“Pelangi Kerinduan”

by Redaksi
2 comments 491 Pembaca

Penulis : Dewi Maharani, S.Pd (Guru mapel Matematika, SMPN 3 Depok)

 

Setiap menusia dilahirkan bersih tanpa noda dosa sedikitpun, akan tetapi perjalanan hidup hampir sama dengan perjalanan di dunia pendidikan.

Perjalanan hidup pun tak selalu sama dengan rencana yang kita niatkan, adakalanya ujian melanda tanpa ada persiapan sebagai penerima ujian.

Jika disekolah kita belajar dahulu barulah peroleh ujian, namun dalam kehidupan kita peroleh ujian dahulu barulah kita belajar dari setiap ujian yang dihadapi.

Jika kita mampu kita menjalani ujian kita akan naik kelas sesuai dengan kadar ujian yang dihadapinya.

Masa ujian pun hadir saat pandemi menyapa diakhir tahun 2019 di Kota Wuhan. Tak di duga kini mendarat dan merembak di Negara Indonesia dan dibelahan dunia lainnya, yang pada akhirnya sekitar awal Maret diterapkannya lokdown bertahap perwilayah dikarenakan daerahnya semakin bertambah karena terkena virus Corona dan akhirnya diisolasi di rumah sakit. Makin hari makin meningkat, dan ini berdampak pada berbagai keadaan.

Virus Corona yang tak kasat mata ini merubah tatanan hidup didunia dari hal ekonomi,  pendidikan dan cara hidup manusia pun menjadi berubah, dan perubahan disegala bidang dipaksa untuk melakukan pembiasaan baru.

Pandemi ini membuat kita belajar banyak hal, pandemi ini adalah sekolah kehidupan. Mengajak semua individu untuk memperbaiki pembiasaan hidup. Mulai dari membiasakan diri untuk cuci tangan, perbaiki pola makan, pola hidup sehat dan menjaga jarak agar saling menjaga satu sama lain tidak saling menularkan, serta tetap menjaga iman dan imun, perbanyak olah raga dan sering berjemur pun menjadi pilihan.

Pandemi berlangsung di Indonesia sekitar awal Februari lalu mulai melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diterapkan secara bertahap di tiap wilayah, mulai dari rt, rw, kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi bahkan akhirnya sentral intruksi dari Pusat pemerintahan.

Jam malam pun diberlakukan, tidak ada kumpul-kumpul diatas jam 18.00. Semua kegiatan dilakukan dirumah dikenal dengan sebutan WFH (Work From House) acara keramaian pun ditiadakan. Semua hal dilakukan dari rumah.

Pembiasaan baru ini tidak semua orang mampu menjalani dengan baik dan mampu menerima dengan lapang, karena keterbatasan gerak yang pada akhirnya banyak memilih untuk bercocok tanam dipekarangan rumah yang ala kadarnya agar mampu mengusir penat yang berbulan bulan dilakukan segala sesuatunya dari rumah.

 

Hingga akhirnya sekitar Juli diterapkan New Normal, disinilah awal aktifitas baru dengan perangkat yang bawa di tas pun cukup lengkap dari mulai hand sanitezer, disinfektan, tisu basah, sabun, tisu kering, dan masker yang kemanapun harus dipakai menjadi hal yang harus dijalankan agar tetap bisa beraktifitas dengan menjalankan protokol kesehatan dimasa new normal.

Hari terus berlalu mendidik hati yang semakin merindu, namun bayangan selalu terlintas tiap saat untuk saling jumpa. Kembali menatap ruang kelas yang kosong. Hanya ada kursi, meja dan papan tulis.

Kesabaran menjadi pedang yang amat tajam untuk menahan tajamnya kerinduan yang semakin memuncak, hingga akhirnya ditemukan kesempatan kehadiran para siswa untuk memulai kembali kegiatan belajar dengan menerapkan protokol kesehatan, berjalan hingga sampai 1 bulanan maka kebijakan penghentian kegiatan belajar pun kembali diberlakukan, anak-anak kembali dirumahkan. Tangis haru pun pecah tak tertahankan karena memang harapan yang sama untuk saling jumpa

Ada kerinduan yang tak terbendung dan sulit dialirkan, ada maksud hati ingin menyapa namun tak ada celah untuk menyapa, ada kesempatan bagi pengajar lain tapi tidak begitu yang dirasakan oleh  salah seorang guru.

Ia belum memperoleh kesempatan jumpa dengan muridnya, padahal disekolah terfasilitasi Youtube dan Zoom. Ada rasa rindu menggelayut akan tetapi hal ini tidak setiap guru peroleh kesempatan untuk gunakan media ini.

