Swara Pendidikan (Depok) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok menggelar Pra Forum Rencana Kerja (Renja) Tahun 2026 secara daring pada Kamis, 26 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti seluruh kepala Taman Kanak-Kanak Negeri (TKN), Sekolah Dasar Negeri (SDN), Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN), serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) se-Kota Depok.
Pra Forum Renja ini menjadi bagian penting dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Dinas Pendidikan Kota Depok Tahun 2026 dengan mengusung tema “Penguatan Literasi dan Numerasi Mewujudkan Generasi Unggul, Berkarakter, dan Berdaya Saing.”
Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, S.Pi, dalam sambutan dan arahannya menegaskan bahwa masih terdapat banyak sekolah di Kota Depok yang kondisi bangunan dan sarana-prasarananya memprihatinkan. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan dan rehabilitasi sarpras pendidikan harus menjadi fokus utama secara berkelanjutan.
“Dari gambaran yang ada, masih banyak sekolah kita yang kondisi bangunan dan sarana-prasarananya memprihatinkan. Kita mesti fokus ke sana. Mudah-mudahan dalam lima tahun ke depan secara mayoritas bisa kita selesaikan, meskipun belum 100 persen. Karena itu, perencanaan harus kita susun dari tahun ke tahun, mulai 2027 sampai 2030,” ujar Wahid.
Ia meminta seluruh kepala sekolah untuk mengisi data kondisi sekolah secara jujur, objektif, dan akurat melalui tautan yang telah disediakan. Data tersebut mencakup kondisi gedung sekolah, sarana-prasarana kelas, mebeler, hingga rasio ruang kelas terhadap rombongan belajar (rombel).
“Sampaikan kondisi yang senyatanya, jangan dilebihkan dan jangan dikurang-kurangkan. Kita ingin menyusun roadmap pendidikan Kota Depok yang terencana, tidak parsial, agar kenyamanan proses belajar mengajar bisa benar-benar terwujud,” tegasnya.
Selain sarana-prasarana, Wahid juga menekankan pentingnya pemetaan daya tampung sekolah terkait penerimaan peserta didik baru (PPDB), khususnya untuk menghindari keberadaan kelas siang yang tidak ideal.
“Kami perlu pemetaan kondisi terkini dari masing-masing sekolah, terutama terkait ruang kelas dan rasionya dengan rombel. Idealnya tidak ada lagi kelas siang. Semua ini perlu kita data secara aktual,” tambahnya.
Lebih lanjut, Wahid menyampaikan bahwa perencanaan pendidikan Kota Depok ke depan harus mengintegrasikan pendekatan top-down dan bottom-up, sehingga aspirasi sekolah sebagai garda terdepan pendidikan dapat terakomodasi secara optimal.
“Kami ingin perencanaan ini ketemu di tengah antara dari atas dan dari bawah. Ini penting karena tantangan pendidikan ke depan sangat berat,” katanya.
Ia juga menyoroti capaian skor PISA Indonesia tahun 2022 yang masih berada di peringkat bawah, termasuk dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Kondisi tersebut menjadi alarm penting untuk memperkuat kualitas pendidikan di Kota Depok.
“Skor PISA kita masih di papan bawah. Bahkan kita sudah terlewati oleh Vietnam. Ini menjadi tantangan besar kita semua agar Depok tidak terlihat tertinggal,” ungkap Wahid.
Dalam konteks itu, penguatan literasi dan numerasi menjadi salah satu fokus utama perencanaan pendidikan tahun 2027. Berdasarkan hasil kajian, sekitar 1 dari 4 siswa di Indonesia masih kesulitan memahami bacaan, termasuk di beberapa sekolah di Kota Depok.
“Kita mendapat amanah dari Pak Wali untuk meningkatkan skor literasi dan numerasi. Ini menjadi fokus utama kita. Namun peningkatan ini tidak bisa berdiri sendiri, harus didukung sarana-prasarana, proses pembelajaran, serta kualitas tenaga pendidik,” jelasnya.
Melalui Pra Forum Renja ini, Dinas Pendidikan Kota Depok berharap seluruh satuan pendidikan dapat menyampaikan aspirasi, tantangan, serta kebutuhan riil di lapangan sebagai dasar penyusunan program dan kebijakan pendidikan yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di Kota Depok. (Gus JP)



