Cerpen : HP dan Muridku

by Redaksi
2 comments 775 Pembaca

Penulis : Palupi Umiarsih, M.Pd, Guru Kelas, SDN Sukmajaya 5 Depok

 

Tak pernah terpikir oleh ku dan kita semua akan keadaan sekarang ini, dimana pembelajaran di sekolah tidak diperkenankan tatap muka langsung antara guru dengan murid karena dari tahun ke tahun yang dinanti seorang guru atau murid adalah bisa bertemu langsung  begitu pun sebaliknya.

Tidak hanya dari usia TK bahkan sampai perguruan tinggi, semua harus belajar secara jarak jauh atau PJJ dengan belajar di rumah melalui jaringan internet menggunakan gadget atau Handphone.

Penggunaan Handphone atau HP kini mulai menambah fungsinya sebagai alat pembelajaran sehari-hari bagi seorang guru, yang awalnya HP adalah sebagai alat komunikasi atau penghubung antara yang jauh menjadi dekat dan sebagai teknologi untuk mengetahui informasi terkini dan ter-update juga untuk mencari info lainnya di seluruh dunia.

HP juga merupakan tempat untuk ajang selfi dan pamer kekayaan si pemiliknya dengan memiliki HP yang terkini akan merasa semakin percaya diri dan dapat meyakinkan orang lain keberadaan dirinya.

Kita sangat bersyukur bisa hidup di antara angkatan ini atau disebut angkatan milenial dimana semua serba mudah di jangkau melalui HP, betapa tidak! yang tidak memiliki  transportasi pribadi untuk bepergian bisa langsung cari di HP melalui aplikasi Grab, mau makan tanpa keluar rumah dan ke restoran tinggal klik aplikasi Grab Food.

Ingin belanja tanpa harus pergi ke toko atau pusat pembelanjaan kita bisa langsung cari aplikasi shopping bahkan untuk berobat kitapun bisa langsung konsultasi dengan dokter tanpa harus datang, dan masih banyak aplikasi lainnya yang dapat kita gunakan di HP.

Mungkin karena hal inilah maka sekolah juga tidak mau ketinggalan untuk turut serta menggunakan HP sebagai media pembelajaran terlebih di masa pandemi seperti saat ini dengan  musibah yang melanda dunia yaitu adanya virus Corona.

Dengan menggunakan HP diharapkan bisa meminimalkan penyebaran virus corona dengan menjaga siswa-siswa untuk tidak pergi ke sekolah melainkan belajar jarak jauh atau belajar dari rumah.

Sebagai guru aku merasa sangat sedih karena tidak dapat menyampaikan materi ke siswa secara langsung. Apalagi aku adalah guru baru yang baru saja dimutasi disekolah yang sekarang, dimana aku belum sama sekali mengenal wajah-wajah muridku, walaupun bisa berkomunikasi lewat HP,  namun tidak seindah saat bisa langsung bertatapan di kelas seperti biasanya, bisa tertawa saat ada anak yang lucu, bisa marah saat anak ada yang  membuat masalah. Bahkan bisa langsung menasehati jika ada anak yang sedang ada masalah.

Dengan HP kita hanya bisa berkomunikasi seadanya, karena terbentur dengan biaya yaitu kuota. Belum lagi anak-anak yang tidak mampu membeli HP yang kekinian, hanya mempunyai HP jadul.

Seperti salah satu muridku yang keadaan ekonominya sangat mengenaskan. Aku tahu saat tugas-tugas yang diberikan melalui WhatsApp (WA) Grup di  HP,  bahkan sudah ku coba menggunakan aplikasi yang lain untuk pembelajaran ke anak seperti Google Prom, Google Class Room, mengirimkan vidio-vidio pembelajaran agar anak tidak bosan dan bersemangat.

Pagi itu seperti biasanya, aku selalu menyapa murid-muridku dengan ucapan selamat pagi dan melakukan kegiatan rutin sebelum belajar dimulai.