Disalah satu sekolah, ada satu guru, sebut saja bu Susi, tidak peroleh kesempatan yang sama seperti yang lain untuk menyampaikan materi yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah, ia pun hanya bisa berdoa agar pandemi ini segera berakhir. Hingga akhirnya anak-anak bisa datang kesekolah kembali.

Mungkin dengan adanya pembelajaran offline kesempatan untuk ibu Susi dapat menyampaikan materi kembali seperti biasanya. Dilema yang dialami sangat menjadi polemik diri seorang guru yang pada dasarnya memiliki hak yang sama dalam memberikan kegiatan belajar mengajar. Namun bu Susi menjalankan apa yang menjadi kebijakan walau sebenarnya memiliki kemampuan yang sama dengan rekan yang lain, dan mencoba untuk tetap ikhlas dan berdoa moga suatu ketika dipertemukan oleh anak-anak murid tercinta dengan cara yang ALLAH SWT ridhoi, namun itulah yang dijumpai dilapangan.

Akhirnya ada suatu kesempatan untuk membuat pembelajaran YouTube walau recording tanpa tampil wajah, namun bu Susi berusaha tetap tampilkan yang terbaik.

Kesempatan lainnya pertemuan via zoom beberapa hari.  Sujud syukur kepada ALLAH SWT telah menjawab doanya untuk jumpa dengan anak-anak muridnya.  Disekolah lain dihadapkan seorang guru yang pada akhirnya terkena virus Corona dan harus isolasi mandiri dirumah namun harus tetap menjalankan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dari rumah.

Fakta lainya beberapa guru yang harus bergantian handphone dan laptop dengan anaknya yang memang sedang menjalankan kegiatan belajar dari rumah juga.

Pada kesempatan yang ada disekolah-sekolah, beberapa guru menyampaikan via aplikasi zoom,  Google meet,  e-learning bahkan YouTube menjadi sarana menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik.

Dalam penyampaian satu materi guru pun harus lembur beberapa malam dan persiapan beberapa hari sebelumnya agar tampilan materi pembelajaran menarik dan  mudah dipahami dari jauh dan dapat diterima dengan baik.

Kreatifitas guru pun dituntut seketika memuncak yang pada awalnya perlahan lalu mengalami percepatan agar bisa tersampaikan materi secara efektif dengan media yang guru pilih.

Kisah lain guru harus mempersiapkan banyak perangkat atau media pembelajaran guna mencapai hasil karya yang mampu diterima siswa, yang pada dasarnya siswa tidak hanya ada yang di dalam kota namun ada yang berada di luar daerah. Signal pada saat menyampaikan materi adalah dramatisasi yang hadir saat penyampaian materi.

Kisah lain pun dialami oleh beberapa peserta didik yang memiliki beragam kendala, harus bergantian handphone dan laptop dengan kakak atau adiknya. Akhirnya salah satunya ditiap harinya ada yang harus mengalah bergantian untuk mengumpulkan tugas lebih dahulu, yang pasti harus kumpulkan tugas dengan mnyampaikan kendala pada guru masing masing.

Cerita lain ditemukan seorang anak dan ayah harus bergantian handphone saat ayahnya akan berangkat kerja karena ayah seorang ojek online yang sangat bergantung dengan handphone  sebagai alat komunikasi untuk memperoleh pemumpang atau pemesan.

Sebagian siswa dalam hal ini juga alami kesulitan dikarenakan terkendala fasilitas yang belum memadai dan kendala signal arena tempat tinggal  yang sulit terkait signal.

Seperti contoh Andi tak seberuntung siswa yang lainnya, ia meminjam handphone sebelum ayahnya berangkat. Karena sebagai ojek online,  handphone ayahnya dipakai namun setelah ayahnya akan berangkat dan Andi harus menyerahkannya walau proses belajar belum Usai.

Kendala lain Toni yang tidak bisa mengikuti PJJ dalam waktu yang cukup lama karena tidak memiliki handphone, sebab orang tuanya hanyalah seorang pemulung. Untuk bisa membelikan handphone buat anaknya, ayahnya Andi harus banting tulang dulu mengumpulkan uang agar bisa membelikan Andi sebuah handphone untuk bisa mengikuti PJJ.

 

Ujian kehidupan ini memang berat untuk dijalani oleh remaja masa kini yang selalu berkumpul dengan teman dibanding dengan keluarga. Akan tetapi keadaan mengajak agar diri remaja ini menjadikan keluarga sebagai hal yang utama dalam menciptakan kebersamaan selain bersama teman. Tantangan lainnya adalah mengatasi kesabaran agar tetap berada dirumah untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dari rumah melalui handphone atau laptop, sedikit gambaran saat siswa menjalankan aktifitas belajar dirumah drama saat awal 10 menit pertama mungkin masih duduk manis dan konsentrasi, selanjutnya mulai berpangku tangan, sedikit miring duduknya dan akhirnya blas tertidur saat menyimak materi, hingga saatnya tugas tiba akhirnya telat untuk kumpulkan tugas. Itu yang dialami sebagian siswa.

