ADVERTISEMENT
  • BERITA UTAMA
    • NASIONAL
    • Internasional
    • KABAR DAERAH
    • METROPOLITAN
  • KABAR SEKOLAH
    • SMA
    • SMK
    • MA
    • SMP
    • MTS
    • SD
    • MI/DINIYAH
    • PAUD/TK
  • KABAR KAMPUS
  • KABAR PESANTREN
  • MENULIS
    • Artikel Guru
    • Artikel Dosen/Mahasiswa
    • Opini
  • TIPS EDU
  • EDU INFO
    • Klik Pendidikan
    • Info Pendidikan
    • Info Guru
  • INSPIRASI PENDIDIKAN
    • Inspirasi
  • JEJAK PRESTASI
  • E-PAPER
  • LAINNYA
    • Profil Sekolah
      • SMK
      • SMA
      • MA
      • SMP
      • MTS
      • SD
      • TK/PAUD
      • MI/DINIYAH
    • Ruang Sastra
      • Cerpen
      • Puisi
    • ULASAN BUKU
      • BAHAN AJAR
      • BUKU UMUM
    • SAPA WILAYAH
      • Kecamatan Beji
      • Kecamatan Bojongsari
      • Kecamatan Cilodong
      • Kecamatan Cimanggis
      • Kecamatan Cinere
      • Kecamatan Cipayung
      • Kecamatan Limo
      • Kecamatan Pancoran Mas
      • Kecamatan Sawangan
      • Kecamatan Sukmajaya
      • Kecamatan Tapos
    • WAWASAN PUBLIK
      • Parlemen
      • Pemerintahan
      • Peristiwa
      • Politik
      • Sosial
      • Suara Publik
      • Ekonomi & Bisnis
      • Infotaintment
      • Opini
Swara Pendidikan
Wednesday, June 17, 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Swara Pendidikan
No Result
View All Result

Ketika Video Viral Mengubah Wajah Lembaga Pemerintah

Oleh: Nugroho M. Rizky Triatma*

by SWARA PENDIDIKAN
16 January 2026
in Artikel Dosen/Mahasiswa, MENULIS
0
Ketika Video Viral Mengubah Wajah Lembaga Pemerintah

Nugroho M. Rizky Triatma

Opini

 

Di era media sosial, citra lembaga pemerintah tidak lagi dibentuk oleh konferensi pers atau laporan resmi, melainkan oleh potongan video berdurasi singkat yang viral di linimasa. Satu rekaman dapat mengubah persepsi publik secara drastis, lebih cepat daripada klarifikasi, lebih kuat daripada rilis pers. Dalam konteks Indonesia, fenomena ini semakin sering terjadi, memperlihatkan bagaimana kekuasaan narasi kini berpindah ke ruang digital.

Video viral kerap muncul dari situasi sehari-hari: aktivitas pejabat, interaksi aparat dengan warga, atau momen yang dianggap tidak pantas oleh publik. Ketika video tersebut menyebar luas, lembaga yang bersangkutan tidak lagi dinilai secara institusional, melainkan direduksi pada satu adegan visual. Persepsi publik pun terbentuk bukan dari kebijakan atau kinerja jangka panjang, tetapi dari fragmen peristiwa yang terekam kamera.

BACA JUGA

DARI FITRAH, PENGORBANAN, MENUJU PERUBAHAN: Refleksi 1 Muharram 1448 H untuk Kota Depok

Ketika Guru Takut Menegur Siswa: Ada yang Salah dengan Pendidikan Kita?

Masyarakat Betawi di Era Global City: Menilik Pandangan H. Haikal S., SH

SPMB SMP Negeri Kota Depok 2026: Ada Apa dengan Kuota Jalur Inklusi?

Fenomena ini dapat dipahami melalui teori framing. Framing menjelaskan bahwa media, termasuk media sosial tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membingkai realitas melalui sudut pandang tertentu. Dalam video viral, bingkai dibentuk oleh apa yang direkam, apa yang dipotong, dan bagaimana konteks dihadirkan atau justru dihilangkan. Akibatnya, satu tindakan dapat dimaknai sebagai simbol keseluruhan watak lembaga pemerintah.

Masalahnya, video viral jarang hadir dengan konteks yang utuh. Durasi singkat dan logika algoritma mendorong penyederhanaan peristiwa kompleks. Publik cenderung menilai cepat, sementara emosi, marah, kecewa, atau sinis lebih dominan daripada analisis. Dalam situasi ini, lembaga pemerintah sering berada pada posisi defensif, terpaksa merespons opini publik yang sudah terbentuk terlebih dahulu.