“Selamat pagi anak-anak yang baik, apa kabar semua? ”Semoga dalam keadaan sehat. Isi dengan kata ”hadir” ya. Setelah itu, baru kamu menyelesaikan tugas yang diberikan.”

Satu persatu muridku  membalas denga menulis kata ”hadir”  ke HP ku melalui WA, sampai pukul 12.00  WIB. Aku tunggu semua menjawab, tapi sampai waktu yang ditentukan masih ada satu muridku yang bernama Murni, belum membalas WA seperti teman-temannya. Akhinya ku telepon anak yang bernama Murni tapi tidak diangkat-angkat bahkan sampai waktunya kutambah 1 Jam, belum juga ada berita apa dia mengikuti atau tidak. Ku tinggalkan pesan  WA agar nanti menghubungiku.

Kutunggu-tunggu Murni menyerahkan tugas tapi sampai magrib pun belum mengirim, ditelepon tidak diangkat juga. Kuputuskan menunggu sampai besok pagi, mudah-mudahan Murni  mengirimkan tugasnya. Hari berikutnya seperti biasa aku kembali menyapa dan memberikan pembelajaran yang nantinya diberikan  murid-murid dan dikumpulkan melalui HP.

Telah tiga hari Murni tidak mengrimkan tugasnya melalui WA. Tapi dia juga tidak ada kabar,  ku cari info dimana alamat rumahnya dan akhirnya aku kunjungi rumahnya untuk memastikan alasan kenapa tidak hadir ke sekolah meskipun hanya melalui  Daring.

Ku teleusuri jalan setapak yang becek karena habis hujan semalam, ku cari alamatnya dengan menggunakan googel Map agar tidah tersesat, tak lama alamat yang kucari ketemu.

Berjejer petak-petak rumah kontrakan yang salah satunya adalah rumah Murni. Sebelum aku masuk aku mendengar seseorang sedang menangis meratapi ibunya yang sakit. Ku lihat seorang anak dengan berpakaian seadanya dan seorang ibu yang tiduran di kasur kecil tanpa alas sprei.

“ Ibu sembuh ya, jangan lama-lama sakitnya.” Ku dengar anak itu berbicara kepada ibunya sambil tak henti-hentinya menangis.

Aku tak kuasa juga menahan sedih melihat keadaan ini, ku ucapkan salam dan menuggu jawaban untuk dipersilakan masuk. Setelah terdengar suara langkah kaki dan menyambutku dengan ucapan salam juga serta mempersilakanku masuk.

“Assalamualaikum, apakah ini rumah Murni?” tanyaku pada anak yang keluar menyambut.

“Waalaikumsalam, ia benar, silakan masuk! maaf keadaan rumah kami ini bu.”

“ Engga apa-apa Murni,” jawabku.

“Silakan duduk bu, tapi maaf tidak ada kursinya jadi dibawah,” Jawab Murni malu.

Akupun duduk dekat ibunya Murni yang tiduran di kasur.

“Maaf, keadaan kami begini bu guru,” ibu Murni berkata lirih sambil terus merebahkan badannya di kasur karena sakit.

“Iya, bu. Engga apa-apa,” jawabku sambil memegang tangan ibunya Murni sebagai tanda menghargainya dan penguat supaya sabar dalam menghadapi cobaan.

“Ibu hanya ingin bertanya dan tahu apa alasan kamu tidak ke sekolah dan menyerahkan tugas-tugas?”

“Maaf bu, ibu saya sakit dan HP saya tidak ada pulsanya bu, jadi saya belum mengerjakan tugas, karena saya harus menjaga dan merawat ibu saya,” kata Murni.

“ Oh iya sudah engga apa-apa yang penting lain kali bisa ya,” jawabku.

“Ibu Murni sakit apa?”

“Entahlah bu, tapi sudah seminggu ibu tidak bisa bangun dan lemas,” jawab Murni.