Namun tidak sedikit siswa juga yang mampu konsentrasi hingga akhir. Kendala signal menjadi hal yang biasa terjadi dan berusaha harus segera diatasi, namun sebagian yang lain ada siswa yang berusaha dengan susah payah untuk sekedar beli kuota harus menjual terlebih dahulu agar biasa terbeli kuota untuk persiapan pembelajaran selanjutnya.

Kerinduan terhadap guru pun menjadi pandangan yang mengharukan, ada sedikit kisah saat guru bersiap untuk tidur, tiba-tiba telpon berdering. Ada yang dikenali nomornya, ada juga beberapa nomor asing.

Awalnya hanya ada lima nomor, ternyata malam itu di jam 23.00 wib, guru tersebut ditelpon oleh beberapa muridnya melalui teleconference.

Ada 12 siswa bersamaan untuk melepaskan rasa rindu, setelah salam dari anak-anak spontan yang mereka sampaikan adalah  “ibu kangeeeeeennnn”, pecahlah rasa haru dan bahagia, larut dalam perbincangan untuk melepas rindu yang sudah tak terbendung.

Mengajar tak hanya sekedar menyampaikan materi, namun lebih dari itu. Menyampaikan rasa cinta,  kasih sayang, perhatian bahkan tauladan.

Saat pandemi menyapa negeri, seketika kami terpisahkan, hanya sarana IT yg mampu mempertemukan, namun kedekatan hati kami akan selalu jumpa dalam doa yang tak akan pernah usai tuk dilantunkan dan berharap agar pandemi ini berakhir,  hingga kami mampu kembali saling menatap cahaya mata yang berbinar, menebar senyuman yang selalu terpancar.

Seiring dengan itu,  kebersamaan anak dengan orang tuapun meningkat. Semua aktivitas sekolah dilakukan dari rumah, moga kami para murid mampu memaknai arti berbakti dan berbudi kepada orang tua dan guru.

Anak-anakku, kalian adalah generasi hebat yang tetap semangat dan ikhlas menjalani semua ujian ini, bersama kita bisa melalui pandemi ini.

Guru……

tetaplah menjadi pelita saat aku kegelapan dalam kehidupanku..

tetaplah menjadi pelangi yang mampu hiasi jiwa yang sedang mendung menjadi cerah kembali..

tetaplah menjadi air saat aku hadapi dahaga ilmu yang selalu menyirami nurani ini..

tetaplah menjadi bintang walau jauh namun tetap hiasi hati ini dan jiwa ku..

 Muridku…..

Engkau semua adalah Pelangi Kerinduanku

Izinkanlah aku memeluk kalian dalam doa yang kupanjatkan

Tetaolah bersinar didalam hati ini…

 

PROFIL PENULIS :

Dewi Maharani, S.Pd. Lahir di Bekasi 11 Agustus, Guru Motivator Literasi 2021 dengan Motto : “Mengeluh Mematikan Motivasi” penulis dapat di hubungi melalui instragram @maharani_ramoni dan Yt:Dewi Maharani Alya,

Penulis telah menerbitkan 13 buku Antologi Cerpen dan 2 Antologi Puisi.

Alumni Universitas Negeri Jakarta, Jurusan Pendidikan Matematika.

Penulis adalah  ibu dua putri yang berusia 6 dan 3 tahun, bertugas sebagai guru di SMPN 3 Kota Depok Jawa Barat.

Penulis sedang mencoba menggoreskan makna hidup dengan menuliskan tinta cinta kehidupan, moga menuai manfaat berbagai pihak dan para pencinta pena dan menebar kebaikan dimasa mendatang tentunya.

Menulislah karena itu adalah menanamkan kebaikan meskipun diri kita telah tiada, karena menulis adalah salah satu cara dakwah melalui pena. Moga bisa menjadi Penulis yang bermanfaat untuk orang banyak karena kita tidak pernah tahu rekam jejak kebaikan yang mana yang bisa memudahkan diri kita menuju SyurgaNYA.

Tinggalkan Pesan

2 comments

Anonymous 22/01/2022 - 8:21 pm

Barakallah, Bu Guru

Reply
Anonymous 22/01/2022 - 8:21 pm

Barakallah Bu Guru, salam sayang dari Roza

Reply

Baca juga