Swara Pendidikan (Sawangan, Depok) — Derap langkah kecil berpadu dengan warna-warni kebaya dan pakaian adat memenuhi jalanan kampung di sekitar MI Terpadu Raudlatul Ulum, Senin (20/4/2026). Senyum ceria siswa-siswi yang berbaris rapi dalam pawai seakan menghidupkan kembali semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini di tengah suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.
Peringatan Hari Kartini tahun ini terasa berbeda. Tak hanya pawai, sekolah juga menggelar “Mom’s Market Day”, sebuah kegiatan yang menghadirkan lapak-lapak sederhana milik para wali murid di halaman sekolah. Aroma jajanan tradisional dan aneka makanan rumahan menyatu dengan riuh tawa anak-anak yang antusias berkeliling.
Seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 terlibat aktif. Dengan balutan busana adat dari berbagai daerah, mereka tidak sekadar tampil, tetapi juga belajar mengenal keberagaman budaya bangsa. Di sisi lain, para orang tua mengambil peran sebagai pelaku usaha dadakan, menghadirkan pengalaman nyata tentang aktivitas ekonomi sederhana.
Kepala MI Terpadu Raudlatul Ulum, Ida Maulida, S.Pd.I mengatakan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar yang lebih hidup dan bermakna. Bukan hanya mengenang sosok Kartini, tetapi juga menanamkan nilai perjuangan dalam keseharian siswa.
“Semangat ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ kami hadirkan dalam bentuk kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka. Anak-anak belajar bahwa setiap usaha membutuhkan proses, dan selalu ada harapan di balik perjuangan,” kata Ida kepada Swara Pendidikan.
Lebih dari sekadar perayaan, Mom’s Market Day menjadi jembatan yang menghubungkan sekolah dengan keluarga. Keterlibatan orang tua, menurut Ida, memberi teladan langsung kepada anak-anak tentang kerja keras, kemandirian, dan pentingnya kolaborasi.
Di antara hiruk-pikuk kegiatan, tampak seorang siswa membantu ibunya melayani pembeli, sementara yang lain dengan bangga memperkenalkan dagangan keluarga mereka kepada teman-temannya. Momen-momen sederhana ini menjadi pelajaran kontekstual yang tak ditemukan di dalam buku pelajaran.
“Ketika orang tua terlibat, anak-anak tidak hanya melihat, tetapi merasakan langsung nilai-nilai kehidupan. Di situlah pendidikan karakter terbentuk,” tutup Ida. (*)




