Sobari tak pernah menang melawan titah emak. Maka sore itu, Vespa tuanya melaju ke warung kerak telor pengkolan—tanpa tahu, pesanan sederhana itu bakal berujung cerita.
“Iya, Maaaak!”
Sobari akhirnya mengangkat ponsel jadul dalam genggamannya yang sudah berdering lebih dari delapan kali.
“Hei, Bari! Lama banget sih angkat teleponnya? Ampe capek Emak nungguin,” suara di seberang sana langsung mencecar tanpa jeda. “Udah dapet pesenan Emak? Buruan dianter dong! Emak keburu ngantuk nungguinnya nih!”
Sobari cuma bisa pasrah mendengarkan omelan nyaring emak tercintanya via telepon genggam. Kepalanya terus manggut-manggut, wajahnya sedikit ditekuk menahan kesal.
“Pokoknya bawain Emak kerak telor pengkolan itu. Jangan beli tempat laen! Denger nggak lo, Bari?”
“Iya, Mak. Siap laksanakan kemendaaaaan …”
Bari buru-buru menutup teleponnya sebelum omelan emaknya makin deras tak terkendali.
Sobari segera memarkirkan Vespa bututnya di samping tenda warung kerak telor Bang Jalu yang terkenal seantero pengkolan RW 03 itu. Suasana hening seketika saat suara berisik mesin motor tua Sobari yang memekakkan telinga akhirnya tak lagi terdengar.
“Untung sepi nih warung,” gumam Sobari sembari melangkah masuk ke dalam warung tenda berwarna kuning terang mencolok itu.
Lelaki muda berusia awal 30-an ini mengambil kursi plastik yang tersedia dan bersiap duduk. Diperhatikannya sekeliling warung. Sepi. Tak ada seorang pun di dalamnya.
“Bang Jalu?”
Sobari mencoba memanggil nama sang pemilik warung beberapa kali, berharap Bang Jalu segera muncul dan bisa langsung membuatkan kerak telor spesial pesanan emaknya.
“Cari siapa, Bang?”
“Mashaallah! Bangun-bangun makan nasi ama udang galah. Ceilaaah …!”
Sobari sontak terperanjat saat seorang anak kecil usia sekitar sembilan tahunan tiba-tiba muncul dari kolong meja saji.
“Hei! Sapa lo?” sahut Sobari keras. “Ngapain lo tongkrong di kolong meja?”
Seraut senyum manis dengan barisan gigi rapi langsung muncul di wajah anak itu. Dengan ramah ia menjawab,
“Saya Udin, Bang. Anak Bang Jalu yang paling kecil.”
“Oooh …”
Sobari ber-oh panjang sambil manggut-manggut. “Bapak lo mana, Din? Mau pesen kerak telor nih satu.”
Jawaban Sobari langsung disambut riang oleh Udin, anak lelaki Bang Jalu yang bertubuh kurus itu.
“Bapak lagi salat Isya, Bang. Oh, Abang mau beli kerak telor, ya? Ya sudah, sebentar ya, Bang. Saya buatin.”
Dengan sigap, Udin mengambil wajan bergagang kayu—senjata andalan bapaknya—yang biasa dipakai untuk berjualan kerak telor.
Melihat Udin bergerak cepat hendak memasak pesanan itu, Sobari justru terkejut bukan kepalang. Tanpa sadar ia berteriak panik ke arah Udin,
“Hei, Din! Stop, stop! Mau apa lo?”
Bersambung



