Cerpen ini merupakan lanjutan dari kisah Visha dalam Janji Seorang Anak, tentang keteguhan hati seorang anak yang bertahan di tengah kehilangan, luka, dan janji yang ia jaga dengan doa.
Hari-hari berlalu tanpa pernah memberi ruang bagi Visha untuk berduka. Sejak kepergian ibunya, masa kanak-kanak seolah direnggut begitu saja. Tak ada lagi pagi yang diisi tawa, tak ada tangan hangat yang menuntunnya. Yang tersisa hanyalah tanggung jawab yang terlalu besar untuk bahu sekecil itu.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, Visha telah terjaga. Ia menanak nasi dengan api kecil, mencuci pakaian dengan tangan mungil yang mulai kasar, membersihkan rumah, lalu menyiapkan adiknya. Semua ia lakukan dalam diam, seolah lelah tak pernah punya hak singgah di hidupnya.
Sementara itu, sang ayah semakin terbenam dalam gelap. Kesedihan yang tak pernah ia izinkan untuk sembuh menjelma kemarahan yang meluap. Malam-malam di rumah itu dipenuhi suara pintu dibanting dan kata-kata tajam yang melukai lebih dalam dari pukulan.
Sering kali, Visha berdiri di depan adiknya. Tubuhnya kecil, namun keberaniannya besar. Ia memeluk adiknya erat, menahan tangis saat bentakan dan tangan kasar ayahnya menghantam tubuhnya. Bukan sekali dua kali. Namun tak pernah sekalipun Visha membalas.
Dalam hatinya, ia meyakini satu hal:
Ayah bukan orang jahat. Ayah hanya terlalu terluka.
Suatu malam, hujan turun tanpa ampun. Adiknya demam tinggi, tubuh kecil itu menggigil hebat di pelukan Visha. Dengan langkah ragu namun penuh keberanian, ia menghampiri ayahnya yang duduk termenung.
“Yah… adik panas…” ucapnya lirih, nyaris kalah oleh suara hujan.
Namun yang ia terima bukan pelukan, bukan kepedulian. Bentakan keras disusul jambakan rambut membuat tubuhnya terhuyung menahan sakit.
“Aku nggak peduli! Urus saja adikmu sendiri!” teriak ayahnya kasar.
Visha terdiam. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia kembali ke kamar, memeluk adiknya sekuat tenaga, seolah tubuh kecilnya mampu melindungi dari seluruh dunia. Dalam sujud panjangnya, ia menangis pada Tuhan, satu-satunya tempat ia merasa aman. Wajah ibunya terlintas jelas di benaknya.
“Visha, apa pun yang terjadi, tetap tegar dan jangan pernah tinggalkan doa.”
Keesokan harinya, tangisan adiknya semakin kencang, memecah sunyi rumah itu. Tetangga yang mendengar akhirnya datang dan membawa mereka ke puskesmas. Di sanalah sang ayah menyaksikan pemandangan yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
Visha menggendong adiknya dengan tubuh lelah, mata sembab, dan lengan kecil yang dipenuhi lebam.
Di saat itulah, sesuatu runtuh dalam dirinya. Kenangan tentang istrinya, tentang tawa anak-anaknya dahulu, tentang keluarga yang pernah utuh, menyerbu tanpa ampun. Untuk pertama kalinya sejak kepergian sang istri, ia menangis. Bukan tangis marah, melainkan tangis penyesalan yang menghancurkan dada.
Ia sadar, dalam kesedihannya, ia telah melukai dua jiwa yang justru paling mencintainya.
Sejak hari itu, perubahan perlahan dimulai. Tidak sempurna, tidak instan. Bentakan mulai berkurang, tangan kasar mulai berhenti. Dan yang paling berat baginya, ia belajar meminta maaf dengan suara gemetar dan kepala tertunduk.
Visha hanya tersenyum kecil. Tak ada dendam di hatinya. Baginya, melihat ayahnya kembali adalah anugerah yang tak ternilai.
Perlahan, luka mereka mulai sembuh.
Bekasnya mungkin tak pernah benar-benar hilang, tetapi cinta dan doa menjadi jahitan yang menyatukan kembali keluarga kecil itu.
Visha belajar satu hal penting: ketulusan, doa, dan kesabaran mampu melembutkan hati yang paling keras sekalipun.
Bersambung ke Part 3…
Pesan Psikologis
Kisah Visha mengajarkan satu hal yang sering kita abaikan:
usia tidak selalu sejalan dengan kedewasaan emosi.
Seorang anak kecil mampu mengolah rasa sakit menjadi empati dan ketegaran, sementara seorang dewasa bisa terpuruk karena tak mampu menghadapi luka batinnya sendiri. Dalam psikologi, emosi yang tidak diolah akan mencari jalan keluar, dan sering kali jalan itu adalah kemarahan.
Visha memilih berdoa dan bertahan. Ayahnya memilih melarikan diri dalam amarah.
Bukan karena ayahnya lebih lemah, tetapi karena ia tak pernah belajar cara berdamai dengan kehilangan.
Kisah ini mengingatkan kita:
kedewasaan sejati bukan tentang usia, melainkan keberanian menghadapi luka tanpa menyakiti orang lain.
Dan kadang, justru anak-anaklah yang menjadi cermin paling jujur bagi orang dewasa tentang bagaimana seharusnya mencintai, memaafkan, dan bertahan.





Visha adalah sosok anak kecil yang mncontohkan, ini lah hidup.
Hidup melawan “ketabahan, keikhlasan”.
Semoga kita selalu Ikhlas, tabah dalam mnjalani hidup.
Di mana hidup kita yang sudah di gariskan olah Sang pencipta (Allah SWT).
Terslah berkarya 👍🏻 untuk Penulis dan sukses selalu
Betul2 menginspirasi. Semoga makin banyak hal2 baik dibagikan lewat media ini.
Di dunia nyata ada tangan-tangan Visha yang mampu memberi cinta bagi sekelilingnya. Itulah Rahmat Tuhan seluruh Alam. Kisahnya sarat makna. Semoga bisa terus berkreasi dan memberi inspirasi lewat torehan cerita yang tidak melulu menampilkan keglamoran hidup yang jauh dari gambaran masyarakat kita pada umumnya. Barakallah..Ayah Ayraa n Asheeqa..keep up the good work.