Beranda » PROFIL PENDIDIK » Guru Bicara » Dampak Buruk Gadget Bagi Anak Di Usia Dini

Dampak Buruk Gadget Bagi Anak Di Usia Dini

by Redaksi
0 comment 601 Pembaca

Penggunaan HP Berlebihan Beresiko Memberikan Dampak Buruk Pada Anak

Swara Pendidikan.co.id – Berangkat dari kekhawatiran seringnya melihat anak menggunakan gadget atau handphone dengan frekuensi yang cukup tinggi, sehingga seiring waktu berjalan melihatnya tumbuh dengan perubahan sikap yang kurang baik, saya coba tuangkan tulisan yang saya kutip dari berbagai sumber sebagai pengingat diri dan semoga bermanfaat juga untuk orang lain sebagai bentuk kehati-hatian dalam mendidik anak dan prilakunya hingga dewasa nanti.

Tingkat pemakaian handphone (HP) di masa pandemi ini semakin meningkat. Tidak hanya untuk orang dewasa, anak-anak usia dini juga termasuk pengguna HP yang cukup aktif, dikarenakan kebutuhan dalam pembelajaran secara daring di masa pandemi yang belum usai.

Walaupun alasan penggunaannya berbeda dengan orang dewasa, namun tetap saja penggunaan HP yang terlalu berlebihan bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Terlebih lagi jika tak adanya bimbingan dari orang tua. Berikut dampak negatif HP bagi anak usia dini:

1. Gangguan Tidur

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Boston College pada tahun 2012, sebanyak 75% anak berusia 9-10 tahun mengalami kesulitan tidur karena penggunaan gadget yang berlebihan tanpa pengawasan.

Tentunya, gangguan tidur ini juga bisa berdampak pada prestasi sekolah, karena otak dan tubuh yang tidak dapat beristirahat dengan baik di malam hari.

2. Sifat Agresif

Dampak negatif HP bagi anak selanjutnya adalah munculnya sikap agresif. Pasalnya, penggunaan HP yang berlebihan tidak hanya memberikan dampak buruk akibat radiasi, tapi juga dampak negatif yang didapatkan dari konten media yang dikonsumsi. Oleh sebab itu, para orang tua sebaiknya membatasi waktu penggunaan HP beserta memfilter konten-konten apa saja yang layak untuk dikonsumsi anak usia dini.

3. Mengganggu Pertumbuhan Otak Anak

Pada anak usia dini, pertumbuhan otak anak bertumbuh dengan sangat cepat. Pertumbuhan otak ini terus berlangsung hingga usia 21 tahun, dan juga dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan sekitarnya. Jika pemakaian HP pada sang anak terlalu berlebihan, hal ini dapat memberikan dampak buruk seperti keterlambatan kognitif, tantrum, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri. Untuk dapat mencegah dampak negatif HP bagi anak kecil, sebaiknya berikan mereka keleluasaan dalam menggunakan HP ketika mereka sudah menyentuh usia tertentu saja.

4. Sifat Ketergantungan Pada Gadget

Dampak negatif HP bagi anak selanjutnya adalah munculnya rasa ketergantungan terhadap gadget itu sendiri. Ketika sang buah hati terlalu sering atau lama menggunakan gadget atau HP, tentunya bisa muncul rasa ketergantungan dalam diri mereka.

Hal ini dapat mengakibatkan efek buruk dalam perkembangan fisik dan juga motoriknya. Misalnya, anak menjadi enggan berinteraksi langsung dengan orang sekitar, gangguan motorik, hingga kurangnya asupan makanan karena mereka terpaku pada layar HP.

5. Potensi Gangguan Mental Pada Anak

Penelitian di Bristol University pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa penggunaan gadget berlebihan pada anak yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko depresi, gangguan kecemasan, kurang perhatian, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya.

Dampak negatif HP bagi anak ini bisa disebabkan karena interaksi anak dengan sekitar, atau bahkan interaksi media sosial yang buruk, seperti tindak cyberbullying.

Untuk mencegah terjadinya dampak negatif HP bagi anak, diperlukan peranan orang tua di dalamnya. Jangan ragu untuk membatasi penggunaan gadget seperti HP dan tablet.

Misalnya, berikan pembatasan penggunaan gadget maksimal 2 jam setiap hari, atau berikan kebebasan menggunakan gadget hanya pada hari libur. Selain itu, jangan lupa untuk selalu mengawasi apa saja yang dilakukan anak dengan gadget tersebut untuk memfilter konten yang dikonsumsi.

Selain dengan membatasi waktu penggunaan gadget dan memberikan pengawasan ketat, diperlukan komitmen yang menjadi kewenangan pengambil kebijakan untuk membatasi penggunaannya

Secara umum dapat di gambarkan bahwa penggunaan HP yang berlebihan bagi anak dapat mengganggu pertumbuhan otak anak

Stimulasi berlebih dari gadget (hp, internet, tv, ipad, dll) pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan koginitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.

Bagi anak pembelajar di masa usia 12 tahun ke bawah atau usia remaja   disebabkan mereka harus memiliki gawai dalam mengikuti pembelajaran.

