Swara Pendidikan (Ngada, NTT) — Kabar duka datang dari Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berusia 10 tahun ditemukan meninggal dunia di sekitar tempat tinggalnya. Sabtu (3/1/2026) lalu. Peristiwa ini mengguncang warga setempat dan mengundang keprihatinan luas dari berbagai kalangan.
Di lokasi kejadian, ditemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh anak tersebut dan ditujukan kepada ibunya. Surat itu ditulis dalam bahasa Bajawa, dengan ungkapan perasaan yang sederhana dan polos, namun meninggalkan duka mendalam bagi siapa pun yang membacanya.
Isi surat tersebut mencerminkan kedekatan emosional antara anak dan sang ibu, sekaligus menyiratkan pesan perpisahan yang sulit diterima akal sehat, mengingat usianya yang masih sangat belia.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai penyebab pasti peristiwa tragis tersebut. Dugaan awal menyebutkan adanya kekecewaan sederhana terkait kebutuhan sekolah yang tidak terpenuhi. Meski demikian, aparat dan pihak terkait masih melakukan pendalaman untuk mengetahui latar belakang kejadian secara utuh.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa tekanan emosional dapat dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Hal-hal yang bagi orang dewasa tampak sepele bisa terasa sangat besar dan berat bagi seorang anak, terutama ketika ia tidak memiliki ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dipahami.
Anak-anak membutuhkan perhatian, kehadiran emosional, serta komunikasi yang hangat dari orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Perubahan perilaku seperti menarik diri, mudah sedih, atau ucapan bernada putus asa pada anak seharusnya tidak diabaikan. Sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki peran bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi tumbuh kembang mental anak.
Tragedi ini bukan untuk disensasikan, melainkan dijadikan pelajaran berharga bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Empati, kepedulian, dan kehadiran nyata dari orang-orang terdekat dapat menjadi benteng perlindungan bagi anak-anak.
Jika Anda atau orang di sekitar Anda—termasuk anak-anak—menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis berat atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional. Di Indonesia, layanan Hotline Kesehatan Jiwa 119 ext. 8 dapat dihubungi untuk mendapatkan dukungan awal.
Semoga peristiwa memilukan ini mengetuk hati kita semua untuk lebih peka, lebih peduli, dan lebih hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk Mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo ja’o galo mata mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal, mama jangan menangis)
Mama ja’o galo mata mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama, kalau saya meninggal, jangan menangis dan jangan cari saya)
Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)
(red)




