Di sebuah siang yang teduh menjelang azan Zuhur, lantunan nasihat itu mengalir pelan di Masjid Al-Huda. Tidak meledak-ledak. Tidak pula penuh retorika yang membakar emosi. Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat-kalimat itu menembus hati banyak orang yang hadir.
Tentang hidup. Tentang keikhlasan. Tentang manusia yang sering merasa paling benar. Kita hidup di zaman ketika manusia terlalu sibuk memikirkan banyak hal, tetapi sering lupa memeriksa isi hatinya sendiri. Padahal, ujian terbesar bukan ketika hidup lapang, melainkan ketika Allah menyempitkan keadaan. Dalam kesulitan itulah keimanan diuji: apakah kita masih mampu berbagi cinta, memberi sedekah, dan memaafkan sesama.
Bukankah dalam hubungan antarmanusia, gesekan adalah sesuatu yang pasti?
Setiap hari kita bertemu. Setiap waktu kita berbicara. Dari lisan, dari sikap, dari tindakan, pasti ada yang melukai dan tersakiti. Namun di titik itulah Allah menguji hamba-Nya yang bertakwa: apakah ia mampu memaafkan saudaranya, melapangkan dada, dan menyingkirkan ego yang diam-diam tumbuh di dalam hati.
Sebab memaafkan bukan perkara mudah. Memaafkan membutuhkan hati yang luas. Membutuhkan jiwa yang bersih dari rasa paling hebat, paling pintar, paling benar, dan paling berjasa. Sifat merasa lebih tinggi dari orang lain itulah yang perlahan mengeringkan cahaya iman dalam hati manusia.
Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkan kesombongan.
Yang beliau wariskan justru kerendahan hati. Bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Jabatan hanyalah amanah. Harta hanyalah sementara. Kepintaran hanyalah karunia. Dan manusia tidak akan menjadi apa-apa tanpa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Betapa indah ketika seseorang mampu berkata dengan tulus:
“Saya bukan siapa-siapa. Kalau bukan karena Allah, saya tidak akan mampu sampai di titik ini.”
Kalimat sederhana itu lebih mulia daripada seribu pujian yang dipenuhi kesombongan.
Dalam tausiyahnya, sang pembicara mengingatkan sebuah resep keberkahan yang sering dilupakan manusia modern jangan mengakhirkan kewajiban kepada Allah karena sibuk mengejar urusan dunia.
Kita terlalu sering menunda salat demi pekerjaan. Terlalu asyik di depan laptop saat azan berkumandang. Terlalu sibuk mengejar target dunia sampai lupa bahwa Allah sedang memanggil kita lima kali sehari.
Padahal waktu semua manusia sama dua puluh empat jam. Tidak ada orang yang diberi dua puluh lima jam. Tidak ada pula yang hanya diberi dua puluh jam. Tetapi mengapa sebagian hidupnya terasa berkah, sementara sebagian lain terasa sempit dan gelisah? Mungkin karena ada yang mendahulukan Allah sebelum urusan dunia, dan ada yang menaruh Allah di urutan terakhir kehidupannya.
Allah adalah Al-Qadim, Yang Maha Mendahului. Maka sudah seharusnya kepentingan Allah lebih dahulu kita utamakan daripada kesibukan apa pun.
Ketika azan memanggil, sejatinya Allah sedang berkata kepada hamba-Nya:
“Tinggalkan dulu duniamu. Datanglah kepada-Ku.”
Dan sungguh, tidak ada kerugian bagi orang yang bergegas memenuhi panggilan itu.
Nasihat itu kemudian mengalir pada satu tujuan hidup yang paling hakiki: mencari ridha Allah. Bukan sekadar mengejar pujian manusia. Bukan hanya mengejar jabatan dan pengakuan. Sebab amal sebesar apa pun akan menjadi kosong bila tidak menghadirkan Allah di dalam niatnya.
Mengajar anak-anak, mendidik murid, mencari nafkah, membesarkan keluarga semuanya bisa bernilai ibadah bila diawali dengan “Bismillah” dan diniatkan hanya demi ridha-Nya.
Begitulah para guru seharusnya berjalan. Menjadi teladan sebelum menjadi pengajar. Menjadi contoh sebelum menjadi pemberi nasihat. Sebab anak-anak hari ini lebih mudah meniru akhlak daripada mendengar ceramah panjang.
Ketika guru datang dengan ketulusan, murid akan belajar tentang ketulusan. Ketika guru datang dengan akhlak mulia, murid akan mengenal kemuliaan.
Dan mungkin, di situlah letak keberkahan seorang pendidik. Menjelang akhir tausiyah, suasana masjid mendadak hening. Sang pembicara menyampaikan kalimat yang membuat banyak mata berkaca-kaca. Ia berkata lirih:
“Jika suatu hari Bapak dan Ibu tidak menjumpai saya di surga, tolong jadilah saksi di hadapan Allah bahwa pernah ada seorang fakir ilmu yang menyampaikan sedikit kebaikan di Masjid Al-Huda pada hari Rabu, 6 Mei.”
Sebuah kalimat yang lahir dari kerendahan hati seorang hamba.Karena sesungguhnya manusia tidak pernah tahu bagaimana akhir hidupnya. Tidak ada yang bisa memastikan dirinya penghuni surga. Maka yang terbaik adalah terus memperbaiki hati, memperbanyak amal, menjaga persaudaraan, dan mencari teman-teman saleh yang kelak saling menarik menuju surga Allah.
Di usia yang terus bertambah, manusia sejatinya tidak lagi membutuhkan keramaian pergaulan yang melelahkan. Yang dibutuhkan adalah lingkungan yang menenangkan hati, sahabat yang mengingatkan kepada Allah, dan teman seperjalanan yang saling menggenggam menuju kebaikan.
Sebab kelak, di akhir perjalanan hidup ini, bukan harta yang menemani kita. Bukan jabatan yang menyelamatkan kita. Melainkan hati yang bersih, amal yang tulus, dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dipanggil pulang dalam keadaan hati yang lapang, lisan yang lembut, dan jiwa yang penuh kasih kepada sesama.
Artikel di tukil dari esensi tausiyah Ustadz Lily Lili Sadeli, S.Ag dalam peringatan Halal Bihalal PGRI Sukmajaya Depok ,Mesjid Alhuda, Depok 2 Tengah 6 Mei 2026**
Arif Suryadi, S.Pd,M.Pd (Kepsek RRI Cisalak)

























