Sepeda Merah Gundul

by Redaksi
0 Komentar 189 Pembaca

Oleh : Titin Supriatin

Foto:Ilustrasi

 

Sepeda berwarna merah bata teronggok di sudut ruang tamu. Cat yang sudah memudar dan terkelupas hanya menyisakan sedikit warna merah pada besi penopang antara roda depan dengan roda belakang. Ban  kempes, rantai yang putus menambah kesan betapa rusaknya sepeda mini kecil itu. Sekilas angan berkelabat mengingat memori di masa itu. Seperti baru kemarin.

“Awas … minggir!!”. Jeritku saat sepeda yang kukayuh kehilangan keseimbangan akibat rem yang sudah tidak berfungsi. Jalanan kampung penuh kerikil dengan kondisi menurun semakin menambah laju sepeda. Beberapa teman yang sedang bermain berlarian menyelamatkan diri. Di belakangku Bapak berlari sekuat tenaga berusaha menggapai sepedaku supaya berhenti. Namun naas, sepeda terus melaju dengan kencang tak terkendali yang akhirnya membuatku menyerah pasrah mau dibawa kemana sekiranya sepeda ini akan berhenti.

“Braakk”.

Sepeda menabrak semak-semak. Aku terjatuh dengan posisi miring kesebelah kiri. Siku tangan, lutut juga kaki tergores bebatuan dan ranting semak yang lumayan tajam. Berdarah? Tentu.

Sakit? Pasti.

Menangis? Iya.

Bapak dengan tergopoh-gopoh menolong. Diangkatnya sepeda yang menindih sebagian badanku. Membantu berdiri sambil mengamati luka pada siku dan kaki.

“Sakit?” tanyanya.

Aku hanya meringis menahan tangis. Malu kalau harus menangis di depan Bapak dan juga teman-teman yang sudah mengelilingiku melihat kejadian tadi.

“Sudah gak apa-apa, ini nanti dikasih obat merah juga sembuh.” Ucapnya . “Kalau mau cepet bisa harus berani jatuh, kalau sudah jatuh biasanya sebentar lagi sudah lancar naik sepedanya,” imbuhnya.

Itulah Bapak, lelaki yang tidak banyak bicara. Hanya bereaksi pada hal-hal yang menurutnya penting untuk direspon. Tindakan nyata lebih terlihat dibanding ucapan dan nasehat. Dan kami sebagai anak-anaknya sudah memahami watak beliau.

“Pak Lik, saya pinjem sepedanya ya?” Yanto, sepupuku tiba-tiba bersuara. Bapak menoleh, sedikit ragu, “Remnya gak pakem, apa kamu bisa?” ucapnya.

“Iso Pak Lik, kecil itu.” Jawab Yanto sedikit pongah. “Yowes sing ati-ati ya!”.

Sepeda kecil merah. Bukan sepeda bagus. Bukan juga sepeda dalam jenis sepeda mini untuk anak-anak. Sepeda merah adalah hasil karya Bapak. Membeli barang-barang di tempat loak, kemudian mengelas dan merangkai menjadi sebuah sepeda yang entah bagaimana bentuknya. Menurut Bapak yang penting bisa dipakai dan bisa jalan. Kami menyebutnya sepeda gundul. Karena bentuknya yang aneh dan tidak punya slebor (istilah spakbor sepeda dalam bahasa daerah di Jawa Tengah). Jika hujan tentu saja lumpur tanah akan berterbangan mengenai punggung kami. Namun kami sangat bangga dengan sepeda itu.

Kakak, aku, adik, sepupu, semua bisa mengendarai sepeda berkat sepeda merah gundul. Terkadang Ibu yang paling sering marah-marah jika sepeda merah gundul dipinjam oleh anak-anak lain. Kebanyakan yang meminjam sepeda merah gundul adalah anak-anak yang baru mulai belajar naik sepeda, bukan tanpa sebab ibu marah, karena jika dipinjam dan digunakan untuk belajar tentu sepeda itu akan sering jatuh yang mengakibatkan kerusakan, dan bisa ditebak, bapak lagi yang akan memperbaiki dengan biaya sendiri.

Bapak orang yang sangat sabar. Jika sepeda merah gundul rusak dia hanya tersenyum sambil berucap, “Ora opo-opo nanti didandani juga bagus lagi”.

Sungguh banyak pahala bagi sepeda merah gundul. Karena sudah menjadi sarana belajar anak-anak sepermainanku bisa naik sepeda. Terkadang juga digunakan kakakku untuk membantu ibu dan nenek membawa hasil kebun. Dipakai buat pergi belanja ke pasar. Dipakai kita bertiga kakak beradik pergi bertamasya ke pantai dekat rumah. Memori yang tidak terhitung.

Tak terasa aku senyum-senyum sendiri. Mengingat masa-masa bersama sepeda merah gundul. Bersyukur dengan segala nikmat yang Allah beri, dengan kesederhanaan kita dapat mengalami sebuah proses pendewasaan.

***


Tentang penulis :  Titin Supriatin, M.Pd. Kepala Sekolah di SDN Cipayung 2. Menyukai dunia literasi, karena dengan berliterasi dapat berbagi informasi dalam pengetahuan yang luas dan tanpa batas.

Baca juga

Tinggalkan Komentar