Swarapendidikan (Jepara) – Dampak cuaca ekstrem yang memicu banjir di wilayah Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, mendorong manajemen SMK Negeri 1 Kalinyamatan mengambil langkah cepat dengan mengalihkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dari tatap muka ke metode daring.
Selain akses sekolah yang terendam banjir, kebijakan ini juga diambil untuk melindungi keselamatan siswa dari ancaman hewan berbisa, seperti ular kobra, yang mulai masuk ke lingkungan sekolah sejak Senin (12/1) lalu.
Guru Elektronika SMK Negeri 1 Kalinyamatan, Husniyati Hotimah, yang mewakili pihak sekolah, menjelaskan bahwa air mulai memasuki area sekolah sejak awal pekan. Meski siswa sempat hadir ke sekolah pada pagi hari, pihak manajemen segera berkoordinasi dengan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah serta pengawas sekolah untuk memulangkan siswa lebih awal.

“Melihat kondisi air yang terus naik dan cuaca yang memburuk disertai angin kencang, pembelajaran sejak Senin kami putuskan dilakukan secara daring melalui Google Classroom dan sejumlah platform video pembelajaran,” ujar Husniyati saat dikonfirmasi, Kamis (15/1).
Ia menegaskan, meskipun siswa belajar dari rumah, para guru tetap hadir di sekolah untuk memastikan proses pembelajaran berjalan optimal. Seluruh kegiatan KBM dipantau secara ketat melalui jurnal pembelajaran daring yang wajib diisi oleh setiap guru.
“Hingga saat ini pembelajaran tatap muka belum bisa dilaksanakan karena debit air di lingkungan sekolah belum menunjukkan penurunan signifikan. Tadi malam kami berkoordinasi dengan penjaga sekolah, dan air baru surut beberapa sentimeter,” tambahnya.
Situasi tersebut semakin diperparah dengan munculnya ancaman keamanan dari binatang liar. Mengingat lokasi sekolah yang berbatasan langsung dengan area persawahan, banjir membawa hewan-hewan berbisa masuk ke lingkungan sekolah. Sedikitnya dua ekor ular kobra telah ditemukan menyelinap di area gedung bagian belakang sekolah.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya banjir, tetapi juga binatang liar. Banyak ruang kelas berada di bagian belakang yang dekat dengan sawah. Kami tidak ingin mengambil risiko apa pun yang membahayakan keselamatan siswa,” jelas Husniyati.

Terkait kondisi fasilitas pendidikan, pihak sekolah memastikan sarana dan prasarana (sarpras) dalam keadaan aman. Meski sempat terjadi korsleting listrik akibat rembesan air pada hari pertama banjir, gangguan tersebut telah berhasil ditangani oleh tim Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarpras.
Menutup keterangannya, pihak sekolah berharap adanya perhatian dan dukungan lebih dari pemerintah, khususnya terkait edukasi mitigasi bencana secara berkala.
“Mengingat wilayah Batukali merupakan daerah langganan banjir, pelatihan tanggap bencana bagi guru dan siswa sangat penting agar seluruh warga sekolah lebih siap menghadapi kondisi darurat ke depan,” pungkasnya. ***




