Cerpen “SAAT HUJAN SORE INI” menceritakan tentang hujan yang jatuh sebagai ujian, tentang seorang ibu yang menggenggam sebungkus nasi seperti menggenggam doa, dan tentang seorang anak kecil yang di rumah belajar menunggu—belajar lapar dan sabar lebih cepat dari usianya.
Hujan lebat sore ini benar-benar menyisakan resah. Kukibaskan poniku yang basah menutupi wajah akibat keringat dan air hujan. Sambil tetap memegang kantong plastik hitam di tangan dengan erat, aku kembali melangkah hati-hati melewati kubangan becek di sepanjang jalan sempit pinggiran pasar yang tengah kususuri.
“Duh Gusti, tolonglah, jangan hujan lagi,” bibirku yang mulai gemetar membiru menahan dingin hanya mampu berbisik pelan. Gemuruh halilintar dan petir yang kembali menyambar bersahutan makin membuat hati dan nyaliku ciut. Bukan hanya karena ngeri akan kedahsyatan ciptaan Tuhan, tetapi juga karena hari sudah semakin gelap, sementara nasi bungkus untuk Bagas, anakku, masih kupegang erat di tangan, terbungkus kresek hitam lusuh agar tetap terlindung dari air hujan yang menghujam bumi sejak tadi.
Bagas pasti kelaparan, dan mungkin juga ketakutan. Bagaimana tidak? Ia harus sendirian di rumah, menungguku yang tak kunjung kembali membawa makan siangnya akibat terhadang hujan deras. Sejak pulang sekolah tadi, dia belum makan.
Sebenarnya, Bagas pasti tak akan setakut itu. Ia juga sudah terbiasa menahan lapar. Hatiku saja yang resah sendiri memikirkan anak semata wayangku ini. Walau usianya masih sangat belia, tujuh tahun, Bagas sudah terbiasa mandiri. Sebagai anak dari seorang janda dengan pekerjaan serabutan sebagai buruh angkut di pasar sepertiku, anakku ini sudah terbiasa makan satu kali sehari. Bagi kami, bisa makan hari ini saja sudah patut disyukuri.
“Ya Allah, hujan lagi…”
Tiba-tiba saja air hujan kembali mengguyur deras, bersamaan dengan kilat dan petir yang menyambar keras memekakkan telinga. Aku memutuskan untuk kembali berteduh. Tubuhku yang letih dan kedinginan rasanya tak sanggup lagi melawan tajamnya derai hujan yang menusuk kulit.
Sambil berlari kecil, aku menepi ke sebuah teras toko kecil di sisi jalan. Mataku menyapu suasana temaram jajaran toko pinggir pasar yang kebanyakan sudah tutup sejak beberapa saat lalu. Tak ada lampu. Gelapnya senja yang mendung dan berkabut akibat hujan membuat suasana makin senyap. Tidak banyak orang lalu lalang di sini.
“Pasti kebanyakan mereka sudah bisa menikmati suasana hangat di dalam rumah, tak seperti aku yang masih harus sendirian berhujan-hujan di sini,” gumamku.
Cipratan air yang cukup keras membuatku terkesiap. Tiba-tiba seorang anak lelaki dengan tubuh basah kuyup berlari cepat ke arahku. Tampaknya dia juga ingin berteduh. Diam-diam kuperhatikan bocah kecil di depanku ini. Tangannya yang menggigil mendekap dadanya erat-erat. Dia pasti kedinginan.
Melihat anak lelaki itu, terbayang Bagas di rumah. Dia pasti seusia dengannya.
Tanpa sadar jemariku meraih tangan bocah kecil itu, mengajaknya merapat sedikit ke bagian teras yang lebih dalam.
“Nak, kamu kedinginan? Sini ke dekat ibu. Di situ masih kena hujan.”
Anak itu mengangguk, menuruti ajakanku.
“Kamu mau ke mana hujan-hujan begini, Nak?”
“Saya…” bibirnya gemetar saat berusaha menjawab. “Saya mau membeli nasi buat emak. Tapi…”
Suaranya tercekat. Wajahnya mendadak sendu.
“Kenapa, Nak?” tanyaku, iba.
“Saya tadi ngojek payung, Bu, biar bisa beli nasi buat emak. Emak saya lagi sakit, nggak bisa kerja hari ini. Tapi payung saya rusak, kena angin kencang waktu hujan tadi.”
Setetes air mengalir dari matanya, segera diseka cepat dengan punggung tangan.
Hatiku bergetar. Ingatanku melayang ke rumah, teringat Bagasku yang juga tengah menahan lapar. Air mata mulai menusuk ujung mata, namun kutahan. Aku tak boleh menangis di hadapan bocah ini. Aku tak ingin menambah pedih yang dirasakannya.
“Nak, ambil ini.”
Tanganku menyodorkan kantong kresek hitam yang sejak tadi kugenggam erat.
“Ini berikan ke ibumu, ya. Ada dua bungkus nasi. Bisa untukmu juga.”
Kilatan kegembiraan langsung terpancar di mata bocah itu. Senyum di bibir pucatnya mengembang. Dengan sigap ia mengambil kantong plastik berisi nasi dengan lauk tempe goreng dan sambal terasi.
“Terima kasih, Bu… terima kasih,” ujarnya ceria.
Tanpa menunggu lama, bocah itu berlari menghilang menembus hujan, tanpa memedulikan tubuhnya yang kembali basah kuyup. Aku kembali sendiri.
Senyum tipis mengembang di bibirku yang gemetar. Kulirik selembar uang dua ribuan, sisa kembalian nasi bungkus—satu-satunya uang yang masih kumiliki.
“Biarlah… Bagas pasti setuju dengan apa yang kulakukan ini,” bisikku lirih.
“Nanti ibu belikan kamu gorengan Bu Haji samping rumah untuk makan malam ya, Bagas…”
****
Akhirnya, aku tiba di rumah bertepatan dengan azan Magrib.
“Bagas…”
Kuketuk pintu sambil mengucap salam.
Ingin segera kuceritakan kejadian sore tadi, agar Bagas tetap merasa lega meski jatah makannya telah berpindah tangan. Semoga ia tak kecewa. Semoga kebaikan nasi bungkus itu menjadi penghibur baginya.
“Bagas…”
Saat pintu terbuka, aku terkesiap. Di atas meja kulihat dua piring nasi hangat dengan aneka lauk, juga beberapa potong kue dan buah-buahan. Aku terpana.
“Ibu, ini kiriman nasi dari Bu Haji. Kak Adilla ulang tahun,” kata Bagas ceria.
“Alhamdulillah, Bagas dikirimi ini. Buat ibu juga. Ayo, habis salat kita makan sama-sama, Bu.”
“Mashaallah… Alhamdulillah, Gusti…”
Aku terduduk lemas. Air mata kembali menumpuk di pelupuk, lalu jatuh. Aku tahu, air mata ini adalah air mata syukur.
Pesan moral:
Ketegaran sering lahir bukan dari pilihan, melainkan dari keterpaksaan; di balik kesunyian dan penderitaan yang tak terucap, kasih seorang ibu — meski basah, lelah, dan nyaris patah — demi buah hatinya.
Cerpen karya: Umie Poerwanti
Nama pena: Genta Kalbu
Sumber: www.gentakalbu.blogspot.com




Kerennn dan seru