Swara Pendidikan (Tapos, Depok) – Yayasan Prisma Madya bersama SMK Madya Depok memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1447 Hijriah dengan mengusung tema “Mengambil Hikmah Isra Mi’raj dalam Mewujudkan Pelajar Beriman, Bertakwa, Berakhlak Mulia, dan Bertumbuh dalam Prestasi”. Jumat (30/1/26).
Acara ini dihadiri seluruh pengurus dan staf yayasan, serta segenap civitas akademika SMK Madya Depok. Dengan penceramah Ustaz M. Jamaluddin, S.Pd.I
Dalam sambutannya, Kepala SMK Madya Depok H. Uwoh Pramijaya menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak boleh dimaknai sebagai kegiatan seremonial semata.
“Isra Mi’raj bukan hanya selebrasi atau sekadar ramai-ramai. Kita harus benar-benar mengambil pelajaran di dalamnya agar keimanan dan kecintaan kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW semakin bertambah, serta tercermin dalam akhlak dan kualitas shalat kita,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia pelaksana, pengurus OSIS, dan Rohis atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, hikmah Isra Mi’raj harus diwujudkan dalam aktivitas nyata agar keimanan senantiasa terjaga dan membawa keberkahan, termasuk harapan memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, dalam ceramahnya, Ustaz M. Jamaluddin, S.Pd.I. menyampaikan pentingnya menghadiri majelis ilmu. Ia mengutip Surah Al-Mulk ayat 10 yang menggambarkan penyesalan penghuni neraka karena tidak mau mendengarkan dan mengikuti majelis ilmu.
“Banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, mulai dari Islam, iman, ihsan, hingga hidayah dan taufik. Maka sudah seharusnya kita menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur,” jelasnya.
Ia juga memaparkan tiga hikmah utama dari peristiwa Isra Mi’raj, yakni Islam sebagai sumber ketenangan dan keselamatan dunia akhirat, keimanan yang harus dijaga agar tidak runtuh, serta ihsan sebagai penyempurna Islam dan iman yang tercermin dalam akhlak berilmu dan beradab.
Pada kesempatan yang sama, salah satu siswi SMK Madya Depok, Siti Aulia, menyampaikan kultum yang menekankan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa shalat merupakan identitas utama seorang muslim yang sering kali dianggap sepele di era digital.
“Orang yang celaka dalam salat adalah mereka yang lalai. Akhlak mulia juga menjadi penyempurna keimanan,” tuturnya.
Ia menambahkan, sebagai pelajar muslim, akhlak harus selalu dikedepankan, seperti menghormati orang tua dan guru, tidak merundung teman, menjaga kejujuran, serta berani mengambil langkah positif dan terukur demi kemaslahatan masyarakat. (Amr)