Maka peran orang tua sangatlah penting dalam pengawasannya secara ketat, sementara pihak guru atau tenaga pendidik yang memberikan pelayanan dalam  pembelajaran melalui daringpun dapat ikut membantu membatasi penggunaannya  sesuai kebutuhan waktu dalam menyampaikan hal-hal pokok pembelajaran secara efektif dan efisien saja, agar anak tidak terlalu ketergantungan dengan HP dalam mengerjakan tugas tugas yang diberikan oleh para pendidiknya.

Mengutip hasil   kajian,   survei,   dan   penelitian   Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang terungkap di   publik menunjukkan   fenomena kecanduan  gawai  pada  anak  saat  ini  berada  pada  situasi  mengkhawatirkan.

Tak  hanya menjadi  korban, anak-anak  juga  terlibat  dalam  sejumlah  kasus  yang  masuk  kategori tindak pidana.

Menurut Kepala  Departemen  Medik  Kesehatan  Jiwa  Fakultas  Kedokteran  Universitas  Indonesia Rumah  Sakit  Umum  Pusat  Nasional  Cipto  Mangunkusumo  (FKUI-RSCM)  Kristiana  Siste Kurnia   santi   mengatakan, penggunaan gawai pada anak dan remaja lebih dari 3 jam sehari menyebabkan mereka rentan kecanduan gawai.

Seperti yang diungkap Kristiana. Dirinya  merawat  seorang  pemuda  berusia  18  tahun  yang terancam drop out karena tidak pernah berangkat kuliah.

Sehari-hari, pemuda itu lebih sering  bermain  game online,  bisa  18  jam  sehari.  Agar  bisa  tetap  terjaga  saat  main  game, pemuda itu mengonsumsi sabu dan metamfetamin.

Dari riwayatnya, pemuda itu memiliki gawai  sejak  usia  6  tahun,  main  game  online  sejak  usia  13  tahun,  dan  mulai  kecanduan  di usia 17 tahun, dan sangat kecanduan di usia 18 tahun.

Dari sisi usia, anak yang rentan mengalami kecanduan gawai berada di rentang usia 13-18 tahun.  Pada usia  anak, bagian  otak,  yaitu  dorsolateral  prefivntal  cortex  yang  berfungsi untuk  mencegah  seseorang  bersikap  impulsif  sehingga  seseorang  bisa  merencanakan dan   mengontrol   perilaku   dengan   baik,   belum   matang.

Gangguan kesehatan jiwa

Penggunaan  gawai  pada  anak  dan  remaja  yang  lebih  dari  3  jam  dalam  sehari  dapat menyebabkan mereka rentan pada kecanduan gawai. Kecanduan game pada gawai saat ini mendapat   perhatian   dunia.

Organisasi   Kesehatan   Dunia   (WHO)   belum   lama   ini mengeluarkan International Classification of Disease (ICD) edisi ke-11 yang menyebutkan kecanduan game online sebagai gangguan kesehatan jiwa, yang masuk sebagai gangguan permainan atau gaming disorder.

Januari  lalu, Rumah  Sakit  Umum  Daerah  Koesnadi,  Bondowoso,  Jawa  Timur,  merawat dua  pelajar  SMP  dan  SMA  yang  kecanduan  gawai  dalam  tingkat  yang  sudah  parah.  Ia ingin membunuh orangtuanya yang melarang menggunakan gawai.

Fenomena anak kecanduan gawai, menurut dr Tjhin Wiguna, psikiater anak dan remaja di  Departemen  Medik  Kesehatan  Jiwa  FKUI-RSCM.  mulai  meningkat  dalam  tiga  tahun terakhir.

Jumlah  orangtua  yang  datang  meminta  konsultasi  ke  lembaga-lembaga  perlindungan anak atau membawa anaknya ke psikolog dan psikiatri juga meningkat.

Kecenderungan  meningkatnya  kasus  anak  kecanduan  gawai  tersebut  terkait  dengan tingginya  penetrasi  internet  di  Indonesia.  Berdasarkan  Survei  Asosiasi  Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, sebanyak 143,26 juta orang atau 54,68 persen dari populasi Indonesia menggunakan internet Penetrasi pengguna internet terbesar di usia  13-18  tahun  (75,50  persen).  Gawai  adalah  perangkat  yang  paling  banyak  dipakai untuk mengakses internet (44,16 persen).

Menteri  Pemberdayaan  Perempuan  dan  Perlindungan  Anak,  Yohana  Susana  Yembise pun mengingatkan  orangtua  untuk  mewaspadai  bahaya  kecanduan  gawai  setelah mencuat berbagai kasus anak-anak yang kecanduan gawai.

Bahkan, sejumlah anak yang kecanduan  gawai  harus  dibawa  ke  psikolog,  psikiater,  dan  tempat  rehabilitasi  khusus karena pikiran dan jiwa anak sudah terganggu.

Dari paparan ini tentunya analisa hasil penelitian para ahli ini akan lebih efektif  apabila semua pihak yang terlibat dalam masa tumbuh anak dilibatkan dalam mengantisipasinya agar ikut membatasi penggunaan HP bagi anak-anak usia dini dalam penggunaannya. Orang tualah yang paling berperan dalam melindungi kesehatan anak-anaknya sendiri dari bahaya negatif terpapar gadget yang semakin merusak jiwa anak. ***

Penulis       : Arif Suryadi

Editor         : Agus

Tinggalkan Pesan

Artikel Terkait