Swara Pendidikan (Limo, Depok)- Perjalanan Dr. Triningsih, S.Pd.SD, M.Pd., menuju kursi Kepala SD Negeri Limo 2 bukanlah proses yang instan. Bertahun-tahun ia mengabdi sebagai guru, menempuh pendidikan berjenjang, dan mengasah kompetensi sebelum akhirnya dipercaya memimpin sekolah tersebut pada 5 Juni 2024.
Triningsih memulai perjalanan akademiknya dari S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Terbuka yang diselesaikannya pada 2012. Semangatnya untuk terus meningkatkan kompetensi mengantarkannya meraih gelar S2 Pendidikan Dasar di kampus yang sama pada 2018.
Tak berhenti di sana, pada 2020, Triningsih melanjutkan studi doktoral (S3) Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan dan lulus pada 2023 dengan predikat cum laude.
Namun, perjalanan sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum gelar doktor disematkan di depan namanya. Kariernya berawal sebagai guru honorer di salah satu sekolah negeri di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Dari sanalah ia belajar memahami realitas pendidikan di lapangan, tentang keterbatasan, harapan orang tua, serta semangat anak-anak yang ingin belajar.
Pada 2013 mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintah Kota Depok dan dinyatakan lolos. Sejak saat itu, pengabdiannya berlanjut dengan tanggung jawab yang lebih besar. Triningsih aktif mengikuti berbagai pelatihan dan program pengembangan kompetensi, termasuk Program Guru Penggerak Angkatan 9 pada 2023.
Baginya, profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati.
“Melihat perubahan nyata pada peserta didik menjadi kebahagiaan tersendiri. Menjadi bagian dari pembentukan karakter bangsa adalah kesempatan yang sangat berharga,”kata Triningsih kepada Tim Swara Pendidikan pada Selasa (24/2/26), di kantornya.
Dalam menjalankan perannya sebagai pendidik dan kepala sekolah, ia menyadari tantangan yang terus berkembang. Perubahan kurikulum, kemajuan teknologi, keberagaman karakter siswa, hingga keterbatasan sarana prasarana menjadi dinamika yang harus dihadapi setiap hari.
Namun alih-alih melihatnya sebagai hambatan, ia memilih menjadikannya sebagai ruang belajar.
“Saya menyikapinya dengan terus belajar melalui pelatihan, seminar, dan pendidikan formal. Selain itu, kolaborasi dengan rekan sejawat, atasan, dan masyarakat sangat penting untuk menghadapi perubahan,” terangnya.
Di lingkungan sekolah, semangat belajar itu ditularkan kepada para guru dan siswa. Ia mendorong terciptanya budaya sekolah yang adaptif, terbuka terhadap inovasi, dan berorientasi pada pengembangan karakter.
Kepada generasi muda yang tengah mempertimbangkan masa depan, ia berpesan agar tidak ragu memilih profesi guru.
“Jadilah guru yang selalu berpikir positif, terus belajar, dan berbuat baik di mana pun berada. Guru yang berhenti belajar pada dasarnya berhenti mengajar,” tuturnya.
Kini, di bawah kepemimpinannya, SD Negeri Limo 2 terus berbenah menjadi lingkungan belajar yang lebih adaptif dan bermakna. Bagi Dr. Triningsih, pendidikan adalah perjalanan panjang yang tidak hanya membentuk siswa, tetapi juga membentuk dirinya sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Pewarta : Syifa dan Alya
Editor : Nurjaya Saputra






