“TETIRAH”

by Redaksi
0 Komentar 208 Pembaca

Sinopsis Buku

TETIRAH
(Dalam Adat dan Budaya)

Pada masanya nanti, aku ingin semua yang terlewati hanya akan menjadi kisah masa lalu”

Judul buku : TETIRAH

Penulis: Titin Supriatin

Penerbit: Intishar Publishing

Tebal : xii + 60 halaman

Cetakan II: Desember 2020

 

 

 

Tradisi dan adat istiadat suatu daerah merupakan bagian dari kebudayaan yang terlalu penting untuk dilupakan begitu saja. Mempertahankan suatu kebiasaan yang sudah ada sejak turun temurun akan menjadi sulit jika generasi masa kini menganggap sebuah tradisi adalah hal yang kuno.

Tetirah merupakan salah satu contoh kebiasaan yang hingga saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat disekitar kita. Pindah rumah, menjauh dari sanak saudara, meninggalkan sejenak aktivitas kesehariannya merupakan salah satu contoh tetirah.

Buku ini seperti mengajak kita untuk “merenovasi” cara pandang manusia masa kini dalam melihat sebuah kebudayaan dan adat istiadat suatu daerah di masa lalu yang keberadaannya semakin tergerus oleh lintasan berbagai sejarah modernisasi dan globalisasi. Sangat layak  dibaca untuk menambah pemahaman dan kecintaan kita pada sebuah kebiasaan disuatu daerah.

##

Tetirah adalah salah satu kebiasaan yang sering dilakukan di masyarakat . Dalam kata lain tetirah adalah meninggalkan sesuatu untuk menuju sesuatu jalan ke arah kebebasan. Dari sini dapat kita katakan bahwa kebiasaan masyarakat dalam melakukan tetirah menyatakan suatu kecenderungan dan suatu arah dalam hidup ini. Mereka yang melakukan tetirah mengakui kebebasan dirinya sebagai manusia tidak betul- betul dirasakan tetapi hanya bermakna bahwa hal yang dilakukannya mungkin bisa melakukan kebebasan.

Tertirah lebih mengarah intervensi kepada sesuatu untuk mendapat harapan. Mencoba menyatukan naluri kepada akal dan individu daripada kumpulan-kumpulan keramaian. Oleh karenanya tidak ada salahnya untuk lebih dalam lagi mengetahui apa yang coba disampaikan dalam buku tertirah ini.

Di segi lain tetirah merupakan sebuah konsep kreativitas. Bukan hanya sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat tetapi tetirah merupakan bentuk kreativitas yang dilakukan oleh masyarakat. Kaitannya dengan itu bagaimana mengimplementasikan baik itu daya cipta dan daya rasa sebagai perwujudan dari kasih sayang Allah yang Maha mencipta dan Allah yang Maha membentuk.

Itulah sebabnya output dari masyarakat yang melakukan tetirah ini adalah sekembalinya nanti akan menjadi manusia-manusia yang baru,  manusia-manusia yang mengenal siapa Tuhannya. Mereka yang melakukan tertirah akan mampu menghilangkan pada dirinya bentuk kekacau-balauan yang sempat membelenggu dirinya. Berbagai macam usaha manusia untuk memberi jawaban tradisi tetirah yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah itu sendiri adalah jawaban-jawaban yang bisa dijadikan sebagai sebuah rujukan dari kebiasaan-kebiasaan dalam sebuah masyarakat itu sendiri pada akhirnya.

Selamat membaca, semoga dapat menambah wawasan budaya masyarakat di Indonesia pada umumnya dan di sekitar kita pada khususnya.

##

Termasuk dari kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.(HR.Tirmidzi)

 

“Tetirah”

Seseorang pernah berkata kepadaku, bahwa jika aku mau segera bertemu jodoh, maka lakukanlah tetirah, tetirah sebagai upaya ikhtiar. Pergilah keluar dari rumah, tinggalah beberapa waktu ditempat yang baru. Tempat yang bisa menjauhkanmu dari pengaruh negatif rumah lamamu.

 

“Pak Rahmat”

Dia bernama Rahmat  anak kedua dari tiga bersaudara. Selama ini hidupnya baik-baik saja, memiliki kerjaan yang mapan juga keluarga yang harmonis.

Kesehariannya biasa saja. Berangkat kerja seperti layaknya para tulang punggung lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun ada yang berubah beberapa bulan ini. Pak Rahmat sakit. Sudah berbagai pengobatan dijalani. Dari obat tradisional sampai obat dokter. Namun tak jua menemukan hasil. Hingga pada akhirnya Pak Rahmat harus menjalani perawatan dokter secara intensif.

