Swara Pendidikan (Cipayung, Depok) — SMK Al Muhtadin menggelar kegiatan In House Training (IHT) bertema pendidikan karakter Pancawaluya selama dua hari, Kamis–Jumat (16–17 April 2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis sekolah dalam memperkuat pembentukan karakter siswa di tengah tantangan era digital.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Muhtadin, H. Saefudin Zuhri, S.I.P., Kepala SMK Al Muhtadin Umie Poerwanti, S.AB., serta tiga narasumber, yakni M. Syaikhi, S.Pd., M.M., Dindin Kurnia, S.Pd.I., M.Si., dan Dini Nur Aini, M.Pd.
Sebanyak 55 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri atas guru, tenaga kependidikan, karyawan, staf yayasan, komite sekolah, hingga perwakilan peserta didik. Pelatihan ini difokuskan pada penguatan nilai-nilai karakter melalui pendekatan Pancawaluya.
Ketua YPI Al Muhtadin, H. Saefudin Zuhri, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran pendidik dalam membentuk karakter siswa.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah agar siswa memiliki karakter yang baik dan mampu meraih kesuksesan. Hal tersebut sangat bergantung pada peran bapak dan ibu guru dalam membimbing mereka,” ujarnya.
Ia juga berharap para pendidik dapat mengikuti kegiatan dengan optimal serta mampu mengimplementasikan hasil pelatihan dalam proses pembelajaran di sekolah.
“Program ini sangat baik. Saya berharap bapak dan ibu dapat mengikuti dengan maksimal dan menerapkannya setelah kegiatan IHT ini selesai,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMK Al Muhtadin, Umie Poerwanti, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan karakter, baik bagi guru maupun siswa.
“Di era digitalisasi saat ini, kita dituntut menjadi pendidik yang bijak. Siswa tidak hanya dituntut kompeten secara akademik, tetapi juga harus memiliki karakter yang baik,” katanya.
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan dalam dunia pendidikan, mulai dari faktor lingkungan, sosial kemasyarakatan, hingga kesehatan mental siswa. Menurutnya, nilai-nilai Pancawaluya seperti cageur, bageur, bener, pinter, dan singer menjadi landasan penting dalam membentuk karakter generasi muda.
Pengawas sekolah, H. M. Syaikhi, turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai program ini sebagai langkah positif dalam mewujudkan pendidikan yang beradab, bermoral, dan berorientasi pada kecerdasan.
“Perubahan dapat dimulai dari kelas-kelas di sekolah. Pancawaluya bertujuan membentuk insan kamil, yaitu manusia yang utuh secara karakter dan intelektual,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses berkelanjutan setelah kegiatan berlangsung.
Menurutnya, keberhasilan program pendidikan karakter sangat ditentukan oleh lima aspek utama, yaitu konsistensi, kekompakan, keteladanan, keberlanjutan, serta komitmen bersama dalam penerapannya di lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan ini, SMK Al Muhtadin diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan berdaya saing di masa depan. (Amr)



