Swara Pendidikan (Sawangan, Depok) – Dedikasi di dunia pendidikan bukanlah pilihan instan bagi Salman Fauzi, S.Pd. Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Khoirul Huda Bedahan ini menapaki jalan pengabdian sebagai bentuk ikhtiar meneruskan perjuangan orang tuanya yang telah berkecimpung di bidang pendidikan sejak tahun 1951.
Pria kelahiran Bogor, 23 Januari 1986, ini mengawali pendidikan formalnya di MI Khoirul Huda Bedahan pada 1993–1999. Ia kemudian melanjutkan ke MTs Salafiyah Bedahan (1999–2002), MA Manaratul Islam Jakarta (2002–2005), dan menuntaskan studi sarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2011.
Sejak masih berstatus mahasiswa, Salman Fauzi telah terjun langsung ke dunia pendidikan. Pada 2007, ia mulai mengajar di jenjang MI dengan mengampu sejumlah mata pelajaran. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2009, ia memfokuskan diri mengajar Bahasa Inggris di berbagai jenjang, mulai dari MI, MTs hingga SMK, sesuai dengan latar belakang keilmuannya.
“Tugas mengajar yang cukup padat membuat saya menyelesaikan studi hampir dua tahun lebih lama dari waktu ideal. Namun alhamdulillah, S1 dapat saya tuntaskan pada 2011,” ungkapnya.
Karier kepemimpinan Salman Fauzi dimulai pada 2013. Dua tahun setelah lulus kuliah, ia mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah MI Khoirul Huda Bedahan, jabatan yang diembannya hingga saat ini. Di bawah kepemimpinannya, madrasah tersebut menunjukkan perkembangan signifikan, salah satunya tercermin dari meningkatnya jumlah peserta didik dari tahun ke tahun.
Berbagai pengalaman berkesan turut mewarnai perjalanannya sebagai pendidik. Salah satunya saat mengajar di jenjang SMK. Dari dunia pendidikan pula, ia menemukan pasangan hidupnya—seorang alumni SMK tempat ia mengajar—yang kemudian dinikahinya pada 2015.
Dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan produktif, Salman Fauzi menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru. Ia aktif mendorong para pendidik untuk mengikuti seminar, In House Training (IHT), serta berbagai pelatihan guna mengembangkan strategi dan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
Menurutnya, kepala sekolah yang sukses harus memiliki karakter rajin, disiplin, tepat waktu, tegas, berintegritas, dan bertanggung jawab. “Inisiatif, konsep, dan kemajuan sekolah harus dimulai dari kepala sekolah itu sendiri, selama hal tersebut belum berjalan,” tegasnya.
Menanggapi dinamika perubahan kurikulum, ia berpandangan bahwa kemajuan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta kemauan guru untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di era digitalisasi, penguasaan teknologi dinilainya sebagai kebutuhan mutlak bagi pendidik.
Untuk menjaga komunikasi yang efektif di lingkungan sekolah, pihak madrasah menyediakan saluran informasi melalui grup WhatsApp yang melibatkan admin, guru, dan orang tua. Selain itu, pengembangan website serta media sosial sekolah juga terus dilakukan untuk menyampaikan informasi yang akurat dan relevan.
Briefing rutin bersama jajaran struktural dan rapat berkala dengan seluruh guru menjadi bagian dari budaya komunikasi di MI Khoirul Huda Bedahan. Dalam pemberdayaan guru dan tenaga kependidikan, diterapkan pula sistem kedisiplinan berbasis teknologi seperti finger print dan face scan, peningkatan literasi digital, partisipasi pelatihan, serta penguatan kebersamaan melalui kegiatan sosial.
Salman Fauzi menegaskan bahwa visi MI Khoirul Huda Bedahan adalah “Mewujudkan Madrasah yang Melahirkan Generasi Beriman, Berilmu, Berakhlak Mulia, dan Siap Menghadapi Tantangan Zaman.” Visi tersebut diwujudkan melalui penguatan karakter, kompetensi, integritas, serta kesiapan fisik dan mental seluruh warga sekolah.
“Dengan kekuatan jiwa dan raga, serta komitmen bersama, visi madrasah insyaallah dapat terwujud,” pungkasnya. (Amr)




