OPINI
Surah Al-Baqarah ayat 34 menceritakan perintah Allah SWT kepada malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Adam. Para malaikat pun sujud, kecuali Iblis. Logika Iblis menyatakan bahwa ia lebih baik daripada Adam karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Sifat egois (rasa “aku”) inilah yang menumbuhkan takabur dalam dirinya, sekaligus menjadi penanda kesombongan pertama dalam sejarah kehidupan.
Peristiwa ini mengingatkan bahwa perbedaan paling nyata antara manusia dan Iblis adalah soal takabur. Ketika manusia sombong karena merasa paling hebat dan merendahkan yang lain, ia sedang menapaki jejak Iblis. Sebaliknya, ketika manusia mampu menjauhkan diri dari takabur, di situlah letak kemuliaannya.
Penolakan Iblis untuk sujud kepada Nabi Adam bukan sekadar pembangkangan, melainkan gambaran keegoisan yang melahirkan kesombongan. Secara tersirat, Allah mengingatkan bahwa ego yang tidak terkendali dapat menjerumuskan pada takabur. Sifat ego bukan hanya milik Iblis, tetapi juga ada pada manusia. Sigmund Freud melalui teori psikoanalisis menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki ego sebagai bagian dari struktur kepribadian. Hal yang senada juga tampak dalam pandangan Al-Ghazali, yang menyebutnya sebagai nafs (jiwa/nafsu diri). Menurut Al-Ghazali, nafs cenderung ingin dipuji, merasa lebih dari orang lain, dan sulit menerima kekurangan—akar dari kesombongan.
Dalam dunia pendidikan, takabur sering berawal dari ego dan penolakan yang terjadi di sekolah, bahkan di ruang kelas, tanpa kita sadari. Kepala sekolah yang merasa paling benar dapat menolak pendapat atau apresiasi dari warga sekolah. Guru yang mengabaikan suara murid, meremehkan sekecil apapun pendapat mereka, sesungguhnya melakukan penolakan karena merasa lebih tinggi dari muridnya. Penolakan, pengabaian, dan sikap merendahkan itu menjadi luka bagi murid. Jika tidak ditangani dengan bijak, luka itu dapat berkembang menjadi kesombongan sebagai mekanisme pertahanan diri dari rasa inferior—perasaan rendah diri, tidak mampu, dan tidak percaya diri. Antitesis dari inferioritas ini melahirkan superioritas semu, menyuburkan egoisme subjektif sebagai cara menutup luka akibat penolakan dan pengabaian.
Guru harus menekan ego dengan logika dan meredamnya dengan hati. Logikanya bisa dianalogikan dengan cerita penolakan Iblis sujud kepada Adam. Meskipun Iblis menolak, Allah menunjukkan demokrasiNya (Surah Al-A’raf ayat 11-12) dengan bertanya, “Apa yang menghalangimu untuk sujud ketika Aku perintahkan?” Begitu pula saat malaikat bertanya tentang penciptaan manusia (Surah Al-Baqarah ayat 30), “Apakah Engkau akan menciptakan makhluk di bumi yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sementara kami bertasbih memujiMu?” Rangkaian percakapan ini menunjukkan bahwa Allah tidak mengabaikan dan memberi kesempatan makhluk-Nya untuk berpendapat. Guru dapat meniru prinsip ini: menghargai potensi murid, memberi ruang untuk berpendapat, dan mengakui pengalaman unik yang mereka bawa ke kelas.
Murid yang sering diabaikan akan terluka, dan secara psikologis bisa mengembangkan ego berlebihan sebagai bentuk pertahanan (superioritas semu). Alfred Adler menjelaskan bahwa anak yang merasa lemah akan berusaha terlihat lebih tinggi: “Kalau aku lemah, aku akan diinjak. Jadi aku harus terlihat lebih tinggi.” Beberapa contoh kasus meliputi: murid yang tampak dingin dan sok tahu karena pertanyaannya tidak dihargai; murid yang sering dibandingkan dengan teman lain sehingga muncul inferior kronis dan bersikap sombong di luar kelas; murid yang karya atau ide-idenya diabaikan, membuatnya merasa tidak penting; pelabelan “malas” yang memicu percaya diri berlebihan; dan murid yang dibentak di depan teman sekelas sehingga mencari perhatian dengan perilaku sombong sebagai mekanisme perlindungan diri.
Ki Hajar Dewantara, dengan semboyannya Ing Ngarsa Sung Tulada (memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (memberi motivasi di tengah), dan Tut Wuri Handayani (memberi semangat dari belakang), menegaskan prinsip guru menghamba pada murid. Awalnya, “menghamba pada murid” disalahpahami sebagai perilaku yang tidak patut. Makna sebenarnya adalah menjadikan murid sebagai subjek, bukan objek. Guru menuntun, bukan memerintah, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, memberi kebebasan yang bertanggung jawab, dan memerdekakan anak. Penolakan, pengabaian, dan ego yang tak terkendali tidak termasuk dalam rumus menghamba pada murid.
Menghamba pada murid dapat memutus mata rantai takabur atau sifat sombong. Banyak murid terselamatkan dari berkembangnya sifat ego menjadi sombong melalui perilaku guru yang menghargai, mendengar, dan memperhatikan mereka. Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa murid yang dihargai mulai berpikir, “Apa untungnya buat aku?” kemudian berkembang menjadi, “Bagaimana seharusnya aku bertindak untuk orang lain?” Tahap akhirnya, fokus bergeser dari “aku” ke “kalian,” karena murid memahami nilai sosial dan kerjasama.
Prinsip menghamba pada murid juga didukung oleh Self-Determination Theory Edward Deci dan Richard Ryan: murid merasa bebas memilih dan bertindak (merdeka belajar), merasa mampu, dan merasa terhubung serta dihargai. Bila kebutuhan ini terpenuhi, murid tidak lagi hanya memikirkan dirinya, tetapi juga kebermaknaan hubungannya dengan orang lain.
Untuk menerapkan prinsip ini, guru harus mengelola ego dari memerintah menjadi menuntun. Memimpin, tapi bukan sebagai yang paling benar atau paling didengar. Membuka ruang bagi pendapat murid, menghargai perasaan mereka, dan tidak meremehkan pertanyaan sekecil apapun. Memahami bahwa setiap murid berbeda, melihat potensi mereka, bukan kekurangannya. Dengan konsistensi dan teladan, akan tercipta budaya sekolah yang menekankan dialog, menghargai sudut pandang lain, dan menumbuhkan murid yang belajar untuk memanusiakan orang lain, bukan menyombongkan diri.
Penulis Nurhidayah Mantong, M. Pd
Kepala Sekolah SMPN 9 Lembang, Kab. Pinrang – Sulawesi Selatan





Sy baru memahami ternyata selama ini ,ketika kita belajar tuk memahami siswa n mencobaa memaanusiakan itulah yg dimaksud meenghamba sm murid