Fenomena menurunnya sikap hormat peserta didik kepada guru menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan saat ini. Jika dahulu guru dipandang sebagai sosok yang dihormati dan dijadikan teladan utama setelah orang tua, kini di sejumlah sekolah mulai muncul perilaku yang menunjukkan berkurangnya adab. Mulai dari berbicara kasar, tidak memperhatikan saat pembelajaran, hingga berani membantah tanpa etika.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi dengan moral peserta didik?
Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab menurunnya sikap hormat tersebut.
Pertama, adanya pergeseran nilai dalam lingkungan sosial. Moral peserta didik tidak terbentuk secara instan di sekolah, melainkan melalui interaksi di keluarga, masyarakat, dan media. Ketika nilai kesopanan, adab, dan penghormatan tidak lagi menjadi prioritas, anak kehilangan rujukan moral yang kuat.
Di era digital, peserta didik juga terpapar berbagai konten yang tidak selalu mencerminkan sikap hormat terhadap otoritas. Figur publik yang tampil bebas tanpa batas sering kali dijadikan panutan, sehingga standar perilaku pun ikut bergeser.
Kedua, lemahnya pendidikan karakter di sekolah. Sistem pendidikan yang terlalu menekankan aspek akademik tanpa diimbangi pembentukan karakter berpotensi melahirkan siswa yang cerdas secara intelektual, namun lemah dalam akhlak. Padahal, tujuan pendidikan tidak hanya mencetak siswa pintar, tetapi juga beradab. Nilai-nilai seperti hormat kepada guru, disiplin, tanggung jawab, dan empati perlu diajarkan secara konsisten melalui pembiasaan, bukan sekadar teori.
Faktor lain adalah kurangnya keteladanan dari lingkungan sekitar. Peserta didik cenderung meniru apa yang mereka lihat. Jika di rumah maupun di sekolah mereka tidak menemukan contoh sikap saling menghargai, maka akan sulit bagi mereka untuk mempraktikkannya. Dalam hal ini, peran orang tua, guru, dan masyarakat menjadi sangat penting sebagai teladan.
Selain itu, pola asuh yang kurang tepat juga turut berpengaruh. Pola asuh yang terlalu permisif dapat membuat anak kurang menghargai aturan, sementara pola asuh yang terlalu otoriter tanpa ruang dialog dapat memicu pemberontakan terhadap figur otoritas. Oleh karena itu, diperlukan pola asuh yang seimbang—tegas namun penuh kasih.
Di sisi lain, menurunnya wibawa guru juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Wibawa bukan berarti menakutkan, melainkan dihormati karena integritas, kompetensi, dan kepribadian. Ketika guru kesulitan membangun hubungan yang baik dengan siswa atau kurang menunjukkan profesionalisme, wibawa tersebut dapat berkurang. Namun demikian, penting dipahami bahwa hilangnya rasa hormat tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru, melainkan merupakan hasil dari sistem sosial yang lebih luas.
Menurunnya rasa hormat peserta didik berdampak serius, tidak hanya pada proses pembelajaran, tetapi juga pada pembentukan karakter jangka panjang. Dampak tersebut antara lain menurunnya kualitas pembelajaran, hilangnya keberkahan ilmu, terbentuknya karakter yang kurang baik di masyarakat, serta lemahnya etika dalam kehidupan sosial dan profesional.
Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan langkah bersama dari berbagai pihak. Penguatan pendidikan karakter di sekolah menjadi salah satu solusi utama. Nilai-nilai adab, seperti budaya salam, sopan santun dalam berbicara, dan penghormatan kepada guru, perlu diintegrasikan dalam aktivitas sehari-hari.
Selain itu, sinergi antara sekolah dan orang tua harus diperkuat. Komunikasi yang intens, termasuk melalui media seperti buku penghubung siswa, dapat membantu memantau dan membentuk perkembangan moral anak secara bersama.
Keteladanan yang konsisten juga menjadi kunci. Guru sebagai figur pendidik harus mampu menjadi role model dalam sikap, ucapan, dan tindakan. Hal ini sejalan dengan filosofi Jawa, “guru digugu dan ditiru,” yang menegaskan pentingnya peran guru sebagai teladan utama.
Pendekatan humanis juga perlu diterapkan dalam proses pendidikan. Peserta didik harus dipahami sebagai individu yang sedang bertumbuh. Pendekatan yang empatik, komunikasi terbuka, serta penghargaan terhadap siswa akan membantu membangun rasa hormat secara alami.
Di samping itu, penegakan aturan yang tegas dan adil tetap diperlukan. Disiplin yang konsisten akan membantu siswa memahami batasan perilaku yang dapat diterima.
Permasalahan menurunnya rasa hormat peserta didik bukanlah isu sederhana. Dibutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mengembalikan nilai-nilai adab dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia. (**)




