Janji Seorang Anak adalah kisah tentang keteguhan hati seorang anak perempuan yang bertahan dalam kehilangan, penderitaan, dan ujian hidup.
Kisah ini bermula dari sebuah keluarga kecil yang menjalani hidup dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan. Keluarga itu terdiri atas seorang ayah, seorang ibu, dan dua orang anak. Anak pertama adalah seorang perempuan berusia sembilan tahun bernama Visha, sementara adiknya masih bayi laki-laki berusia enam bulan.
Hari-hari mereka dipenuhi tawa dan kasih sayang. Sang ayah dikenal sebagai sosok penyayang dan penuh perhatian, sedangkan sang ibu menjadi cahaya dalam rumah tanggaβmemberikan cinta tanpa batas kepada keluarganya. Kehangatan itu membuat rumah mereka selalu terasa hidup.
Namun kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama.
Suatu hari, sang ibu jatuh sakit. Penyakit yang dideritanya semakin parah hingga akhirnya ia mengembuskan napas terakhir. Kepergiannya mengubah segalanya. Rumah yang dahulu hangat kini terasa sunyi dan dipenuhi kepiluan. Dunia keluarga kecil itu seakan runtuh dalam sekejap.
Sang ayah, yang sangat mencintai istrinya, tak mampu menerima kenyataan pahit tersebut. Kesedihan mendalam perlahan berubah menjadi depresi yang menguasai dirinya. Hari demi hari, luka kehilangan itu menggerogoti jiwanya.
Perlahan pula sifat sang ayah berubah. Sosok yang dulu lembut kini menjadi keras dan mudah tersulut emosi. Bentakan menjadi hal biasa, bahkan pukulan tak jarang menghampiri anak-anaknya. Pipi dan rambut Visha sering menjadi sasaran kemarahan sang ayah yang tak terkendali.
Namun di balik semua penderitaan itu, tersimpan kisah yang begitu mengharukan.
Visha, anak perempuan berusia sembilan tahun, tetap bertahan. Dalam hatinya terpatri sebuah janji yang pernah ia ucapkan di hadapan ibunya sebelum sang ibu menghembuskan napas terakhir: menjaga ayah dan adiknya, apa pun yang terjadi. Meski masih sangat kecil, Visha memikul tanggung jawab yang terlalu berat untuk seusianya.
Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa mengeluh, menuruti setiap perintah ayahnya, dan merawat adiknya dengan penuh kasih sayang. Ia menjadi ibu bagi adiknya, sekaligus penyangga bagi ayahnya yang rapuh. Sosok Visha adalah gambaran seorang anak yang kuat, sabar, dan penuh pengorbanan.
Di tengah penderitaannya, Visha tidak pernah melupakan Tuhan. Pendidikan agama yang ditanamkan sang ibu melekat kuat dalam hatinya. Ia meyakini bahwa semua yang terjadi adalah takdir Tuhan, dan setiap ujian pasti menyimpan hikmah. Doa menjadi tempatnya bersandar ketika dunia terasa begitu kejam.
Sang ibu memang telah tiada, namun nilai-nilai kebaikan yang ia tanamkan tetap hidup dalam diri Visha. Meski sang ibu belum sempat melihat buah dari didikannya, ajaran itu tumbuh menjadi kekuatan yang luar biasa dalam diri seorang anak kecil.
Kisah Visha adalah bukti bahwa cinta, kesabaran, dan iman mampu membuat seseorang bertahan, bahkan dalam penderitaan terdalam.
Bersambung di Part 2β¦
Pesan Moral
- Kesabaran dan ketulusan hati mampu menguatkan seseorang dalam menghadapi ujian hidup.
- Pendidikan dan kasih sayang orang tua akan terus hidup dalam diri anak, meski orang tua telah tiada.
- Iman kepada Tuhan menjadi sumber kekuatan terbesar dalam menghadapi penderitaan.





Perubahan karakter drastis pada seorang suami setelah ditinggal meninggal oleh istrinya, dari sabar menjadi kasar dan temperamental, sering kali merupakan manifestasi kompleks dari proses berduka dan stres emosional yang mendalam, beberapa hal penyebabnya:
Proses Berduka yang Rumit: Kehilangan pasangan hidup adalah salah satu pengalaman paling traumatis. Suami mungkin mengalami tahap berduka seperti penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Kemarahan dan sifat lekas marah bisa menjadi bagian dari ekspresi kesedihan yang sulit dikelola.
Ketidakmampuan Mengelola Emosi: Banyak orang kesulitan mengidentifikasi dan mengelola emosi mereka, terutama saat dilanda duka. Perasaan sedih, takut, dan kesepian yang luar biasa bisa tersalurkan menjadi kemarahan atau perilaku agresif karena kurangnya mekanisme koping (keterampilan mengatasi masalah) yang sehat.
