Swara Pendidikan (Purwakarta) – Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat bergerak cepat menindaklanjuti dugaan kasus perundungan terhadap seorang guru di SMAN 1 Purwakarta yang viral di media sosial. Senin (20/4). Kepala Disdik Jabar, Purwanto, turun langsung ke sekolah untuk memastikan kondisi korban sekaligus menelusuri fakta secara menyeluruh di lapangan.
Dalam keterangannya, Purwanto memastikan bahwa guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Atun, dalam kondisi baik. Ia menegaskan bahwa penanganan kasus ini harus dilakukan secara objektif dan utuh, tanpa terpengaruh oleh potongan informasi yang beredar di media sosial.
Peristiwa tersebut bermula dari kegiatan pembelajaran berbasis kerja kelompok dengan tema keberagaman budaya. Para siswa diminta menampilkan berbagai bentuk kreativitas, seperti makanan khas daerah, tarian tradisional, lagu, hingga kesenian lainnya.
Namun, menjelang sesi presentasi, terjadi perubahan susunan kelompok. Salah satu kelompok yang terdiri dari sembilan siswa mendapat giliran tampil terakhir. Saat waktu presentasi tiba, kelompok tersebut sempat tidak berada di dalam kelas.
Meski pada akhirnya kelompok tersebut tetap menyelesaikan tugas dan berfoto bersama guru, sebuah rekaman video dari kegiatan itu kemudian tersebar luas di media sosial dan memicu polemik di tengah masyarakat.
Menanggapi hal ini, Disdik Jabar menegaskan bahwa pendekatan pembinaan menjadi langkah utama dalam penanganan kasus. Para siswa yang terlibat tidak akan dikeluarkan dari sekolah, melainkan akan mengikuti program pembinaan selama tiga bulan.
Program tersebut meliputi kegiatan sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat, pendampingan intensif oleh guru serta tenaga psikolog, dan evaluasi rutin yang melibatkan orang tua setiap pekan. Langkah ini diambil untuk memastikan siswa tetap mendapatkan hak pendidikan sekaligus memperbaiki perilaku.
“Fokus kami adalah pembentukan karakter. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Purwanto.
Selain itu, Disdik Jabar juga membuka kemungkinan adanya program pembinaan lanjutan, termasuk pendekatan kedisiplinan khusus, dengan tetap mempertimbangkan aspek psikologis dan pendidikan siswa.
Purwanto turut menyoroti pengaruh besar media sosial terhadap perilaku remaja. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan lingkungan sosial.
Sebagai langkah konkret, pihaknya menginstruksikan sekolah untuk memperketat penggunaan telepon genggam selama proses belajar mengajar. Siswa diminta menyimpan ponsel dan hanya menggunakannya untuk kepentingan pembelajaran.
Di sisi lain, Atun menunjukkan sikap bijak dengan memaafkan para siswa yang terlibat. Ia memandang peristiwa ini sebagai bagian dari proses pendidikan karakter.
“Sebagai guru, tugas saya bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing. Anak yang melakukan kesalahan masih memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Atun juga menegaskan bahwa dalam kegiatan tersebut dirinya telah berupaya memberikan kesempatan yang adil kepada seluruh kelompok, meskipun terdapat dinamika selama proses pembelajaran berlangsung.
Kasus ini menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan. Sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas.
Disdik Jabar berharap peristiwa ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan, meningkatkan literasi digital, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, dan berkarakter. ***




