Swara Pendidikan (Cipayung, Depok)— SMK Assalamah Cipayung, Depok, menyelenggarakan Pesantren Ekologi selama tiga hari, Senin hingga Rabu (23–25/2/2026). Kegiatan yang diikuti seluruh siswa kelas X hingga XII ini merupakan bagian dari program pembinaan karakter di bulan Ramadan.
Penanggung jawab kegiatan, Ustadz Fahrudin, S.Pd, Gr mengatakan pesantren kilat atau sanlat tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun. Namun, pada 2026 kegiatan dikemas dengan konsep berbeda melalui pendekatan ekologi yang mengintegrasikan nilai keislaman dan kepedulian lingkungan.
“Setiap tahun seluruh siswa kelas 10 sampai kelas 12 mengikuti kegiatan ini. Tahun ini pelaksanaannya kami bagi menjadi dua sesi, ada yang mengikuti materi Pesantren Ekologi dan ada yang mengikuti BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an),” kata Fahrudin saat ditemui Swara Pendidikan pada hari terakhir kegiatan, Rabu (25/2/2026).
Dia menjelaskan, materi Pesantren Ekologi mengacu pada program Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yakni Pancawaluya yang memuat lima nilai utama: cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (terampil). Nilai-nilai tersebut dikorelasikan dengan ajaran Islam dan semangat Ramadan.
“Kami kolerasikan dengan nilai-nilai Ramadan dan ajaran Islam. Misalnya cageur berkaitan dengan kesehatan, bageur dengan akhlak, serta nilai ibadah lainnya. Semua memiliki keterkaitan,” jelas Fahrudin yang juga guru PAI.
Selain penguatan aspek religius, kegiatan ini juga menekankan edukasi lingkungan, seperti pentingnya menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, serta penanaman pohon di lingkungan sekolah. Menurut Fahrudin, pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk karakter siswa yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga peduli terhadap kelestarian alam.
“Harapan kami, siswa menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, lebih bertakwa kepada Allah SWT, serta memiliki rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungan sesuai tema Pesantren Ekologi,” ungkapnya.

Sementara itu, pengurus OSIS SMK Assalamah turut berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Salah satu pengurus OSIS, Aprilianti Putri mengatakan persiapan telah dilakukan sekitar dua minggu sebelum pelaksanaan.
“Kami mempersiapkan kegiatan ini kurang lebih dua minggu, mulai dari perencanaan konsep hingga teknis pelaksanaan. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk siswa-siswi,” kata Putri.
Ia menambahkan, pelaksanaan sanlat tahun ini dibagi ke dalam dua kelompok dengan lokasi berbeda, yakni kelompok Pesantren Ekologi dan kelompok BTQ. Pembagian tersebut bertujuan agar kegiatan berjalan efektif dan seluruh siswa tetap mendapatkan pembinaan sesuai kebutuhan.
Putri berharap, kegiatan pesantren tidak hanya menjadi agenda tahunan, melainkan mampu memberikan dampak nyata dalam pembentukan karakter siswa.
“Semoga kegiatan ini tidak sekadar rutinitas, tetapi benar-benar membentuk karakter siswa yang religius, peduli lingkungan, dan memiliki daya saing,” harapnya.
Nurjaya SP






