan layanan.
Kedua, hasil PISA menunjukkan adanya peningkatan, khususnya pada aspek literasi. Ini menjadi sinyal positif bahwa upaya perbaikan mulai menunjukkan hasil. Namun demikian, pada PISA 2022 Indonesia masih berada di peringkat keenam di kawasan ASEAN, dengan skor total 1.108, di bawah Thailand (1.182) dan Malaysia (1.213).
Posisi ini memang naik beberapa tingkat dibanding sebelumnya, tetapi pekerjaan rumah masih besar, terutama dalam mempersiapkan generasi yang mampu bersaing pada PISA 2025.
Mengapa Partisipasi Semesta Menjadi Kunci?
Peningkatan capaian pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada guru atau sekolah semata. PISA sendiri mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan di kehidupan nyata. Artinya, proses belajar tidak berhenti di ruang kelas.
Lingkungan keluarga, dukungan dunia usaha, hingga ruang publik memiliki peran yang sama penting. Tanpa keterlibatan semua pihak, upaya peningkatan mutu pendidikan akan berjalan timpang.
Agenda Kolaborasi yang Mendesak
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan langkah bersama dari berbagai elemen:
Pemerintah perlu memastikan alokasi minimal 20 persen anggaran pendidikan benar-benar tepat sasaran, terutama untuk wilayah 3T, penguatan sarana digital, serta pelatihan guru berbasis data Rapor Pendidikan.
Orang tua memegang peran fundamental. Kebiasaan sederhana seperti membaca bersama selama 15 menit setiap hari terbukti memberi dampak signifikan terhadap peningkatan literasi anak.
Dunia usaha dan industri diharapkan memperluas program teaching factory dan magang terstruktur. Konsep link and match antara pendidikan dan dunia kerja tidak boleh berhenti sebagai wacana.
Komunitas dan media juga memiliki peran strategis dalam mengawal data sekaligus menyebarkan praktik baik. Dalam hal ini, Swara Pendidikan berkomitmen menjadi jembatan antara kebijakan dan realitas di lapangan.
Momentum Perubahan
Hardiknas 2026 sejatinya adalah sebuah alarm. Data sudah berbicara dengan jelas: tanpa partisipasi semesta, cita-cita menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua hanya akan menjadi angan.
Kini saatnya bergerak bersama. Sebab, satu anak Indonesia yang cerdas dan berkarakter adalah investasi terbaik bagi masa depan bangsa.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.
Eman Sutriadi
Pimpinan Umum Swara Pendidikan





















