Swara Pendidikan (Pancoran Mas, Depok) — Setelah tujuh tahun mengabdi sebagai tenaga honorer, perjuangan Candrayanti, S.Pd. (28), guru kelas 2 di SDN Depok Baru 2, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, akhirnya berbuah manis. Ia resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu oleh Pemerintah Kota Depok pada akhir Desember 2025.
Candrayanti merupakan warga asli Depok. Selain berprofesi sebagai guru, ia juga seorang istri dan ibu dari satu orang anak perempuan. Keputusannya menekuni dunia pendidikan tidak terlepas dari dorongan orang tua.
“Alasan saya menjadi guru karena dorongan orang tua. Profesi guru memiliki jenjang karier yang panjang hingga usia pensiun 60 tahun. Bagi perempuan yang juga berperan sebagai ibu, waktunya relatif lebih seimbang, apalagi rumah saya tidak jauh dari sekolah,” ujarnya saat ditemui jurnalis Swara Pendidikan, Senin (12/1/2026).
Karier Candrayanti di dunia pendidikan dimulai pada 2018 sebagai operator sekolah di SDN Depok Baru 2 ketika masih menjalani perkuliahan. Pada periode 2018–2020, ia bertugas sebagai operator sekolah. Pada pertengahan 2020, ia dipercaya menjadi guru kelas 3 menggantikan guru yang meninggal dunia. Jabatan tersebut diembannya hingga 2023, sebelum akhirnya mengajar sebagai guru kelas 2 hingga saat ini.
Selama masa pengabdian, Candrayanti mengalami berbagai dinamika, mulai dari tiga kali merger sekolah hingga empat kali pergantian kepala sekolah. Status kepegawaiannya pun mengalami perubahan, dari honorer APBN, kemudian tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sebagai honorer APBD.
“Awalnya kami sering bertanya-tanya, sampai kapan akan menjadi honorer. Tidak mungkin selamanya berada di posisi itu. Alhamdulillah, setelah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama satu tahun, akhirnya saya diangkat menjadi PPPK paruh waktu,” tuturnya.
Meski telah dilantik, Candrayanti mengaku masih menunggu Surat Keputusan (SK) pengangkatan karena jumlah PPPK yang dilantik cukup banyak se-Kota Depok. Kendati demikian, ia merasa bersyukur atas kepastian status yang diterimanya.
“Rasanya senang dan lega. Akhirnya ada kepastian jenjang karier. Ini menjadi penyemangat untuk bekerja lebih giat dan bertanggung jawab, karena status kami sudah menjadi pegawai negara, meski masih paruh waktu,” katanya.
Ia juga mengenang momen pelantikan yang berlangsung di tengah hujan sebagai pengalaman yang tak terlupakan. “Teman-teman sangat senang. Walaupun saat pelantikan kami kehujanan, itu menjadi kenangan tersendiri,” ujarnya.
Saat ini, Candrayanti mengaku masih fokus mengabdikan diri sebagai guru dan belum terpikir untuk menduduki jabatan struktural seperti kepala sekolah. Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Depok atas kebijakan pengangkatan PPPK paruh waktu.
“Terima kasih kepada Pemkot Depok yang telah mengangkat kami semua menjadi PPPK paruh waktu, tidak hanya guru, tetapi juga tenaga kebersihan dan lainnya. Saya masih muda, insyaallah jalan masih panjang. Ada juga rekan-rekan yang usianya sudah mendekati pensiun, baru diangkat sekarang,” ungkapnya.
Ke depan, Candrayanti berharap adanya penyetaraan gaji serta peningkatan status menjadi PPPK penuh waktu. Ia juga memberikan semangat kepada rekan-rekan honorer yang belum diangkat.
“Terus bersabar dan bekerja dengan ikhlas. Semua ada proses dan waktunya,” pesannya.
Bagi Candrayanti, kebahagiaan menjadi guru tidak terletak pada jabatan atau status semata, melainkan pada perkembangan peserta didik.
“Melihat anak yang awalnya belum bisa membaca, lalu perlahan bisa, itu kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ujarnya.
Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah tetap mengajar meski tengah hamil besar, yang menuntut perjuangan ekstra karena harus bolak-balik antara rumah dan sekolah.
Ia juga menyoroti tantangan sebagai guru kelas rendah, khususnya dalam menghadapi siswa yang lambat menerima pembelajaran, terutama membaca. Untuk itu, ia membiasakan kegiatan literasi membaca sebelum dan sesudah pembelajaran.
“Namun, ini tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara guru dan orang tua agar anak-anak mendapatkan pendampingan yang optimal,” pungkasnya. (Amr)




