Swara Pendidikan (Pancoranmas, Depok) — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Sekolah Dasar (SD) Kecamatan Pancoranmas resmi dibuka pada Rabu (6/5/2026) di SDN Anyelir 1. Kegiatan ini diikuti oleh 132 peserta dari 33 sekolah yang terdiri atas 51 siswa laki-laki dan 81 siswa perempuan.
Dalam ajang tersebut, panitia mempertandingkan tujuh mata lomba, yaitu borangan, nembang pupuh, aksara Sunda, ngadongeng, biantara, maca sajak, dan carpon. Setiap cabang lomba dinilai oleh tiga juri yang berasal dari kalangan profesional atau seniman, pengawas sekolah, serta kepala sekolah atau guru bahasa Sunda.
Penanggung jawab kegiatan, Dudung Badrujaman, M.Pd., menyampaikan bahwa festival ini memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada peserta didik agar mengenal dan mempelajari bahasa serta budaya Sunda. Hal ini dinilai relevan mengingat Kota Depok berada di wilayah Provinsi Jawa Barat.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik dapat lebih mencintai dan melestarikan budaya daerahnya. Jika bukan generasi muda yang menjaga, maka budaya tersebut bisa tergerus. Untuk bisa menjaga, tentu harus diawali dengan memahami dan mengenalnya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan FTBI menjadi salah satu upaya pelestarian budaya daerah di tengah keberagaman budaya Indonesia. Ke depan, perwakilan terbaik dari setiap daerah akan melaju ke tingkat yang lebih tinggi hingga nasional untuk menampilkan bahasa dan budaya masing-masing.
Sementara itu, Ketua Panitia, Hidayat, M.Pd., mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya FTBI tahun 2026. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari peserta, pembimbing, panitia, juri, orang tua, hingga pengawas sekolah.
“Alhamdulillah, setiap tahun jumlah peserta relatif stabil. Hal ini menunjukkan tingginya antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan ini. Kami berharap kegiatan ini terus menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap budaya Sunda,” kata Hidayat.
Festival Tunas Bahasa Ibu Kecamatan Pancoranmas diharapkan dapat terus menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan bahasa serta budaya daerah. (Amr)

























