SOLIDARITAS TANPA BATAS

by Redaksi
0 Komentar 289 Pembaca

AQEELA HAYATUN NUFUS

 

Hari ini tanggal 17 Agustus, warga kampung Bahagia akan menyelenggarakan lomba 17-an seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pagi ini Dodit, Dara, Asep, dan Dion. Sudah berkumpul dilapangan dan hendak mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba

“Hai, selamat pagi semuanya,” sapa Dodit saat mendapati teman-temannya sudah tiba.

“Halo juga, Dodit!,”sahut Dara ramah.

“Eh,Dodit.  Aku kira kamu tidak akan datang,” gurau Asep diikuti dengan tawaan teman dodit yang lain.

“Hehe… tadi Mbok menyuruhku sarapan dulu, agar semangat katanya saat lomba,” jelas Dodit.

“Pantas saja kamu gendut, ternyata karena Mbokmu?”

Memang ucapan Dion barusan hanya gurauan, tapi tentu hal ini membuat hati Dodit sedih. Dara dan Asep yang mendengar kalimat itu langsung melotot kearah Dion.

“Hei, kawan sudah mendaftar lomba belum? Ayo, daftar, sebelum penuh,” ucap panitia lomba saat mendapat mereka yang masih mengobrol.

“Eh iya! Ayo kita daftar lomba!”

Lalu ketiga teman Dodit segera menuju meja pendaftaran. Tapi tidak dengan dirinya. Dodit masih sedih setelah mendengar ucapan Dion tadi.

“Dodit! Ayo! Dara pun menarik lengan Dion, agar ia mau ikut dengan Dara. Sesampainya di meja pendaftaran, mereka pun mendaftar untuk ikut beberapa lomba.

“Asep! Aku mau ikut lomba estafet tepung,”

Asep tengah memegang pulpen langsung menulis nama Dara.

“Dodit, Dara. Bagaimana kalau kita ikut laomba tangkap belut? Aku dengar nanti lombanya akan diadakan di peternakan belut milik Pak Haji, loh! pasti seru,” ajak Dion.

“Aku mau ikut,” setelah mengucapkan kalimat itu, ketiga teman Dodit pun langsung menoleh.

“Memangnya kamu bisa, Dit? lomba menangkap belut kan harus berlari cepat,” tanya Dion.

“Jika kau yakin kalau kamu bisa, ayo kita ikut lomba itu,” lanjut Dion.

Dengan percaya diri, Dodit mengangguk lalu berkata

“Tentu aku bisa,”

Lomba tangkap belut akan dimulai sebentar lagi. Panitia pun mengumumkan nama warga yang akan menjadi satu tim sesuai dengan yang sudah terdaftar.

Namun nama Dion disebutkan berada dikelompok yang lain.

“Dion, kamu kenapa bergabung dengan tim lain?” tanya Dodit.

“Aku tidak mau satu tim denganmu Dit, karena nanti pasti akan kalah. jadi aku memilih untuk bergabung dengan tim lain saja,” jelas Dion.

“Dion, kamu kenapa bicara begitu? kamu tidak tau ya, —— kalau ucapan Dara terpotong karena terdengar pengumuman bahwa lomba akan dimulai.

Babak pertama dimulai, tim Dion akan melawan tin Alvin, tetangganya. Dan babak tersebut dimenangkan oleh tim Dion.

Babak kedua, Dodit melawan tim Sarah, sepupu yang juga tetangganya. Sarah terkenal sebagai jagonya lomba menangkap belut, namun julukan itu dipatahkan oleh Dodit, karena pada babak kedua, tim Dodit lah pemenangnya.

Warga kampung Bahagia yang ikut menonton langsung tercengang melihat Sarah yang kalah telak.

“Astaga, anak mbok satu ini rupanya jago menangkap belut ya?” goda Asep diiringi dengan tawa renyah Dara.

Dodit pun hanya bisa menunduk tersipu malu. Dan akhirnya, babak final pun dimulai. tim Dodit, melawan tim Dion.

“Kamu kalah jangan mengadu ke mbokmu ya Dit,” ucap Dion meremehkan .

Namun Dodit tetaplah Dodit yang tidak akan pernah mau kalah jika diremehkan.

Babak itu berjalan dengan sengit. Beberapa kali Dion mencoba untuk menjatuhkan Dodit, namun usahanya gagal. Sarah saja kalah ditangan Dodit, apalagi Dion.

Dengan bantuan Dara dan Asep yang juga tak kalah hebatnya, mereka pun berhasil menghentikan Dion yang terus mencoba mendorong Dodit agar terjatuh.

Tiga puluh detik kemudian babak final pun selesai. Panitia menghitung belut yang ditangkap oleh peserta lomba. Dan setelah selesai dihitung, panitia mengumumkan pemenang lomba tersebut.

Tim Dion memperoleh dua puluh ekor belut, dan tim Dodit memperoleh dua puluh satu ekor. Dan lomba ini dimenangkan oleh tim Dodit. Seru panitia diikuti dengan gemuruh tepuk tangan dari penonton.

Dion yang mendengar pengumuman barusan langsung merasa sedih.

“Dion, panggil Dodit dari belakang. Dion langsung menoleh lalu berkata

“Dodit, maafkan aku ya, aku sudah meremehkan mu tadi. Aku malah bergabung dengan kelompok  lain,”

“Tidak apa-apa Dion. Yang terpenting dari sebuah lomba adalah kepercayaan satu sama lain didalam satu tim. Bukan menang atau kalah. Timmu kalah mungkin karena kamu hanya berambisi .” ujar Dodit.

Dara dan Asep yang menyimak hanya mengangguk.

“Semoga tahun depan kamu bisa menjadi lebih baik lagi, ya” ucap Dara.

Mereka pun saling memaafkan satu sama lain.

“Jangan memikirkan lomba terus, Dion,” Asep meledek Dion.

Lalu pinggir kolam milik Pah Haji dipenuhi oleh tawa keempat teman itu.

Tamat


AQEELA HAYATUN NUFUS (SMPIT DARUL ABIDIN, JUARA 3 CIPTA CERPEN FLS SMP/MTs TINGKAT KOTA DEPOK)

Baca juga

Tinggalkan Komentar