Kepemimpinan Transformasional

by Redaksi
0 Komentar 405 Pembaca

Tidak terasa waktu begitu singkat, awal tahun 2022 pun tak terasa. telah hampir genap dua bulan berjalan di SDN RRI Cisalak tempatku mengabdikan diri. Aku merasakan atmosfir yang berbeda di lingkungan kerjaku yang baru saat ini.

Tanpa terasa,  kini aku sudah harus mempersiapkan diri untuk mengadakan Ujian Tengah Semester Genap.

Ditempat kerjaku yang baru, setelah mendapat mutasi sejak 4 bulan lalu, aku merasakan iklim kerja yang kondusif di sini, suasana hati yang tenang, teduh dan lebih semangat untuk memberikan motivasi, kontribusi positif dalam bermitra dengan rekan-rekan guru, tendik dan tim work lainnya.

Aku takjub melihat antusias kinerja teman-teman guru di SDN RRI Cisalak dalam menjalankan tugas. Penuh disiplin dan tanggung jawab.

Mereka sudah sangat dewasa dan santun dalam bekerja memberikan pengajaran di dalam kelasnya, menjaga hubungan baik antar sesama rekan kerja, keakraban orang tua wali siswa, juga dengan korlas dan komite sekolah. Rasa kekeluargaan disini sepertinya sudah menjadi tradisi yang baik.

Melihat kegigihan mereka dalam memberikan pelayanan kepada para peserta didik, nuraniku terpanggil untuk terus mengarahkan, merangkul, mengajak, dan mengembangkan, serta meningkatkan kompetensi diri agar mereka lebih hebat lagi dalam memberikan pelayanan di sekolah.

Di masa pembelajaran terbatas ini, aku melihat mereka mampu memberikan pelayanan yang sangat baik melalui pembelajaran secara virtual maupun tatap muka secara terbatas.

Alhamdulillahnya lagi mereka semua mampu menguasai IT dalam memberikan pelayanan pendidikan jarak jauh (PJJ).

Aku juga tak pernah merasa bosan memberikan arahan dan bimbingan setiap pekannya kepada mereka, hal ini dilakukan guna mengevaluasi setiap program yang telah disepakati sebelumnya, dengan sering berdiskusi. Mencari solusi dan ide-ide baru.

Banyak sekali ide-ide gagasan yang muncul dan bagus untuk dijadikan program sesuai komitmen dan kesanggupan mereka untuk di terapkan di sekolah guna meningkatkan prestasi para peserta didik.

Menjaga hubungan harmonis yang sehat, baik dan kompak  kepada para guru menurutku adalah sebuah kunci keberhasilan dalam mengembangkan potensi sekolah.

Aku tidak ingin menjaga jarak atau mereka merasa aku adalah leader bagi mereka, yang hanya bisa memerintah dan melarang ini dan itu. Tapi aku ingin mereka merasa nyaman kepadaku bahwa kita adalah mitra kerja yang solid sebagai tim sukses sekolah yang sama-sama bekerja dan bekerja sama bahu membahu guna meningkatkan prestasi sekolah, demi memberikan pelayanan terbaik bagi para peserta didik di sekolah.

Bahkan, tidak sungkan-sungkan, aku sering bertanya dalam forum diskusi akhir pekan kepada teman-teman guru. Kiranya program apa yang dapat meningkatkan prestasi siswa di sekolah, karena penerimaan PPDB dengan sistem zonasi menyebabkan lulusan di sekolah ini di tahun-tahun sebelumnya banyak yang gagal masuk ke SMP Negeri, dikarenakan sekolah ini berada di wilayah terluar terjauh di jalan pinggir jalan raya Jakarta-Bogor yang berdiri di atas lahan RRI Cisalak yang setahun ini telah dihibahkan menjadi aset Pemda kota Depok.

Sekolah ini tidak berdekatan dengan SMPN di kota Depok, domisili menjadi hambatan ketika harus mendaftar dengan sistem pendaftaran melalui jalur zonasi. Dampaknya, tentu sangat merugikan siswa didik kami yang ingin melanjutkan ke SMP Negeri. Padahal sebelumnya sekolah ini adalah sekolah favorit yang banyak meluluskan siswa-siswi berprestasi sampai di ajang propinsi yang lulusannya hampir 80 persen masuk ke SMP negeri yang tersebar di wilayah Sukmajaya dan Cimanggis.

Kendati demikian, tentu kami tidak boleh patah arang apalagi menyerah. Sebab orang tua menitipkan anaknya kepada kami tentu dengan harapan besar bahwa mereka setelah lulus dari sini dapat melanjutkan ke SMP Negeri yang mereka cita-citakan.

Walaupun sebenarnya masih ada sekolah swasta yang  letaknya juga tidak terlalu jauh dengan domisili orang tua, namun mereka tetap saja menginginkan anak-anaknya dapat melanjutkan ke SMP Negeri.

Melihat kondisi seperti ini, kami berdiskusi dengan rekan-rekan guru. Dari hasil diskusi yang kami lakukan setiap akhir pecan, kamipun akhirnya segera berbenah diri, melakukan perubahan-perubahan dengan membuat program yang dapat membekali siswa guna meraih prestasi.

Selain Jalur zonasi, ada Jalur prestasi siswa yang  dapat di tempuh dengan dua cara melalui prestasi akademik maupun non-akademik.

