Namaku Siti Nur Azizah (47)
Dua puluh lima tahun aku berdiri di depan papan tulis di sebuah SD negeri pinggir kota. Aku bukan guru di daerah terpencil, bukan pula yang sering disebut dalam laporan keberhasilan. Aku hanya guru honorer yang masih belajar bertahan.
Setiap pagi aku mengikat jilbabku di depan cermin retak rumah kontrakan kecil. Anak bungsuku sering memeluk kakiku sambil bertanya,
“Bu, hari ini pulang jam berapa?”
Aku tersenyum dan menjawab,
“Seperti biasa, Nak. Doakan ibu, ya.”
Di sekolah, murid-murid menyambutku dengan suara riang.
“Assalamu’alaikum, Bu Nur!”
Suara itu selalu menguatkanku, meski kadang perutku mengajar dalam keadaan lapar.
Suatu hari, seorang muridku menarik ujung bajuku.
“Bu, kalau besar nanti aku mau jadi orang penting biar bisa bikin ibu-ibu guru senang,” katanya polos.
Aku tertawa kecil, mengusap kepalanya.
“Jadilah orang baik dan jujur dulu, Nak. Itu yang paling penting.”
Aku tak pernah bilang pada mereka bahwa aku menjahit baju sampai larut malam. Bahwa kadang aku menghitung uang dengan cemas, memastikan cukup untuk membeli beras dan buku tulis anak-anakku. Sejak ayah mereka berpulang, aku belajar kuat dalam diam.
Ketika kabar itu datang aku diangkat menjadi PPPK paruh waktu aku pulang dengan mata berbinar. Anak-anakku memelukku.
“Alhamdulillah, Bu,” kata anak sulungku.
Aku mengangguk, menahan harap agar tak terlalu tinggi.
Namun tak lama kemudian aku mendengar kabar lain.
Ada program baru.
Ada pegawai yang langsung menjadi PPPK penuh waktu, bahkan PNS.
Malam itu, anak-anakku tertidur. Mesin jahit berhenti. Aku duduk sendirian, memandangi kain seragam sekolah yang belum selesai. Benang terlepas dari jarum.
Dalam diam aku bertanya:
Apakah kami benar-benar terlihat?
Apakah tangan yang mengajarkan huruf dan angka ini tak cukup berjasa?
Air mata jatuh tanpa suara.
Yang paling menyakitkan bukanlah tentang jabatan.
Melainkan bayangan suatu hari nanti
Aku harus berdiri memohon kebijakan di hadapan orang yang dulu aku ajari mengeja namanya sendiri, harus berhadapan pada anak-anak yang dulu kupandu membaca?
Sedih ku bukan karena aku ingin dihormati, tapi karena aku ingin diakui telah berjuang bersama.
Keesokan paginya aku kembali ke kelas.
Seorang murid menghampiriku dan berkata pelan,
“Bu, ibu guru itu pahlawan, ya?”
Aku terdiam, lalu mengangguk.
Aku mungkin bukan siapa-siapa di atas kertas kebijakan.
Tapi di ruang kelas kecil ini, aku masih dibutuhkan.
Dan selama masih ada anak-anak yang memanggilku Bu Guru dengan mata berbinar,
aku akan tetap datang,
tetap mengajar,
dan tetap percaya
bahwa tak satu pun doa guru yang sia-sia.
Cerpen karya: Amr.As
Nama pena: arshanda ceria





Terjawab, terkisah juga .. cerita guru honorer 👍🏻🥹
😭😭😭😭 hampir sama dengan “..”??
Tapi dalam doa semoga harapan ku di Ijabah Allah Aamiin… 🤲🏻
Guru dalam pintanya tak pernah luput dari doa agar muridnya senantiasa dalam kebaikan dan kebermanfaatan ilmu, menjunjung adab dan kepatuhan ibadah.
Mewakili sekali Pak….