Kalau berbicara terkait anak. Anak adalah seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang belum mencapai tahap matang usia dewasa secara fisik maupun mental.
Seseorang disebut anak apabila dia berusia mulai dalam kandungan hingga mencapai akil baligh atau dibawah usia 18 tahun. Seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Hadits Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah/suci. Orang tuanya lah yang berperan membentuk akidah anak. Hadits ini menegaskan tanggung jawab besar orang tua dalam pendidikan anak baik pendidikan agama maupun kehidupan,
Maka itu seorang anak selalu menjadi peniru ulung dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Anak dibawah usia 18 tahun masih tahap passing dan baru tahap pemahaman, belum punya logika yang sempurna.
Sikap anak tergantung kualitas pengasuhan
Sikap, perilaku, dan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh kualitas pengasuhan , dimana pola asuh demokratis yang penuh kasih sayang , konsisten, dan komunikatif cenderung membentuk karakter positif. Sebaliknya, pola asuh permisif atau abai berpotensi menghasilkan anak yang kurang mandiri dan bermasalah. Orang tua atau orang dewasa disekitarnya adalah model utama bagi anak.
Apakah yang berperilaku salah satunya sering di -bully, dan lain-lain apakah ada hubungannya dengan pengasuhan?
Ada sesuatu yang terjadi pada kita sebagai orang dewasa saat melihat anak pulang sekolah dengan pakaian kotor, kebanyakan dari kita sebagai orang tua memarahi anak karena pulang ke rumah dalam keadaan lusuh. “Kenapa bajunya kotor?pasti main di luar ya?”
Atau, “Di sekolah belajar apa sampai bajunya kotor begini?”
Apa yang terjadi? Secara tidak langsung kita memberikan hukuman berupa kalimat-kalimat tersebut kepada anak. Mengapa dikatakan hukuman? Karena kita belum tahu akar permasalahannya. Belum bertanya kenapa bajunya kotor.
Kita sudah memberikan kalimat interogatif sebagai bentuk hukuman verbal. Dan akhirnya, rontoklah sinapsis-sinapsis anak. Karena apa? Ini dikarenakan akibat salah pengasuhan.
Sikap buruk orang tua akan menjadi pemicu sikap negatif
- Penolakan [Rejecting}: Tindakan penolakan terhadap anak
Kita dulu pernah direndahkan martabatnya. Pernah ditolak keberadaannya. “Kamu tidak seperti temanmu.” Dia mengerjakan Matematika saja bisa, kenapa kamu tidak?” Atau “kamu itu bisanya apa sih?” dan sebagainya. Kita sering dibandingkan dengan orang lain mengenai kecerdasan.
Padahal setiap anak membawa kecerdasan masing-masing. Mungkin kecerdasan kita bukan pada kecerdasan logic matematic mungkin memiliki kecerdasan linguistik {pandai berpuisi} tetapi kita dibandingkan dengan teman kita yang cerdas matematik.
- Pengabaian {ignoring}
Seperti halnya penolakan, jika anak sudah pernah ditolak, dalam konteks kebaikan, anak mendapatkan kalimat-kalimat interogatif yang konotasinya negatif, kemungkinan kita dulu juga mengalami hal tersebut.
Contoh yang terjadi pada anak kita:
Anak: “Bu, bukuku dimana?’
Orangtua: siapa yang sekolah, siapa yang belajar, kenapa tanya ke ibu?coba cari sendiri!”
Dialog diatas menunjukan pengabaian. Anak merasa diabaikan.lalu bagaimana supaya tidak diabaikan? Kita sebagai orang tua atau orang dewasa harus bisa menjadikan diri kita sebagai seseorang yang bisa dilihat oleh anak.
“oh, kalau kita melakukan hal-hal negatif seperti ini, anak akan melihat dan bisa jadi akan meniru kedepannya”. Karena anak adalah peniru ulung,
- Teror {Terrorizing}
Orang tua pemarah dan selalu mengkritik tidak proporsional. Anak selalu dimarahi, dikritik, diberikan instruksi-instruksi tanpa diberikan hak untuk berpendapat.
Kalau dalam ruang lingkup sekolah ramah anak ada hak-hak anak yang yang harus dipenuhi diantaranya adalah hak partisipasi anak.
Maka hak partisipasi atau berpendapat inilah yang selalu dinantikan oleh anak-anak kita.kenapa? karena bagi anak, hak berpendapat adalah hal yang mendasar sekaligus melatih kebenaranian dirinya dalam menyampaikan pikirannya.
- Isolasi { Isolatong}
Salah satunya adalah orang tua yang melarang anaknya bersosialisasi dengan teman-temannya. Anak dilarang bergaul dengan temannya yang suka berbicara kotor. Artinya, orang tua membatasi anaknya bergaul dengan temannya. Dan akhirnya ia dikumpulkan dengan anak-anak yang baik.
Sebenarnya, kalau misal kita berada di komunitas yang baik terus, mengajarkan anak selalu di komunitas yang baik, bagaimana jika di suatu satat kita melepas anak ini dan kemudian dia tidak paham bahwa semua perilaku itu berdampak atas semua aktivitasnya sendiri. Oleh sebab itu, jangan melakukan isolasi. Hablumminannas [interaksi sosial sesama manusia] wajib kita ajarkan pada anak. Bahwa anak dibebaskan bermain dengan siapapuntanpa memandang orang itu bagaimana. Tetapi, di dalam menerapkan dia harus memilah dan memilih perilaku mana yang baik dan yang buruk.
Itulah yang kita kuatkan melalui sebuah pendekatan, melalui sebuah pemahaman, pengertian. Sehingga anak ini tahu bahwa perilaku yang ini baoik dan yang itu tidak baik. Ajarkan anak perilaku yang baik dengan memberikan contoh mana yang baik dan mana yang tidak baik dan itu bisa dilakukan di mulai dari lingkungan keluarga. (**)




