Peragaan Busana Berbahan Bekas Warnai Festival Kebahasaan SMA Negeri 10 Kota Bogor

by Redaksi
0 Komentar 177 Pembaca

Swara Pendidikan (Kota Bogor) – Berbagai penampilan potensi dari Siswa SMA Negeri 10 Kota Bogor  menghiasi acara Festival Kebahasaan, mulai dari modern dance, musik, drama, hingga fashion show.

Uniknya,  busana fashion show  hasil karya siswa ini terbuat barang-barang bekas yang didesain menjadi busana ciri khas  berbagai negara.

Acara memperingati Bulan Bahasa berlangsung meriah dihalaman Sekolah  yang diselenggarakan 27 oktober lalu. Hadir pada kesempatan tersebut, kepala KCD Wilayah  2, Asep Sudarsono didampingi Kepala Sekolah. Enung Nuripah,  serta perwakilan komite SMAN 10 Bogor

Kepala SMAN 10 Kota Bogor, Enung Nuripah mengatakan, festival ini bertujuan untuk menguatkan karakter profil pelajar pancasila di sekolah.

“Ini kami selenggarakan setiap tahun. Dan di kesempatan tahun ini merupakan gelaran kedua setelah kami kembali menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pasca pandemi,” kata Enung

Menurutnya, terdapat aspek kreatifitas, kemandirian, gotong-royong, bernalar kritis dan kebhinekaan global dalam profil pelajar pancasila.

“Semoga acara seperti ini dapat menjadi wadah kita untuk menunjukkan kreativitas dan potensi terbaik yang kita miliki, “ Harap Enung

Ketua Pelaksana Fetival Bulan Bahasa, Andi Roisya Marsya menuturkan, Festival ini  menyajikan penampilan-penampilan yang sarat dengan kemampuan berbahasa seperti drama dan menyanyi.

“Selain seru-seruan festival ini, semoga  bisa menyadarkan generasi muda pentingnya kemampuan berbahasa di era global seperti sekarang,” tuturnya

Andi menambahkan, selain ada penampilan dari kelas, festival juga jadi ajang anggota ekstrakurikuler terutama di bidang bahasa, sastra, dan literasi. Menampilkan eksistensi serta hasil jerih payah latihan mereka selama ini

“Saya berharap, event seperti ini  bisa menjadi salah satu program kerja OSIS,  bisa mendorong potensi para siswa terutama di bidang Bahasa,” imbuhnya

Sebagai Informasi, busana yang dipakai merupakan bahan bekas, bukan kain sutera berharga mahal atau payet-payet yang biasa digunakan desainer profesional, melainkan bahan daur ulang tak bernilai.

Contohnya sampah plastik aneka warna, koran, hingga potongan kardus. Meski begitu, hasilnya tak kalah cantik. Busana ini justru tampak menarik dan tidak terlihat dibuat dari bahan-bahan bekas.

Tak hanya dari sisi estetika, para model ini juga memamerkan kemampuan intelektual mereka dalam berbahasa. Secara bergantian mereka menyapa dan bekenalan dengan ratusan penonton yang memadati arena fashion show menggunakan bahasa asing sesuai negara asal busana yang mereka kenakan. (NJ)

Baca juga

Tinggalkan Komentar