Liburan sekolah tiba. Sebagai seorang ayah, aku selalu merasa ada tanggung jawab tersendiri untuk menjadikan waktu libur anak-anak bukan sekadar bermain tanpa arah, tapi juga sarat dengan nilai-nilai edukasi, literasi, dan spiritual. Tahun ini, aku ingin momen itu terasa berbeda, bukan hanya bagi mereka, tapi juga bagi keluarga kami secara keseluruhan.
Aku merenung sejenak, mencari ide tempat yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga mendidik. Pilihan itu jatuh pada Taman Ismail Marzuki, sebuah tempat yang menurut kawanku seorang pendidik dan penulis memiliki nilai edukasi tinggi. Di sana, anak-anak bisa bermain, belajar, dan terutama, mengasah kecintaan terhadap literasi.
Perjalanan dimulai dengan busway, pengalaman pertama bagi keluargaku menjelajahi ibukota dengan TransJakarta.
Anak pertamaku, hampir sepuluh tahun, tampak sangat antusias. Sesekali ia bertanya hal-hal yang membuatku tersenyum, namun tak jarang juga menjaili adiknya yang belum genap setahun, membuat ibunya sedikit kewalahan. Aku hanya tertawa kecil, mengingat betapa hidup memang penuh dinamika.
Setibanya di Taman Ismail Marzuki, drama kecil muncul seperti biasanya: si kakak sedikit rewel, meminta ini dan itu. Aku hanya tersenyum dalam hati. Bagi kami, momen-momen seperti ini adalah bumbu yang melengkapi perjalanan, bukan penghalang kebahagiaan.
Saat kami bersiap menuju perpustakaan, si kakak menatapku dengan sedikit ragu dan berkata,
“Yah, kita ke sini cuma buat baca doang, ? Aku nggak terlalu suka baca.”
Aku terdiam sejenak. Kata-katanya sederhana, tapi terasa seperti tantangan kecil bagi seorang ayah. Aku tahu jawabanku bisa panjang dan rumit, namun aku memilih menenangkan diri terlebih dahulu, memahami perasaannya.
“Makanya ayah ajak kamu ke sini, kak. Supaya kamu bisa lebih mencintai literasi dan mulai suka membaca,” jawabku dengan lembut.
Di dalam hati, aku menambahkan doa dan harapan: Maaf, Nak, ayah hanya bisa mengajak kalian ke sini. Belum bisa membawa kalian ke semua tempat indah lain yang mungkin kalian impikan. Tapi semoga liburan ini memberi nilai edukasi dan tarbiah yang berharga. Semoga kalian tumbuh menjadi pribadi yang menginspirasi, terutama bagi agama kalian, sehingga cinta kepada Allah selalu tumbuh di hati kalian.
Setelah sampai di perpustakaan si Kakak menatap buku-buku di rak dengan rasa ingin tahu yang perlahan muncul, walaupun tetap keinginan nya tertuju ke permainan anak karena ternyata disana tidak hanya buku buku yang tersusun rapih di rak tapi ternyata ada beberapa permainan dan ruang multimedia yang memang bisa membuat anak anak betah dan nyaman ketika berkunjung kesana.
Tidak harus sempurna hari ini, yang penting perjalanan ini memberi mereka pengalaman, pengetahuan, dan cinta terhadap membaca yang akan tumbuh seiring waktu. Kesuksesan itu tidak bisa langsung tumbuh sendiri tapi harus ada proses yang menumbuhkan.
Di tengah riuhnya anak-anak berlarian, suara tawa dan halaman buku yang dibuka, aku tersadar: liburan bukan sekadar meninggalkan rutinitas sekolah, tapi juga kesempatan untuk menanamkan nilai, cinta, dan rasa ingin tahu. Dan hari itu, Taman Ismail Marzuki menjadi saksi kecil perjalanan kami menuju keluarga yang tidak hanya bahagia, tapi juga bermakna.**
Penulis: Amr Assadillah
Wartawan Swara Pendidikan