“Ayah juga sudah lama tiada karena sakit,” Murni mencoba menjelaskan tanpa di minta. Lalu dia terdiam dan meneteskan airmata.

Aku sangat terenyuh dan merasa iba dengan keadaannya.

Sambil menangis Murni terlihat tampak ikhlas menerima apa yang sudah ditakdirkan kepadanya. Aku hanya memotivasi agar Murni selalu tabah dan tegar.

Murni hanya mengangguk tanpa berkata. Murni menghampiri ibunya .

“Baiklah ibu pamit ya, Murni.”

“Saya pulang ya ibu, cepat sembuh ya Bu.”

Tak lama akupun pamit pulang kepada Murni.

Sejak saat itu sudah lama Murni tidak juga mengikuti pembelajaran yang aku berikan, dan menyerahkan tugas yang diberikan karena ku lihat di HP dia sudah lama tidak aktif bahkan sampai mendekati Penilaian Akhir Semester juga tidak datang.

Aku coba untuk menghubungi tapi tidak pernah diangkat, mengirim pesanpun juga tidak di balas. Akhirnya aku berusaha kembali lagi datang kerumahnya, ternyata rumahnya tempat di sewa kemarin sudah tidak ada, kata orang yang punya rumah itu,  Murni sudah pindah dan tidak tahu pindah kemana.

Aku pun binggung harus mencari kemana karena alamatnya pun tidak ada.Aku hanya berharap semoga Murni tidak sampai putus sekolah. Siapakah yang dapat disalahkan jika keadaannya seperti ini?

Selama ini tak terpikir bagaimana murid-murid yang lain jika keadaannya seperti Murni, yang selama ini harus tetap sekolah melalui daring, tapi tetap juga harus memikirkan hidup yang terus berjalan dan dihadapi. Sambil berjalan aku telusuri jalan kecil yang berbatu melewati deretan rumah-rumah yang berdempetan satu sama lain.

Perlahan ada yang memanggil namaku. Tapi aku tak berpaling takut salah dengar. Tak lama datang seorang anak berkerudung putih dan berpakaian rapi, menghampiriku.

“Bu Guru.”  Tangannya mencium tanganku untuk salim.

“Murni?” Tanya ku kaget.

“Iya bu,  maaf saya tidak memberitahu  kalau saya pindah rumah ikut sama saudara bu.”

“Alhamdulilah, ibu saya sudah sembuh dan bisa berjualan lagi.

“Tidak apa-apa sayang yang penting kamu sekolah terus ya dan kirimkan tugasnya, kamu anak yang berbakti.“ ***

 

PROFIL PENULIS :

Palupi Umiarsih, M.Pd. Lahir pada tanggal 4 Juli 1971 di Jakarta. Alumni SPGN 7 Lubang Buaya Jakarta Timur Tahun 1990. Mengajar di Taman Kanak-Kanak TK Harapan Bahagia  Depok sejak 1991-2005. Aktivitas pada saat ini sebagai guru PNS di SDN Mekarjaya 14 Depok sejak 2016-2019 dan tahun 2020 mutasi di SDN SUKMAJAYA 5 Depok. Pendidikan terakhir S2 PPKn di STKIP Arrahmaniah Pondok Terong Depok.

Motto : Bekerja Dengan Ikhlas

HP     : 081384785922

Email : palupiumiarsih74@gmail.com

Tinggalkan Pesan

2 comments

Anonymous 23/12/2021 - 6:01 am

Alhamdulillah kereenn 🙏🏻😊

Reply
Anonymous 23/12/2021 - 7:05 pm

Cerita ini sebuah perjalanan hidup,semua ALLAH yg mengatur,manusia hanya hrs lebih banyak bersabar,tidak semua manusia punya kekayaan,tapi semua manusia punya kesabaran,ini motivasi setiap manusia harus sabar menghadapi hidup ini,

Reply

Baca juga