Kondisinya semakin memburuk, mengalami beberapa kali koma. Harapan kesembuhan semakin menipis. Pasrah hanya itu yang  bisa dilakukan keluarga. Hingga pada akhirnya ada kabar baik. Setelah dirawat beberapa waktu akhirnya Pak Rahmat dinyatakan pulih dari sakitnya.

Namun tidak berhenti disitu, kisah Pak Rahmat masih berlanjut. Sekembalinya dari Rumah Sakit,  keluarga memutuskan untuk melakukan tetirah. Pak Rahmat tidak langsung dibawa pulang ke rumahnya. Namun dia pulang ke rumah kerabatnya. Tinggal disana untuk beberapa waktu sampai Pak Rahmat benar-benar sehat.

 

“Asih”

Sebut saja dia Sariasih biasa dipanggil Asih.  Anak gadis usia hampir mendekati 40 tahun namun belum menikah.

Jelek? Tidak.

Miskin? Juga tidak

Dari keluarga tidak baik? Keluarganya baik

Gadis nakal? Bukan, dia gadis yang baik

Lalu kenapa belum berjodoh?

Apakah dia pemilih? Tidak juga

Dulu memang pernah ada yang mau melamar, namun ditolak karena Asih masih ingin melanjutkan sekolahnya.

Apakah mungkin hal ini yang mempengaruhinya untuk mendapatkan jodoh?

Hanya Allah yang tahu.

Akhirnya keluarga besar menyarankan, Asih untuk melakukan tetirah. Tinggal untuk sementara waktu di rumah kerabatnya. Berharap bisa mendapatkan jodoh.

 

“Anandara”

Balita  mungil  berusia 3,5 tahun bertubuh kecil seperti kurang gizi. Anak pertama dari pasangan muda. Pasangan muda yang berpendidikan. Paham betul menjaga kesehatan. Ayahnya karyawan di kantor swasta, ibunya fokus mengurus putrinya.

Anandara  tidak tumbuh seperti balita-balita yang lain. Ia sering sakit, hampir setiap bulan ia harus pergi ke dokter. Penyakitnya berganti-ganti, dari yang ringan seperti batuk, pilek dan demam sampai yang berat yang mengharuskannya di opname di Rumah sakit.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan demi kesembuhan sang buah hati, orang tua Anandara harus merelakan Anandara dirawat oleh kakek neneknya.

**

Cerita-cerita itu adalah gambaran sedikit tentang hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Sakit yang tidak berkesudahan yang dikhawatirkan bukan karena sakit biasa tapi sakit yang dibikin-bikin dari orang lain yang tidak menyukai kita. Dengan melakukan tetirah berharap gangguan dari orang-orang yang berniat jahat ke kita tidak mempan.

Demikian pula dengan seorang gadis yang lambat mendapatkan jodoh. Khawatir jodohnya dihalang-halangi oleh orang yang benci dengannya maka untuk sementara waktu ia harus berpindah dari rumanya untuk mencari suasana baru yang bisa memungkinkan dirinya menemukan jodohnya.

Bagaimana dengan kisah balita mungil Anandara? Apakah balita mungil juga harus melakukan tetirah? Jawabannya bergantung dari pandangan masing-masing. Jika dipercaya setelah melakukan tetirah Anandara bisa menjadi sehat dan pertumbuhannya menjadi baik, mengapa tidak? Bukankah tetirah itu sebuah usaha atau ikhtiar untuk mencari sebuah kebaikan.

Tetirah adalah sebuah kata yang bisa dimaknai sebagai usaha, ikhtiar juga hijrah. Meninggalkan suatu tempat menuju tempat lain guna mencari suasana baru yang lebih baik. Masyarakat di sekitar kita masih mempercayai tetirah. Banyak diantara mereka yang melakukannya jika tertimpa berbagai macam persoalan. Baik dari segi kesehatan, jodoh atau usaha yang sedang dijalani dan lain-lainnya.

Tetirah bukan tradisi. Bukan pula mitos. Tetirah adalah sebuah usaha mencari jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi. Untuk itu tidak ada salahnya bagi mereka yang sedang menemui permasalahan seperti cerita-cerita di atas untuk melakukan tetirah. **


Tentang penulis :  Titin Supriatin, M.Pd. Kepala Sekolah di SDN Cipayung 2. Menyukai dunia literasi, karena dengan berliterasi dapat berbagi informasi dalam pengetahuan yang luas dan tanpa batas.

Baca juga

Tinggalkan Komentar