Namun, video viral tidak selalu berdampak negatif. Dalam banyak kasus, ia berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Praktik pelayanan publik yang buruk, penyalahgunaan wewenang, atau perilaku tidak etis yang sebelumnya tersembunyi dapat terekspos dan memicu evaluasi internal. Media sosial, dalam hal ini, berperan sebagai ruang publik digital tempat warga menyuarakan kritik terhadap kekuasaan.

Di sisi lain, ada risiko serius dari apa yang disebut sebagai trial by social media. Ketika framing negatif terlanjur menguat, klarifikasi sering kali kalah viral. Lembaga pemerintah dinilai bukan berdasarkan fakta lengkap, melainkan berdasarkan narasi yang paling emosional dan mudah dibagikan. Hal ini berpotensi merusak kepercayaan publik secara tidak proporsional dan menciptakan ketidakadilan simbolik.

Fenomena ini juga memengaruhi perilaku aparat dan pejabat negara. Kesadaran akan kemungkinan direkam dan diviralkan membuat ruang publik dipenuhi kewaspadaan berlebihan. Di satu sisi, ini dapat mendorong kehati-hatian dan profesionalisme. Namun di sisi lain, ia juga bisa melahirkan ketakutan bertindak dan komunikasi yang kaku, karena setiap gerak berpotensi menjadi konsumsi publik.

Pada akhirnya, video viral telah menjadi aktor penting dalam membentuk citra lembaga pemerintah di Indonesia. Tantangannya bukan terletak pada menolak teknologi, melainkan pada membangun komunikasi publik yang adaptif, transparan, dan responsif. Di tengah arus visual yang cepat dan emosional, pemerintah dituntut tidak hanya bekerja dengan baik, tetapi juga mampu hadir dan dipahami di ruang digital yang terus berubah.**


Penulis: Nugroho M. Rizky Triatma
Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Dian Nuswantoro

Konten ini dilindungi. Dilarang menyalin atau menayangkan ulang sebagian maupun seluruh isi artikel untuk akun media sosial komersial atau kepentingan komersial lainnya tanpa izin tertulis dari Redaksi.
👁️ Pembaca: 8

BeritaTerkait

Nilai Hanyalah Angka, Masa Depan Dibentuk oleh Karakter dan Ketekunan
MENULIS

Nilai Hanyalah Angka, Masa Depan Dibentuk oleh Karakter dan Ketekunan

30 May 2026
0
0

Oleh: Arif Suryadi, S.Pd., M.Pd. Kepala SDN RRI Cisalak Kota...

Read more
Memperkuat Tata Kelola RSSG: Revisi Perwal dan Sanksi Harus Sejalan

Memperkuat Tata Kelola RSSG: Revisi Perwal dan Sanksi Harus Sejalan

29 May 2026
0
Cacat Hukum Perwal Depok Nomor 16 Tahun 2025 tentang RSSG: Potensi Timbulkan Masalah Hukum

Cacat Hukum Perwal Depok Nomor 16 Tahun 2025 tentang RSSG: Potensi Timbulkan Masalah Hukum

29 May 2026
0

Mengevaluasi RSSG Depok 2025: Antara Niat Baik, Celah Refund, dan Tanda Tanya Data

10 May 2026
0

Anak SD Sudah Ikut Bimbel: Pendidikan atau Kompetisi?

8 May 2026
0

27 Tahun Kota Depok: Anak Dijepit Dua Kegagalan. SMPN Sesak, RSSG Tak Bermutu?

7 May 2026
0
Next Post
Bantuan Internet Gratis dan Komunikasi Publik yang Gagal

Bantuan Internet Gratis dan Komunikasi Publik yang Gagal

https://dewanpers.or.id/data

2026 © swarapendidikan.co.id

TENTANG KAMI

  • Berita
  • Disclaimer
  • KERJAMASA DAN IKLAN
  • KODE ETIK JURNALIS SWARA PENDIDIKAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • LOKER / MAGANG
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Swara Pembaca
  • swarapendidikan.co.id
  • Tentang Kami

Follow & Share

No Result
View All Result
  • Berita
  • Disclaimer
  • KERJAMASA DAN IKLAN
  • KODE ETIK JURNALIS SWARA PENDIDIKAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • LOKER / MAGANG
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Swara Pembaca
  • swarapendidikan.co.id
  • Tentang Kami

2026 © swarapendidikan.co.id