Beban Tanggung Jawab Baru: Kepergian istri sering kali berarti suami harus mengambil alih peran dan tanggung jawab baru yang sebelumnya diemban oleh istrinya, seperti mengurus rumah tangga, mengasuh anak, atau mengelola keuangan. Beban ini dapat menimbulkan stres dan frustrasi yang signifikan, yang memicu sifat temperamental.
Penting untuk diingat bahwa setiap individu berduka secara berbeda. Perubahan perilaku ini sering kali bersifat sementara dan merupakan bagian dari adaptasi terhadap realitas baru tanpa kehadiran istri.
jika seorang anak kecil bernama Visha saja mampu mengolah emosinya, kenapa seorang ayah yang justru sudah dewasa malah terpuruk dalam keadaan yang negatif?
sebaiknya penulis mengkaji dari sisi psikology juga untuk melanjutkan di part selanjutnya supaya edukasinya sampai ke pembaca secara tuntas, demikian …
kereennnnn bang Amr… akan sejajar dengan J.s khairan kayaknya :) hehehe
Karakter yang muncul pada diri Visha merupakan buah pendidikan iman dan landasan cinta dari orangtuanya. Terlepas sang Ayah berubah karena tidak bisa menerima Qadha QadarNya, namun Ayah sempat hadir dalam pengasuhan. Itulah kekuatan iman yang diumpamakan akar yang menghujam ke tanah, kuat. Kemudian dia menumbuhkan buah yang manifestasinya berupa akhlaq, dan batang pohon yang merujuk pada Syari’ah (Qs. IBRAHIM 24-27)
Bismillah, karakter yang muncul pada diri Visha merupakan buah pendidikan iman dan landasan cinta dari orangtuanya. Terlepas sang Ayah berubah karena tidak bisa menerima Qadha QadarNya, namun Ayah sempat hadir dalam pengasuhan. Itulah kekuatan iman yang diumpamakan akar yang menghujam ke tanah, kuat. Kemudian dia menumbuhkan buah yang manifestasinya berupa akhlaq, dan batang pohon yang merujuk pada Syari’ah (Qs. IBRAHIM 24-27)
Bismillah, karakter yang muncul pada diri Visha merupakan buah pendidikan iman dan landasan cinta dari orangtuanya.
Bismillah, karakter yang muncul pada diri Visha merupakan buah pendidikan iman dan landasan cinta dari orangtuanya. Terlepas sang Ayah berubah karena tidak bisa menerima Qadha QadarNya, namun Ayah sempat hadir dalam pengasuhan. Itulah kekuatan iman yang diumpamakan akar yang menghujam ke tanah, kuat. Kemudian dia menumbuhkan buah yang manifestasinya berupa akhlaq, dan batang pohon yang merujuk pada Syari’ah (Qs. IBRAHIM 24-27)
aduh, ada segala bersambungnya?
Bismillah, ternyata sebegitunya the power of love dan pendidikan iman. Karakter yang terbentuk dari Visha bukan buah pendidikan yang sehari, dua hari, bulan dan setahun atau 2 tahunan. Landasan cinta dan pendidikan iman dari orangtua (almarhumah Ibunda) membekas di hati dan menguatkan jiwanya. Itulah kekuatan iman, membentuk karakter dengan akhlaq yang ahsan (baik).
Dalam Islam, Aqidah atau hal diimaninya layaknya akar yang menghujam ke tanah, dimana akhlaq menghasilkan buah yang bermanfaat dan batang merujuk pada Syari’ah (Qs. Ibrahim 24-27). (Rusfi: 2021:9)
Cerita yang sangat menarik dan menyentuh, bisa dijadikan motivasi untuk murid-murid.
Dan mengingatkan kepada murid untuk lebih bersyukur.
Luar biasa, sangat menyentuh. Cerita ini pas kalo diangkat ke layar kaca. Semoga ajah suatu saat ada produser FTV yang melirik dan menghidupkan kisah ini.
Cerita yang sangat menarik dan menyentuh, bisa dijadikan motivasi untuk murid-murid.
Dan mengingatkan kepada murid untuk lebih bersyukur.
Baru part 1 ceritanya sudah sanggar bagus..
Di tunggu kelanjutan part 2 nya..
Kerennnn aku suka
Aku jugaaaa, heheh..barakallah..
Semangat terus berkarya π
Karakter Visha luar biasa. Ditunggu cerita part selanjutnya π
Pengantar ceritanya bagus. Ditunggu part selanjutnya.
Ceritanya sangat menarim ditunggu part 2 nya yah
Keren ππ»π₯Ή kasian Si Visha
Di tunggu Part 2Nya jangan lama2 yaa