Memasuki gerbang SDN RRI Cisalak pasca pandemi Covid-19 adalah sebuah tantangan batin tersendiri bagi saya. Selama dua tahun, lorong-lorong sekolah sepi, dan pembelajaran hanya terhubung lewat layar daring yang dingin. Ketika KBM tatap muka kembali dibuka di tahun ketiga, saya menyadari bahwa sekolah ini tidak bisa sekadar “berjalan biasa”. Kita harus berlari untuk mengejar ketertinggalan. Namun, kenyataan di lapangan tidak semudah membalik telapak tangan. Mengajak guru keluar dari zona nyaman mengajar daring yang statis menuju rentetan program baru bukanlah perkara instan.
Saya mulai memperkenalkan program penghijauan, Jumat Literasi & Numerasi, Jumat Taqwa, hingga Jumat Sehat. Tak berhenti di situ, kami membuka keran prestasi melalui Klinik MIPA, Klub Bahasa Inggris, Sanggar Seni, hingga beragam ekstrakurikuler seperti Silat, Karate, Taekwondo, Tari, Renang, Futsal, dan Pramuka. Mengapa sebanyak itu? Jawaban jujurnya adalah demi masa depan siswa kelas 6. Berada di zona terjauh dari SMP Negeri mengharuskan kami menciptakan “tiket” jalur prestasi bagi mereka. Awalnya, hambatan dan resistensi muncul karena program-program ini dianggap merepotkan. Banyak yang apriori dan menyindir lugas di status whastapp para guru. Namun, melalui pendekatan humanis yang terus-menerus dan pemahaman bahwa ini adalah kebutuhan mendesak bagi lulusan, perlahan tapi pasti, seluruh elemen sekolah mulai bergerak searah.
Hasilnya nyata. Selama tiga tahun terakhir, SDN RRI Cisalak bertransformasi menjadi lumbung prestasi diantarannya menjadi Sekolah Adiwiyata Nasional 2023, Sekolah Penggerak Angkatan 3, sekolah rujukan Kementerian untuk Numerasi dan PDB, hingga Perpustakaan Terbaik tingkat Kota. Puncaknya, di penghujung Desember 2025, kami meraih Juara 1 Sekolah Ramah Anak tingkat Kota Depok. Semua ini lahir karena satu prinsip yaitu kami bukan Superman, melainkan Super Team. Melalui metode Super Learning Team, setiap program memiliki ‘Kapten’ dan ‘Ko-Kapten’ yang bertanggung jawab penuh, menciptakan ekosistem kerja yang terstruktur namun tetap hangat.
Berdasarkan perjalanan tersebut, saya meyakini ada lima pondasi utama untuk menjadi pemimpin satuan pendidikan yang tidak hanya mengatur, tetapi dirindukan kehadirannya yaitu sbb :
1. Memuliakan Guru sebagai Jantung Pergerakan
Seorang kepala sekolah yang dirindukan paham bahwa guru adalah nadi sekolah. Menghargai mereka bukan sekadar soal administrasi, melainkan tentang kepekaan nurani. Di SDN RRI Cisalak, saya melihat bahwa guru yang dihargai secara manusiawi akan mengajar melampaui kewajiban. Mereka tidak lagi bekerja karena instruksi, melainkan karena keyakinan bahwa setiap peluh mereka adalah investasi bagi masa depan anak didik.
2. Arahan yang Menggerakkan, Bukan Memerintah
Instruksi yang kaku seringkali hanya menghasilkan kepatuhan semu. Pemimpin sejati harus mampu mengubah perintah menjadi undangan untuk berkolaborasi. Visi sekolah harus disampaikan dengan nada yang menguatkan, bukan mengancam. Ketika guru-guru kami memahami bahwa program ekstrakurikuler dan akademik adalah jembatan bagi siswa menuju SMP Negeri, mereka bergerak dengan kesadaran, bukan keterpaksaan.
3. Keberanian Mengakui Keterbatasan
Di era yang serba cepat, kepala sekolah tidak perlu menjadi “Google Berjalan”. Menunjukkan kerendahan hati intelektual dengan berani berkata, “Saya belum tahu, mari kita pelajari bersama,” justru membangun kepercayaan tim. Sikap reflektif ini selaras dengan semangat John Dewey—bahwa belajar adalah proses tanpa henti. Saat pemimpin mau belajar, maka guru dan siswa pun akan terinspirasi untuk terus bertumbuh.
4. Keadilan sebagai Napas Kepercayaan
Objektivitas adalah kunci agar semangat tim tidak rontok di tengah jalan. Tidak boleh ada “anak emas” dalam manajemen sekolah. Apresiasi harus disampaikan secara proporsional dan kesempatan pengembangan diri diberikan secara merata.
Keadilan inilah yang melahirkan rasa aman psikologis, sehingga kolaborasi antar-guru tumbuh tanpa rasa curiga.
5. Membangun “Super Learning Team”
Dunia pendidikan terus bertransformasi. Kepala sekolah tidak boleh bertahan dalam zona nyaman yang usang. Melalui pembentukan tim yang solid—di mana ada pembagian peran Kapten dan Ko-Kapten—tanggung jawab terdistribusi secara profesional. Seperti konsep Learning Organization dari Peter Senge, sekolah yang unggul adalah institusi yang terus belajar dan berani menyesuaikan gaya kepemimpinan demi kepentingan terbaik bagi siswa.
Pada akhirnya, SDN RRI Cisalak membuktikan bahwa sekolah hebat tidak lahir dari gedung yang megah semata, melainkan dari hubungan manusiawi yang hangat dan visi yang hidup. Pemimpin pendidikan sejati adalah mereka yang hadir sebagai penguat, bukan penghakim, sebagai penggerak, bukan sekadar pengatur.
Kepala sekolah yang dirindukan adalah dia yang paling mampu menyalakan cahaya pada orang-orang di sekelilingnya, memastikan bahwa setiap individu merasa berharga dan memiliki peran dalam melukis masa depan.
Penulis adalah Kepala Sekolah SDN RRI Cisalak dan aktif menulis di Asosiasi Guru Penulis PB PGRI
Konten ini dilindungi. Dilarang menyalin atau menayangkan ulang sebagian maupun seluruh isi artikel untuk akun media sosial komersil atau kepentingan komersial lainnya tanpa izin tertulis dari Redaksi.



