Siti Asiyah
Siswa kelas 12 MA YPPD, Siti Asiyah adalah sosok remaja yang tenang namun penuh makna. Di balik ketekunannya menimba ilmu, ia memendam cinta yang dalam terhadap dunia sastra, terutama puisi. Bagi Asiyah, puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cara hati bicara — tentang harapan, luka, cinta, dan cita. Dengan pena di tangan dan jiwa yang lembut, ia merangkai kata-kata menjadi keindahan yang menginspirasi. Berikut ini dua puisi nya yang sarat makna:
Kompas yang Patah
Ayah, kau pergi tanpa jejak
hanya angin yang tahu ke mana kau berlayar
Sedang aku, anak kecil di peta retak
mengukur dunia dengan langkah yang salah arah
Dulu suaramu seperti jangkar
yang menahan gelombang dari menyentuh dadaku.
Kini laut tenang pun terasa bising,
karena aku mendayung sendirian,
tanpa tahu ke mana pulang itu mengarah.
Langit masih biru, katanya,
tapi biru tak pernah lagi sama tanpamu.
Di mataku, biru adalah sunyi
yang tak lagi bisa kuartikan.
Aku belajar membaca bintang
seperti yang kau ajarkan saat petang menggigil.
Tapi semua cahaya menipu,
tak satu pun menunjuk ke tempatmu berdiri.
Aku menanam doa dalam tanah yang kering,
meminta kompas yang bisa menuntun
bukan ke utara,
tapi ke pundak tempat dulu aku bisa bersandar.
Depok, 24 April 2025.
Lahir di Tikungan
Aku lahir bukan di jalan
tapi di tikungan yang tak punya ujung
Langkah pertamaku bukan ke depan
tapi ke samping—menghindari bayangan sendiri
Dari kecil aku diajari cara bertahan
bukan cara bermimpi
Mereka bilang: “Jangan lihat bintang, nanti kau tersandung batu”
Dan aku pun tumbuh
seperti rumput yang memaksa hidup di sela aspal.
Tak indah
tapi keras kepala
Setiap keputusan adalah pelarian
bukan tujuan
Setiap doa terdengar seperti pengakuan bersalah,
yang tak tahu salahnya apa
Aku sering iri pada mereka
yang lahir di peta yang lengkap
dengan jalan-jalan yang punya nama
dan arah mata angin yang memihak.
Sementara aku?
Menebak arah dari bau angin
dan berjalan diam-diam
agar tak ada yang sadar aku tersesat sejak lama
Depok, 24 April 2025.



