Transformasi digital telah mengubah pola kita belajar dan mengajar. Ruang kelas kini tidak selalu harus ditandai oleh adanya papan tulis, bangku kuliah, dan tatap muka langsung. Ruang itu sudah berpindah ke layar gawai, platform pembelajaran daring, serta sistem evaluasi berbasis aplikasi. Sebagai dosen, saya mengakui bahwa teknologi telah menghadirkan efisiensi luar biasa. Namun, di saat yang bersamaan, saya juga merasakan adanya sesuatu yang memudar secara perlahan. Fenomena tersebut adalah sentuhan humanisme dalam pendidikan.
Sebagai pendidik, kita bisa merasakan bahwa lingkungan digital bekerja dengan logika yang dingin dan kaku. Segalanya harus terukur, terdokumentasi, dan sesuai prosedur sistem. Kehadiran peserta didik diwakili oleh tanda centang, partisipasi dinilai dari jumlah unggahan, dan pemahaman direduksi menjadi skor ujian daring. Dalam situasi ini, relasi manusia kerap tergantikan oleh relasi antarmuka.
Saya teringat satu pengalaman mengajar kelas daring. Kamera sebagian besar mahasiswa mati. Layar menampilkan nama-nama tanpa wajah. Saat menjelaskan materi, saya bertanya, “Apakah sampai di sini jelas?” Tidak ada jawaban. Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena ruang digital tidak selalu ramah bagi dialog spontan. Di kelas fisik, saya bisa membaca ekspresi bingung atau antusias. Di kelas digital, sinyal itu sering hilang.
Menurut Siswadi (2024), pendidikan sejatinya adalah seni memanusiakan manusia, sebuah proses pendewasaan di mana mahasiswa dilihat sebagai sosok utuh dengan segala dinamika emosi, keterbatasan, dan latar belakang sosialnya. Namun, di tengah gempuran era digital, esensi ini perlahan memudar; ruang kelas berubah menjadi lingkungan yang dingin, di mana mahasiswa sering kali diperlakukan laiknya objek sistem yang dipaksa tunduk pada algoritma platform dan kakunya tenggat waktu. Kita seolah lupa bahwa di balik layar monitor, ada individu yang mungkin sedang berjuang dengan tekanan mental, kendala ekonomi, atau persoalan personal yang tidak tertangkap oleh sensor teknologi.
Kondisi ini menjebak para pendidik dalam kelelahan yang tak kasatmata saat perannya mulai bergeser. Pendidik tak lagi sibuk menyentuh hati mahasiswa, melainkan habis tenaga hanya untuk menjadi ‘penjaga gerbang’ teknologi yang kaku. Fokus mereka hari ini lebih banyak tersita pada perapian administrasi di Learning Management System (LMS) dan pemantauan statistik log aktivitas ketimbang membangun koneksi batin. Tantangan ini terasa kian berat pada institusi dengan sistem double assessment yang memisahkan nilai akademik dan karakter karena penilaian perilaku berisiko terjebak menjadi formalitas mekanistis. Tanpa disadari, integritas dan etika peserta didik hanya diukur melalui data digital yang kering, menjauhkan kita dari pendampingan bermakna yang seharusnya menjadi ruh utama pendidikan karakter.
Padahal, justru di ruang digital yang sunyi itulah sentuhan humanisme menjadi oase yang paling dibutuhkan. Pendidikan kehilangan wajah manusianya ketika sebuah keterlambatan tugas langsung divonis sebagai kegagalan sistem tanpa menyisakan ruang untuk dialog dan empati. Kita perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah media pendukung, bukan hakim yang menentukan nilai kemanusiaan seseorang. Mengembalikan empati dan kepedulian ke dalam interaksi digital bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan agar pendidikan tetap menjadi jembatan transformasi, bukan sekadar barisan kode dan angka tanpa makna.
Humanisme digital bukan berarti menolak teknologi. Sebaliknya, dia menuntut kesadaran etis dalam menggunakannya. Dosen dapat tetap tegas secara akademik, namun lentur secara manusiawi. Memberi umpan balik personal, membuka ruang komunikasi di luar jam formal, atau sekadar menanyakan kabar mahasiswa bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kekuatan pedagogis.
Lebih jauh, pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk membentuk manusia, bukan hanya lulusan. Dunia digital hari ini dipenuhi ujaran kebencian, polarisasi, dan dehumanisasi. Jika dunia pendidikan gagal menanamkan nilai empati dan kemanusiaan, maka resiko melahirkan generasi yang cakap teknologi tetapi miskin nurani merupakan keniscaan.
Teknologi sejatinya adalah instrumen pendidikan. Sifatnya netral hingga manusia memberinya arah. Lingkungan digital bisa terus terasa kaku jika dibiarkan bekerja sendiri. Namun, berbeda jika lingkungan itu mampu menjadi ruang yang hangat jika dihidupkan oleh kesadaran humanistik para pendidik.
Sebagai dosen, saya percaya bahwa tugas utama kita bukan sekadar memastikan capaian pembelajaran terpenuhi, tetapi menjaga agar pendidikan tetap berpihak pada manusia. Di tengah layar yang dingin dan sistem yang serba otomatis, sentuhan empati, dialog, dan kepedulian justru menjadi pelajaran paling berharga. Harapan dan sandaran terus dipanjatkan kehadirat-Nya karena tanpa karunia, petunjuk dan inayahnya keberdayaan kita kehilangan maknanya. Semoga Allah melimpahkan keberkahannya kepada kita semua…..Aamiiin…..
Dadan Zulkifli
Dosen/Pengajar: Politeknik Ahli Usaha Perikanan




