ADVERTISEMENT
  • BERITA UTAMA
    • NASIONAL
    • Internasional
    • KABAR DAERAH
    • METROPOLITAN
  • KABAR SEKOLAH
    • SMA
    • SMK
    • MA
    • SMP
    • MTS
    • SD
    • MI/DINIYAH
    • PAUD/TK
  • KABAR KAMPUS
  • KABAR PESANTREN
  • MENULIS
    • Artikel Guru
    • Artikel Dosen/Mahasiswa
    • Opini
  • TIPS EDU
  • EDU INFO
    • Klik Pendidikan
    • Info Pendidikan
    • Info Guru
  • INSPIRASI PENDIDIKAN
    • Inspirasi
  • JEJAK PRESTASI
  • E-PAPER
  • LAINNYA
    • Profil Sekolah
      • SMK
      • SMA
      • MA
      • SMP
      • MTS
      • SD
      • TK/PAUD
      • MI/DINIYAH
    • Ruang Sastra
      • Cerpen
      • Puisi
    • ULASAN BUKU
      • BAHAN AJAR
      • BUKU UMUM
    • SAPA WILAYAH
      • Kecamatan Beji
      • Kecamatan Bojongsari
      • Kecamatan Cilodong
      • Kecamatan Cimanggis
      • Kecamatan Cinere
      • Kecamatan Cipayung
      • Kecamatan Limo
      • Kecamatan Pancoran Mas
      • Kecamatan Sawangan
      • Kecamatan Sukmajaya
      • Kecamatan Tapos
    • WAWASAN PUBLIK
      • Parlemen
      • Pemerintahan
      • Peristiwa
      • Politik
      • Sosial
      • Suara Publik
      • Ekonomi & Bisnis
      • Infotaintment
      • Opini
Swara Pendidikan
Wednesday, March 11, 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Swara Pendidikan
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT

CERBUNG – KERAK TELOR SPESIAL (Bag. 1)

karya: Umie Poerwanti

by SWARA PENDIDIKAN
21 January 2026
in Ruang Sastra, Cerpen
0
CERBUNG – KERAK TELOR SPESIAL (Bag. 1)

Kerak telor (gambar AI)

        
Sobari tak pernah menang melawan titah emak. Maka sore itu, Vespa tuanya melaju ke warung kerak telor pengkolan—tanpa tahu, pesanan sederhana itu bakal berujung cerita.

“Iya, Maaaak!”
Sobari akhirnya mengangkat ponsel jadul dalam genggamannya yang sudah berdering lebih dari delapan kali.

“Hei, Bari! Lama banget sih angkat teleponnya? Ampe capek Emak nungguin,” suara di seberang sana langsung mencecar tanpa jeda. “Udah dapet pesenan Emak? Buruan dianter dong! Emak keburu ngantuk nungguinnya nih!”

Sobari cuma bisa pasrah mendengarkan omelan nyaring emak tercintanya via telepon genggam. Kepalanya terus manggut-manggut, wajahnya sedikit ditekuk menahan kesal.

“Pokoknya bawain Emak kerak telor pengkolan itu. Jangan beli tempat laen! Denger nggak lo, Bari?”

BACA JUGA

‎Aku Masih Mengajar

Cerpen – Janji yang Tuntas di Hadapan Surga (Part 4-Tamat)

Cerpen – Cahaya Setelah Luka (Part 3)

Cerpen – SAAT HUJAN SORE INI…

“Iya, Mak. Siap laksanakan kemendaaaaan …”
Bari buru-buru menutup teleponnya sebelum omelan emaknya makin deras tak terkendali.

Sobari segera memarkirkan Vespa bututnya di samping tenda warung kerak telor Bang Jalu yang terkenal seantero pengkolan RW 03 itu. Suasana hening seketika saat suara berisik mesin motor tua Sobari yang memekakkan telinga akhirnya tak lagi terdengar.

“Untung sepi nih warung,” gumam Sobari sembari melangkah masuk ke dalam warung tenda berwarna kuning terang mencolok itu.

Lelaki muda berusia awal 30-an ini mengambil kursi plastik yang tersedia dan bersiap duduk. Diperhatikannya sekeliling warung. Sepi. Tak ada seorang pun di dalamnya.

“Bang Jalu?”
Sobari mencoba memanggil nama sang pemilik warung beberapa kali, berharap Bang Jalu segera muncul dan bisa langsung membuatkan kerak telor spesial pesanan emaknya.

“Cari siapa, Bang?”

“Mashaallah! Bangun-bangun makan nasi ama udang galah. Ceilaaah …!”

Sobari sontak terperanjat saat seorang anak kecil usia sekitar sembilan tahunan tiba-tiba muncul dari kolong meja saji.

“Hei! Sapa lo?” sahut Sobari keras. “Ngapain lo tongkrong di kolong meja?”

Seraut senyum manis dengan barisan gigi rapi langsung muncul di wajah anak itu. Dengan ramah ia menjawab,
“Saya Udin, Bang. Anak Bang Jalu yang paling kecil.”

“Oooh …”
Sobari ber-oh panjang sambil manggut-manggut. “Bapak lo mana, Din? Mau pesen kerak telor nih satu.”

Jawaban Sobari langsung disambut riang oleh Udin, anak lelaki Bang Jalu yang bertubuh kurus itu.
“Bapak lagi salat Isya, Bang. Oh, Abang mau beli kerak telor, ya? Ya sudah, sebentar ya, Bang. Saya buatin.”

Dengan sigap, Udin mengambil wajan bergagang kayu—senjata andalan bapaknya—yang biasa dipakai untuk berjualan kerak telor.

Melihat Udin bergerak cepat hendak memasak pesanan itu, Sobari justru terkejut bukan kepalang. Tanpa sadar ia berteriak panik ke arah Udin,

“Hei, Din! Stop, stop! Mau apa lo?”

Bersambung 

BeritaTerkait

‎Aku Masih Mengajar
Ruang Sastra

‎Aku Masih Mengajar

6 February 2026
3
0

‎‎Namaku Siti Nur Azizah (47) ‎Dua puluh lima tahun aku...

Read more
Cerpen – Janji Seorang Anak (Part 1)

Cerpen – Janji yang Tuntas di Hadapan Surga (Part 4-Tamat)

25 January 2026
0
Cerpen – Janji Seorang Anak (Part 1)

Cerpen – Cahaya Setelah Luka (Part 3)

23 January 2026
0

Cerpen – SAAT HUJAN SORE INI…

21 January 2026
0

BADUY

20 January 2026
0

Cerpen – Air Mata di Balik Ketegaran (Part 2)

16 January 2026
0
Next Post
Gemuruh Budaya Nusantara: 700 Pelajar SMK Gaungkan Spirit Kebangsaan Lewat Seni dan Tradisi

Gemuruh Budaya Nusantara: 700 Pelajar SMK Gaungkan Spirit Kebangsaan Lewat Seni dan Tradisi

https://dewanpers.or.id/data

2026 © swarapendidikan.co.id

TENTANG KAMI

  • Berita
  • Disclaimer
  • KERJAMASA DAN IKLAN
  • KODE ETIK JURNALIS SWARA PENDIDIKAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • LOKER / MAGANG
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Swara Pembaca
  • swarapendidikan.co.id
  • Tentang Kami

Follow & Share

No Result
View All Result
  • Berita
  • Disclaimer
  • KERJAMASA DAN IKLAN
  • KODE ETIK JURNALIS SWARA PENDIDIKAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • LOKER / MAGANG
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Swara Pembaca
  • swarapendidikan.co.id
  • Tentang Kami

2026 © swarapendidikan.co.id