Home / Berita Terkini / KONSEP PENGEMBANGAN EKOWISATA

KONSEP PENGEMBANGAN EKOWISATA

Dadan Zulkifli, MM (Dosen Sekolah Tinggi Perikanan)

Pengertian Ekowisata

Istilah Ekowisata lebih dikenal dibandingkan dengan ecotourisme atau wisata ekologis, namun pada dasarnya pengertian ketiga istilah  tersebut tetaplah sama yaitu suatu bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian wilayah yang masih alami (natural area) agar dapat memberikan manfaat secara ekonomi tetapi keutuhan budaya masyarakat setempat masih bisa dipertahankan. Dalam artian luas istilah ekowisata merupakan gabungan antara konservasi dan pariwisata yang dipahami sebagai dikembalikannya keuntungan yang diperoleh atas jasa pariwisata untuk pengembangan dan menjaga kawasan yang perlu dilindungi ataupun dilestarikan baik itu keanekaragaman hayati maupun perbaikan sosial ekonomi masyarakat disekitarnya.

Konsep Ekowisata pertama kali diperkenalkan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada tahun 1991, dimana ekowisata didefenisikan sebagai perjalanan bertanggung jawab ke daerah-daerah yang masih alami yang dapat mengkonservasi lingkungan dan memelihara kesejahteraan masyarakat setempat.

Kegiatan ekowisata merupakan bagian dari industri pariwisata yang secara langsung memberi akses kepada semua orang untuk melihat, mengetahui, serta menikmati pengalaman alam, intelektual dan budaya masyarakat lokal. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk wisata yang mengadopsi prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan yang berkontribusi terhadap kegiatan konservasi alam dan budaya dengan melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaannya.

Aspek Kunci Ekowisata Berbasis Masyarakat

Konsep ekowisata di Indonesia memiliki paradigma berbeda dengan konsep kepariwisataan internasional karena mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal, dan menghargai budaya lokal  karenanya bentuk pariwisata seperti ini banyak diminati wisatawan. Adapun beberapa hal yang menjadi daya tarik ekowisata berbasis masyarakat antara lain:

  1. Nilai partisipasi masyarakat dan edukasi dimana masyarakat didorong membentuk lembaga untuk mengelola kegiatan ekowisata di daerahnya, dengan dukungan dari pemerintah dan organisasi masyarakat
  2. Nilai partisipasi masyarakat dengan prinsip local ownership dimana pengelolaan dan kepemilikan dikelola  oleh masyarakat setempat terutama untuk sarana dan pra-sarana
    ekowisata, kawasan ekowisata, dll., terutama untuk pemandu wisata
  3. Nilai ekonomi dan edukasi dimana homestay menjadi pilihan utama untuk sarana akomodasi di lokasi wisata
  4. Nilai ekonomi dan wisata dimana perintisan, pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata menjadi tanggungjawab masyarakat setempat, termasuk penentuan biaya (fee) untuk wisatawan

Jenis-jenis Ekowisata        

  1. Ekowisata Bahari

Ekowisata bahari merupakan ekowisata yang memanfaatkan sumber daya pesisir dan laut. Kegiatan wisata yang dikembangkan dikelompokkan menjadi wisata pantai dan wisata bahari. Wisata pantai merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan sumber daya pantai dan budaya masyarakat pantai seperti rekreasi, olahraga, menikmati pemandangan dan iklim. Sedangkan wisata bahari merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan sumber daya bawah laut dan dinamika air laut.

  1. Ekowisata Hutan

Ekowisata hutan merupakan ekowisata yang memanfaatkan sumber daya kawasan hutan khususnya hutan tropika.  Kawasan hutan yang dapat berfungsi sebagai kawasan wisata yang berbasis lingkungan adalah kawasan Pelestarian Alam (Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam), kawasan Suaka Alam dan Hutan Lindung.

  1. Ekowisata Pegunungan

Ekowisata pegunungan adalah suatu kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan secara sukarela yang bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Ekowisata pegunungan memiliki pengertian sebagai objek wisata yang daya tarik utamanya adalah bersumber kepada keindahan alam, sumber daya alam, dan tata lingkungan yang terletak di lingkungan dataran tinggi dan menjadi tujuan destinasi wisata.

  1. Ekowisata Karst

Ekowisata karst merupakan ekowisata yang memanfaatkan sumber daya suatu kawasan yang mempunyai karakteristik relief dan drainase yang khas, yang disebabkan oleh tingginya keterlarutan batuan didalam air.

