Beberapa waktu lalu, saya menerima hadiah kiriman dari Umi Rissa Churria–sebuah paket yang datang lewat jasa Wahana. Di dalamnya, terselip sebuah buku tipis namun berjiwa luas: Larung Murung, sebuah kitab puisi yang ia tulis dengan kedalaman rasa. Buku ini diberi pengantar oleh Bang Riri Satria, seorang yang juga merawat dunia kata. Saya mencoba membacanya perlahan, seperti menziarahi labirin kata-kata yang sunyi, getir, sekaligus lembut dalam buku ini. Dan inilah hasil pembacaan saya–dari ruang batin yang mencoba mengerti.
Ada puisi yang lahir dari kemarahan, ada yang tumbuh dari cinta. Tapi ada pula puisi-puisi yang lahir dari diam yang sangat panjang. Diam seperti tirakat, sunyi seperti telaga tua di kaki gunung. Dan dari sunyi itulah, kitab puisi Larung Murung karya Umi Rissa Churria ini dilahirkan.
Buku ini bukan sekadar menyelami ulang epos Mahabharata dan Ramayana dari sisi lain, tetapi menjadikannya ruang batin yang baru: sebagai rumah pulang bagi emosi manusia modern yang letih, cinta yang tertunda, dan luka yang tak kunjung sembuh. Tokoh-tokoh besar seperti Harjuna, Kunti, Drupadi, Sembadra, bahkan Kamajaya dan Sinta, tampil bukan sebagai sosok gagah perkasa, tetapi sebagai jiwa-jiwa rapuh yang sedang menggenggam sunyi, dan mencoba memahami cinta dalam senyap yang panjang.
Puisi-puisi dalam Larung Murung tidak dibangun oleh narasi besar, tetapi oleh detak-detak lembut pengalaman spiritual dan emosi personal. Judul-judul seperti Menangis di Pangkuan Ibu Kunti, Sumpah Drupadi, Benih dalam Cupumanik, Harumkan Jiwamu Kekasih, atau Pecahan Cahaya Menjelma Supraba menjadi jendela-jendela kecil yang membuka kita pada cinta yang tidak hanya romantik, tapi juga spiritual, menyucikan, menyembuhkan, bahkan mematahkan ego.
Ada nada mistik yang merayap di setiap bait. Dalam puisi seperti Mahardika Harjuna di Cempalaraga, kita temukan Harjuna bukan sebagai pemanah Kurukshetra, tetapi sebagai peziarah batin yang harus mengalahkan dirinya sendiri sebelum melawan siapa pun di dunia luar. Ini bukan lagi heroisme maskulin, melainkan spiritualitas hening–yang meluruhkan gengsi dan mengasuh jiwa.
Buku ini juga memberi ruang penting bagi tokoh-tokoh perempuan yang selama ini hanya disebut dalam bayang: Kunti yang berserah dalam doa, Drupadi yang menyimpan bara dalam sabda, Sembadra yang menjadi cahaya lembut di kamar malam Harjuna, dan Sinta yang tinggal sebagai bisik kekal di dada Rama. Di tangan penyair, mereka bukan hanya tokoh, melainkan roh yang hidup dalam puisi–perempuan yang diam-diam menyimpan semesta dalam dada mereka.
Bahasa yang digunakan pun melampaui batas zaman. Penyair mengolah kata Jawa, Sansekerta, dan bahasa Indonesia kontemporer menjadi adonan yang puitis sekaligus sakral. Kata-kata seperti bawulang, tirakat, kamajaya, cupumanik, budisrawa berpendar bersama larik-larik yang tenang namun menggetarkan. Tak perlu bait panjang, bahkan satu larik saja sering kali cukup untuk membuat pembaca diam dan merenung, seperti berdiri di tepi sumur kenangan.
Struktur bukunya seperti perjalanan spiritual. Dimulai dari Wanamarta, hutan batin Harjuna, lalu naik menuju Kamajaya, Cupumanik, hingga akhirnya sampai pada bait-bait yang sunyi dan personal seperti Membasuh Kakitibu Kunti, Lelana, Kembali dalam Bilik Cinta, hingga Perjalanan Cahaya. Seolah-olah pembaca diajak berjalan naik ke gunung batin, lalu kembali turun sebagai manusia yang telah lebih lapang mencintai.
Inilah yang menjadi kekuatan utama Larung Murung–ia tidak hadir untuk menjelaskan. Ia hanya ingin menemani. Ia duduk diam di sebelah kita, seperti teman lama, lalu berbisik perlahan:
“Kadang, cinta tidak perlu dipahami. Ia cukup dirasa–seperti angin di kebun sunyi.”
Dalam Hening, Cinta Itu Tetap Bernapas
Ada cinta yang tidak ingin dikenang, tapi terus hidup dalam detak jantung kata.
Ada luka yang tidak pernah disebut, tapi menyala diam-diam dalam sajak.
Dan ada perempuan–yang disebut Sembadra, Kunti, Drupadi–yang tidak sedang berdiri di panggung,
tetapi bersembunyi di halaman paling sunyi,
menunggu kita membaca mereka dengan hati yang lembut.
Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi. Ia seperti bisikan ibu dari balik tirai waktu.
Ia seperti mata seorang kekasih yang tak sanggup berkata, tapi kita tahu–di sana ada perasaan yang tidak bisa dihapuskan.
Setiap puisi dalam Larung Murung adalah tirakat:
tirakat untuk mencintai tanpa memiliki
tirakat untuk memaafkan yang belum sempat meminta maaf
tirakat untuk memahami bahwa hidup bukan tentang menang atau kalah,
tetapi tentang pulang.
Dan barangkali, yang paling menyentuh dari semuanya adalah:
ketika cinta tidak lagi disebut, ia justru menjadi doa.
Doa yang tidak berisik,
doa yang tidak meminta balasan,
doa yang hanya ingin tetap tinggal,
meski dalam bentuk cahaya paling tipis di sudut dada.

Tentang Buku :
Judul: Larung Murung: Kitab Puisi
Penulis: Rissa Churria
Penerbit: TARESIA (Gerbang Literasi Nusantara)
ISBN: 978-623-89220-4-8
Desain Sampul & Tata Letak: Wahyu Bray Iskandar
Cetakan Pertama: Oktober 2024
Tebal: 92 halaman (14 x 21 cm)
Emi Suy, lahir di Magetan, Jawa Timur, Februari 1979. Namanya tercatat dalam Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2018). Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi, di antaranya Tirakat Padam Api, Trilogi Sunyi (Alarm Sunyi, Ayat Sunyi, Api Sunyi), dan Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami, serta buku esai Interval. Puisinya telah dimuat di berbagai media nasional dan mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan. Ia juga pendiri komunitas Jejak Langkah dan kini memilih jalan kepenulisan secara independen.




