Swara Pendidikan (Cibinong, Bogor) – Suasana pagi, Ahad (5/4/26) di kawasan Jalan Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, tampak berbeda dari biasanya. Ribuan warga memadati area Car Free Day (CFD), berjalan santai, berolahraga, hingga menikmati kuliner. Namun di antara keramaian itu, terselip pesan penting yang perlahan digaungkan: kepedulian terhadap lingkungan.
Di salah satu sudut CFD, sekelompok peserta mengenakan kostum unik dari bahan daur ulang. Ada yang mengenakan gaun dari plastik bekas, ada pula yang memanfaatkan kardus dan botol menjadi karya kreatif. Mereka adalah bagian dari karnaval daur ulang, sebuah cara sederhana namun menarik untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap sampah.
Bagi Ival, salah satu peserta, kegiatan ini bukan sekadar unjuk kreativitas, melainkan bentuk ajakan nyata kepada masyarakat.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengedukasi masyarakat, khususnya di momentum CFD, bahwa sudah saatnya kita mulai memilah dan mengolah sampah yang kita hasilkan sehari-hari agar menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Ia berharap, langkah kecil yang dilakukan komunitasnya dapat menjadi pemicu perubahan yang lebih besar.
“Semoga upaya ini bisa membantu Kabupaten Bogor dalam menyelesaikan persoalan sampah, bahkan ke depan bisa mencapai zero waste, sehingga lingkungan kita menjadi lebih asri,” harap Ival.
Tak jauh dari lokasi karnaval, aktivitas lain juga tak kalah menarik perhatian. Warga tampak antre sambil membawa botol plastik bekas. Mereka menukarkannya dengan souvenir sederhana yang telah disiapkan panitia. Program ini menjadi salah satu cara kreatif untuk membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat.
Aktivis lingkungan Kabupaten Bogor, Bambang Nugroho mengatakan, pendekatan langsung seperti ini dinilai efektif untuk menumbuhkan kesadaran.
“Hari ini kami hadir di CFD untuk mengajak warga lebih peduli terhadap lingkungan hidup. Salah satunya dengan program menukar botol air kemasan bekas dengan souvenir,” kata Bambang.
Dia menilai, CFD memiliki potensi besar sebagai ruang edukasi publik karena mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
“CFD tidak hanya sekadar tempat olahraga atau rekreasi, tetapi juga bisa menjadi ruang membangun budaya peduli lingkungan melalui langkah-langkah kecil,” ujarnya.
Di sisi lain, upaya edukasi juga datang dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor. Melalui stan edukasi, petugas memperkenalkan cara pengolahan sampah organik menggunakan teknik maggot—larva lalat Black Soldier Fly yang mampu mengurai sampah dengan cepat.
Pendamping Lingkungan Hidup Kecamatan Cibinong, Ahmad Danial menjelaskan bahwa metode ini menjadi salah satu solusi alternatif dalam mengatasi sampah organik rumah tangga.
“Kami memperkenalkan pengolahan sampah organik dengan teknik maggot karena prosesnya lebih cepat dibandingkan kompos, bahkan bisa berlangsung dalam hitungan jam,” jelasnya.
Ahmad mengungkapkan, persoalan sampah di Kabupaten Bogor saat ini telah menjadi perhatian serius. Salah satu indikatornya adalah kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga yang kapasitasnya telah melebihi daya tampung.
Kondisi tersebut, menurutnya, tidak bisa hanya diselesaikan di hilir. Perubahan harus dimulai dari hulu, yakni dari rumah tangga.
“Harapannya, melalui edukasi ini masyarakat bisa mulai memilah sampah dari rumah, antara organik dan anorganik, sehingga limbah yang dihasilkan bisa diolah dan memiliki nilai manfaat,” imbuhnya.
CFD Cibinong pun kini tak hanya menjadi ruang untuk menyehatkan tubuh, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kesadaran: bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari hal kecil, dan dimulai dari sekarang.(**)