Dari sinilah kami mulai melakukan pembenahan dengan membuat tim pengembang ekstrakurikuler di sekolah yang fungsinya memberikan fasilitas pengembangan diri bagi para peserta didik sesuai bakat dan minatnya masing-masing, yang muaranya nanti setidaknya mereka dapat  meraih atau memiliki tiket ke SMPN melalui jalur prestasi akademik maupun jalur prestasi non akademik.

Alhamdulillah, gayung bersambut. Saat ini SDN RRI Cisalak telah membina puluhan bahkan ratusan siswa melalui jalur-jalur pilihan pengembangan diri ekstrakurikuler di Sekolah. Mulai dari Pencak Silat, Karate, Taekwondo, Klinik Sains, Seni Tari, Club Futsal yang dilatih oleh para guru dan instruktur terlatih yang mumpuni di bidangnya masing-masing.

Tujuannya jelas, bukan sekedar menambah keterampilan diri bagi mereka saja, namun  goalsnya adalah mereka bisa meraih prestasi di berbagai cabang olahraga dan seni yang setiap tahun di lombakan di ajang lomba lomba pendidikan di Kota Depok.

Perlahan tapi pasti, karena sesungguhnya kami menyakini, proses tidak akan mengkhianati hasil. Aku juga banyak belajar dari berbagai sumber, karena memang itu hobiku, membaca dan menulis. Beberapa catatan penting yang aku kira ini bisa menjadi bahan referensiku dalam memimpin.

Empat faktor menuju Kepemimpinan Tranformasional

Pertama, idealized influence. kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi guru dan karyawannya, dipercaya, dihormati dan mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan sekolah.

Kedua, inspirational motivation, kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan karyawannnya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam mencapai tujuan- tujuan pendidikan di sekolah.

Ketiga, intellectual stimulation, kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi di kalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah ke arah yang lebih baik.

Terakhir atau ke empat, individual consideration, kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi guru dan stafnya.

Seorang pemimpin atau leader setidaknya juga harus memiliki 4 sifat,

  1. Loyality; seorang pemimpin harus mampu membangkitkan rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan.
  2. Edicate; seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi dan mewariskan knowledge pada rekan-rekannya.
  3. Advice; memberikan saran dan nasihat dari permasalahan yang ada.
  4. Discipline; memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya.

Kepemimpinan transformasional berorientasi kepada proses membangun komitmen menuju sasaran organisasi dan memberi kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Dalam penelitian Burns tahun 1978 juga dijelaskan bahwa kepemimpinan transformasional merupakan proses yang di dalamnya para pemimpin dan pengikut saling memberikan ide konstruktif terkait moralitas dan motivasi yang lebih tinggi dalam budaya organisasi.

Kepemimpinan yang transformasional menyangkut nilai-nilai, terutama berupa nilai-nilai yang relevan bagi proses pemberdayaan organisasi seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.

Tiga komponen kepemimpinan transformasional ini meliputi: kharisma (proses), stimulasi intelektual (intellectual stimulation), dan perhatian yang diindividualisasi (individualized consideration).

Dimensi Kepribadian

Dalam Big Five Dimensions of Personality (lima Besar Dimensi Kepribadian) yang berhubungan dengan permasalahan menjadi seorang pemimpin yang efektif adalah:

  1. Ekstraversi, berupa kecenderungan pada sifat-sifat ramah, asertif dan aktif;
  2. Agreeableness, kecenderungan pada sifat-sifat baik hati, lembut, mempercaya dan dapat dipercaya;
  3. Conscientiousness (ketekunan), teratur, dapat diandalkan dan berorientasi pada kesuksessan;
  4. Keterbukaan pada pengalaman baru, kecenderungan pada sifat kreatif, imajinatif, perseptif dan memikirkan orang lain;
  5. Penyesuaian dan stabilitas emosi, kecenderungan pada sifat tenang, tidak tertekan dan tidak moody;

Lima Langkah Menjadi Pemimpin Transformasional

1. Sesuaikan kemampuan kita dengan lingkungan

Sesuaikan kemampuan kita dengan kondisi dan lingkungan kerja. Setiap orang memiliki kebutuhan sendiri dan memiliki kepribadian serta kemampuan yang berbeda-beda. Ingatlah bahwa rekan kerja kita bukan hanya sekedar pegawai, namun mereka adalah keluarga dan sahabat.

2. Jadilah teladan bagi rekan dan staf

Sebagai kepsek, kita dituntut untuk melakukan peraturan yang telah diterapkan terlebih dahulu. Bertanggungjawablah atas apa yang telah disepakati bersama. Pemimpin yang berintegritas, disiplin, dan bertanggung jawab akan dicintai dan dihormati rekan-rekan guru dan staf .

3. Bangun relasi yang baik

Pemimpin yang transformasional akan menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan di sekolah. Ingatlah bahwa pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu aset terpenting di sekolah. Jalinlah hubungan interpersonal dengan setiap rekan kerja. Anggaplah mereka sebagai oang tua, anak, atau, sahabat kita. Berolah raga bersama, atau mengadakan acara kebersamaan merupakan salah satu cara efektif untuk membangun hubungan baik.  Mereka akan semangat dalam bekerja.

4. Mendorong guru dan staf untuk menjadi kreatif

Sebagai pemimpin, kita dituntut untuk mengasah kreativitas mereka. Microsoft tidak akan berkembang tanpa usaha Bill Gates dan timnya. Begitu juga dengan Google Inc. yang tidak akan menemukan Google Glass tanpa kreativitas para pegawai.

5. Berani menghadapi Krisis

 

 

Arif Suryadi: Kepala Sekolah SDN RRI Cisalak

Baca juga

Tinggalkan Komentar