Persyaratan Destinasi Ekowisata

Produk dan jasa wisata merupakan hal yang harus diperhatikan dalam menawarkan wilayah wisata sebagai destinasi ekowisata. Produk wisata adalah semua produk yang diperuntukkan atau dikonsumsi seseorang selama melakukan kegiatan wisata. Jasa wisata adalah gabungan produk yang terangkum dalam atraksi, transportasi, akomodasi, dan hiburan. Selain itu potensi wisata juga berpengaruh dalm penentuan destinasi wisata yang akan digunakan sebagi daya tarik wisata, Potensi wisata adalah semua objek (alam, budaya, buatan) yang memerlukan banyak penanganan agar dapat memberikan nilai daya tarik bagi wisatawan.

Daerah tujuan wisata harus memenuhi 3 syarat untuk dapat menarik minat wisatawan, daerah tersebut harus mempunyai:

  1. Something to see, artinya daerah tersebut harus mempunyai obyek dan daya
    tarik khusus sebagai hiburan bagi pengunjung.
  2. Something to do, tersedianya fasilitas sebagai penunjang bagi pengunjung untuk dapat melakukan aktivitas yang beragam dan dapat tinggal lebih lama.
  3. Something to buy, artinya tersedianya fasilitas untuk berbelanja, seperti kerajinan daerah setempat atau makanan khas sebagai buah tangan.

Konsep Pengembangan Ekowisata

Pengembangan suatu kawasan ekowisata haruslah memperhatikan antara lain:

  1. Konsep Ekowisata Berbasis Ekologi, yaitu sebuah alternatif untuk mengembangkan suatu kawasan menjadi tujuan wisata yang tetap memperhatikan konservasi lingkungan dengan menggunakan potensi sumberdaya serta budaya masyarakat lokal. Dimana pengembangan ekowisata tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan keuntungan secara ekonomi, namun di sisi lain pengembangan juga harus memperhatikan terjaganya kualitas ekologis maupun sosial. Konsep semacam ini sering disebut konsep pembangunan yang berkelanjutan. Ekowisata sebagai konsep pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding dengan obyek pariwisata lainnya, yaitu : wisata yang bertanggung jawab pada konservasi lingkungan, wisata yang berperan dalam usaha–usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, dan wisata yang menghargai budaya lokal. Sehingga kegiatan ekowisata nantinya akan memiliki multiplier effect yang sangat luas terutama dalam upaya mempertahankan kondisi lingkungan (sisi ekologis) dan peningkatan perekonomian masyarakat lokal (sisi ekonomi).
  2. Konsep adaya kesesuaian Kawasan Ekowisata, yaitu sebuah konsep yang mengedepankan perencanaan pemetaan wilayah, karena keberadaan suatu kawasan wisata sangat terkait erat dengan penggunaan lahan yang merupakan unsur penting dalam perencanaan wilayah. Penggunaan suatu kawasan menjadi wilayah ekowisata akan mempengaruhi perubahan ekologi dan sosial masyarakat. Perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalam nilai-nilai sikap dan pola prilaku antar kelompok-kelompok di dalam masyarakat. Karenanya dalam pengembangan kawasan konservasi menjadi area wisata perlu mempertimbangkan bahwa kegiatan wisata tidak boleh menyebabkan terganggunya fungsi kawasan konservasi yang diakibatkan oleh pemanfaatan yang tidak sesuai dengan kawasan yang ada.
  3. Konsep Adanya Daya Dukung Kawasan (carrying capacity), yaitu suatu konsep yang menekankan tentang ukuran batas maksimal penggunaan suatu area berdasarkan kepekaan atau toleransinya yang dipengaruhi oleh berbagai faktor alami seperti terhadap ketersediaan makanan, ruang untuk tempat hidup, tempat berlindung dan ketersediaan air. Konsep Daya Dukung Kawasan (DDK) merupakan indikator penting dalam mengelola aktivitas manusia dan ketersediaan lahan penunjangnya supaya kondisi yang melebihi kapasitas (over carrying capacity) yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan manusia dan menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya lingkungan tidak terjadi. Daya dukung kawasan ini akan memberikan penilaian terhadap suatu kawasan dalam menyediakan ruang untuk pemanfaatan tanpa mengurangi kemampuan kawasan dalam menyediakan jasa lingkungan.

Karenanya kedepan pengembangan wisata khususnya ekowisata perlu memiliki perencanaan yang baik agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan fisik, ekonomi, sosial budaya yang bisa mengganggu keseimbangan ekosistem. ***

Penulis : Dadan Zulkifli, MM (Dosen Sekolah Tinggi Perikanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.