Swara Pendidikan (Bojongsari, Depok)- Meski berprofesi sebagai guru, semangat belajar dan mengembangkan diri terus ditunjukkan Muhammad Fajri (40), guru SDN Duren Seribu 01, Bojongsari, Depok. Sejak 2017 hingga kini, ia aktif terlibat dalam penyusunan dan pengembangan soal kurikulum bersama tim di tingkat Kota Depok.
Ditemui di ruang guru sekolah setempat pada Rabu (1/4/2026), Fajri menceritakan perjalanan kariernya di dunia pendidikan. Dia mengawali profesinya sebagai guru pada Februari 2008 di SDN Karet 05 Pagi, Setiabudi, Jakarta. Kemudian pada 2013, mengikuti seleksi CPNS di Kota Depok dan resmi diangkat sebagai aparatur sipil negara (ASN) pada Maret 2014.
“Tiga tahun menjadi PNS, saya menikah pada 2016 dengan istri yang juga berprofesi sebagai PNS di Kota Depok. Alhamdulillah, kami telah dikaruniai dua orang anak,” ungkap Fajri.
Perjalanan profesionalnya semakin berkembang ketika dia mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada 2016, yang kini dikenal sebagai Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dari sana, Fajri mulai terlibat dalam penyusunan soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) di Pusat Kurikulum pada 2017.
“Pada 2018 saya mulai lebih intens bergabung dalam Tim Pengembangan Kurikulum Kota Depok,” kata Fajri, yang juga dikenal sebagai penulis buku bertema pendidikan.
Seiring kebijakan Merdeka Belajar yang menghapus USBN, Fajri bersama tim berperan aktif dalam memberikan pelatihan kepada guru-guru di Kota Depok agar mampu menyusun soal ujian sekolah secara mandiri dan berkualitas.
“Kami turun langsung ke berbagai kecamatan untuk melatih guru, khususnya kelas VI. Saat itu juga bertepatan dengan masa pandemi Covid-19, sehingga pelatihan harus disesuaikan dengan kondisi,” ujarnya.
Dia menjelaskan, meskipun USBN dihapus, proses kelulusan siswa tetap mengacu pada ujian sekolah dengan standar tertentu yang berbeda dari ulangan harian biasa. Oleh karena itu, tim kurikulum menyusun model pelatihan yang komprehensif, mulai dari penyusunan indikator soal, instrumen penilaian, hingga level kognitif.
“Pelatihan tidak hanya untuk guru, tetapi juga sosialisasi kepada kepala sekolah. Setelah pelatihan, kami melakukan evaluasi berdasarkan soal yang disusun peserta,” jelasnya.
Menurut Fajri, tingkat pemahaman guru terhadap materi pelatihan saat ini telah mencapai sekitar 70 hingga 80 persen. Hal tersebut dinilai cukup baik, meskipun masih perlu peningkatan secara berkelanjutan.
Saat ini, Tim Pengembangan Kurikulum Kota Depok beranggotakan sekitar 54 orang yang terbagi berdasarkan jenjang kelas 1 hingga 6 sekolah dasar. Tim tersebut juga terus menyesuaikan diri dengan dinamika kebijakan dari Kementerian Pendidikan, termasuk penguatan pada bidang teknologi informasi, koding, dan pendidikan inklusi.
“Periode 2024–2025 kami juga memiliki surat keputusan (SK) resmi dari Kepala Dinas, dengan pembagian penanggung jawab per mata pelajaran,” tambahnya.
Fajri mengungkapkan, keterlibatannya dalam tim kurikulum telah berlangsung sekitar sembilan tahun sejak 2017. Dia berharap ke depan dunia pendidikan di Kota Depok memiliki ciri khas yang membedakannya dari daerah lain.
“Seperti Pekalongan yang dikenal dengan batiknya, saya berharap Depok juga memiliki kekhasan dalam bidang pendidikan, sehingga menjadi identitas yang tidak dimiliki daerah lain,” tutup Fajri. (Dib)






