Swara Pendidikan – Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2025 menerbitkan Katalog Statistik Penunjang Pendidikan yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (Susenas MSBP) 2024. Data ini memberikan gambaran rinci tentang besarnya biaya pendidikan yang harus ditanggung orang tua dan peserta didik di Indonesia.
Susenas MSBP merupakan salah satu modul Susenas yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali. Pada tahun 2024, survei ini dilaksanakan pada September dengan menggunakan Kuesioner Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (VSEN24.MSBP) serta Kuesioner Konsumsi/Pengeluaran (VSEN24.KP). Survei berikutnya baru akan kembali dilakukan pada tahun 2027.
Biaya Pendidikan Naik Seiring Jenjang
Hasil Susenas MSBP 2024 menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar rata-rata biaya pendidikan yang dikeluarkan.
Rata-rata pengeluaran biaya pendidikan per tahun tercatat:
- SD/sederajat: Rp4,56 juta
- SMP/sederajat: Rp7,34 juta
- SMA/sederajat: Rp10,19 juta
- Pendidikan Tinggi: Rp19,01 juta
Lonjakan paling signifikan terjadi pada pendidikan tinggi, menjadikannya jenjang dengan beban biaya terbesar bagi keluarga.
Rata-rata Pengeluaran Biaya Pendidikan Per Tahun
Biaya Pendidikan di Perkotaan Lebih Tinggi
Perbedaan wilayah juga memengaruhi besarnya pengeluaran. Peserta didik yang tinggal di wilayah perkotaan secara konsisten mengeluarkan biaya pendidikan lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan pada semua jenjang.
Rata-rata pengeluaran biaya pendidikan per tahun:
- SD: Perkotaan Rp5,40 juta | Perdesaan Rp3,40 juta
- SMP: Perkotaan Rp8,31 juta | Perdesaan Rp5,94 juta
- SMA/SMK: Perkotaan Rp10,80 juta | Perdesaan Rp9,16 juta
- Pendidikan Tinggi: Perkotaan Rp19,89 juta | Perdesaan Rp14,92 juta
Tingginya biaya hidup, transportasi, serta kebutuhan penunjang pembelajaran menjadi faktor utama mahalnya biaya pendidikan di wilayah perkotaan.
Rata-rata Pengeluaran biaya Pendidikan Per Tahun
Uang Saku Jadi Komponen Terbesar
Menariknya, komponen pengeluaran terbesar dalam biaya pendidikan bukan biaya sekolah formal, melainkan uang saku dan transportasi.
Persentase pengeluaran uang saku:
- SD: 61,44%
- SLTP: 55,88%
- SLTA: 50,98%
Sementara itu, biaya transportasi dan seragam sekolah menjadi komponen terbesar berikutnya. Jika digabungkan, maka:
- SD: 82,66% biaya pendidikan terserap untuk uang saku, transportasi, dan seragam
- SLTP: 81,31%
- SLTA: 78%
Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan harian siswa menjadi faktor dominan dalam pembiayaan pendidikan.
Komponen Pengeluaran Biaya Pendidikan
Kesenjangan Berdasarkan Status Ekonomi
Susenas MSBP 2024 mencakup 76.310 rumah tangga yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Jika dikelompokkan berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga, terlihat kesenjangan biaya pendidikan yang cukup lebar.
Rata-rata biaya pendidikan per tahun:
- Kelompok 20% teratas:
SD Rp8,88 juta | SLTP Rp11,42 juta | SLTA Rp15,35 juta | PT Rp24,42 juta - Kelompok 40% menengah:
SD Rp4,45 juta | SLTP Rp7,63 juta | SLTA Rp9,39 juta | PT Rp14,09 juta - Kelompok 40% terbawah:
SD Rp3,28 juta | SLTP Rp5,57 juta | SLTA Rp8,08 juta | PT Rp12,48 juta
Data ini menegaskan bahwa kemampuan ekonomi sangat memengaruhi akses dan kualitas pendidikan, terutama pada jenjang menengah dan pendidikan tinggi.
Rata-rata Total Biaya Pendidikan menurut Distribusi Pengeluaran
Jadi Referensi Perencanaan Pendidikan
Seluruh angka yang dipublikasikan BPS tersebut merupakan gambaran biaya pendidikan pada Tahun Ajaran 2023/2024. Meski demikian, data ini dapat menjadi referensi penting bagi orang tua, pemerintah, dan pemangku kebijakan dalam mengestimasi kebutuhan biaya pendidikan saat ini.
Temuan Susenas MSBP 2024 juga menegaskan pentingnya kebijakan pendidikan yang tidak hanya fokus pada biaya sekolah formal, tetapi juga memperhatikan biaya non-akademik seperti uang saku dan transportasi, agar pendidikan tetap inklusif, terjangkau, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.**
Litbang Swara Pendidikan
Sumber: Diolah dari BPS, Susenas MSBP 2024 (Publikasi Mei 2025)







