Swara Pendidikan (Purwakarta) – Pagi itu, Kampung Kertajaya, Desa Sukajadi, Kecamatan Pondoksalam, tak lagi sama. Derap langkah sepatu lars, suara alat berat, dan lalu-lalang warga memecah kesunyian yang selama ini akrab bagi penduduk setempat.
Di sudut lapangan, Abah Udi (85) duduk termenung. Matanya menyapu keramaian dengan campuran rasa kaget dan haru. Seumur hidupnya, ia tak pernah melihat kampungnya seramai ini. “Biasanya sepi, sekarang jadi ramai sekali. Saya sampai bingung,” ucapnya lirih.
Kehadiran program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0619/Purwakarta seolah menjadi titik balik bagi Kampung Kertajaya. Wilayah yang sebelumnya terkesan tertinggal, kini perlahan berbenah melalui sentuhan pembangunan dan kebersamaan.
Tak hanya menghadirkan pembangunan fisik seperti jalan desa, tembok penahan tanah (TPT), gorong-gorong, serta perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu), TMMD juga menyentuh sisi sosial masyarakat. Kegiatan nonfisik seperti penyuluhan, pelayanan publik, khitanan massal, hingga bazar murah turut memberikan dampak langsung bagi warga.
Bagi masyarakat, program ini bukan sekadar pembangunan, melainkan jawaban atas harapan panjang akan kesetaraan.
Ketua RW setempat, Maski, menyampaikan bahwa kehadiran TMMD membawa perubahan nyata. Ia berharap, selain pembangunan infrastruktur, aspek keamanan dan kesehatan juga mendapat perhatian berkelanjutan.
“Di sini masih rawan kehilangan ternak seperti kambing dan sapi. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, keamanan bisa lebih terjaga. Selain itu, kami juga ingin pelayanan kesehatan lebih dekat dan mudah diakses,” ungkapnya.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menegaskan bahwa TMMD merupakan bentuk nyata sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan desa.
“TMMD adalah wujud gotong royong yang sesungguhnya. Program ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, program tersebut selaras dengan visi pembangunan daerah dalam mewujudkan Purwakarta Istimewa melalui penguatan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengajak masyarakat meneladani nilai-nilai kesederhanaan yang selama ini digaungkan oleh Dedi Mulyadi.

“Kesederhanaan harus menjadi bagian dari kehidupan. Termasuk dalam pernikahan, jangan sampai menjadi beban karena gengsi. Yang utama adalah keberkahan, bukan kemewahan,” katanya.
Nilai tersebut, lanjutnya, sejalan dengan semangat TMMD yang menitikberatkan pada pembangunan dari desa, dengan kekuatan kebersamaan dan kemandirian.
Sementara itu, Dandim 0619/Purwakarta, Letkol Inf Ardha Carirova Pariputra, menjelaskan bahwa TMMD ke-128 dilaksanakan selama 30 hari dengan fokus pada pembangunan fisik dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kami membangun akses jalan untuk mendukung mobilitas dan ekonomi warga. Di sisi lain, kami juga melaksanakan kegiatan nonfisik seperti penyuluhan sosial, khitanan massal, dan bazar murah sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. “TMMD bukan hanya milik TNI, tetapi milik kita bersama. Dengan kebersamaan, kita bisa menyelesaikan seluruh target yang telah direncanakan,” tambahnya.
Pembukaan TMMD ke-128 tahun 2026 digelar di lapangan sepak bola Kampung Kertajaya, Rabu (22/4), dengan mengusung tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.”
Kini, perlahan namun pasti, Kampung Kertajaya tak lagi identik dengan kesunyian. Di balik hiruk-pikuk yang sempat membuat Abah Udi tertegun, tumbuh optimisme baru bahwa desanya sedang bergerak menuju masa depan yang lebih layak, setara, dan bermartabat. ***




