Di balik besarnya potensi RSSG, persoalan aksesibilitas dan transparansi data masih menjadi pekerjaan rumah serius. Faktor jarak sekolah serta belum terbukanya data pendaftar dan siswa yang diterima pada tahun 2025 berpotensi menghambat optimalisasi program.
Swara Pendidikan (Depok) — Pemerintah Kota Depok terus memperluas akses pendidikan melalui Program Rintisan Sekolah Swasta Gratis (RSSG). Program ini menjadi solusi strategis untuk mengatasi keterbatasan daya tampung sekolah negeri sekaligus memberikan kesempatan belajar gratis bagi siswa kurang mampu di tingkat SMP/MTs.
Program RSSG mulai digulirkan sejak 24 Juni 2025 melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Depok dan puluhan sekolah swasta. Sejak tahun ajaran 2025/2026, program ini telah berjalan dan memberikan akses pendidikan bagi ribuan siswa. Untuk tahun ajaran 2026/2027, pendaftaran direncanakan dimulai pada Juni 2026.
RSSG mencakup 49 sekolah swasta yang terdiri dari 35 SMP dan 14 MTs yang tersebar di 11 kecamatan di Kota Depok. Program ini bertujuan untuk memastikan seluruh anak tetap bisa bersekolah tanpa terkendala biaya, sekaligus menekan angka putus sekolah.
Berdasarkan hasil kajian tim litbang Swara Pendidikan yang diolah dari data Dapodik Kemendikdasmen dan Dinas Pendidikan Kota Depok, sebaran sekolah RSSG meliputi:
- Pancoran Mas: 9 sekolah (6 SMP, 3 MTs)
- Sukmajaya: 2 SMP
- Tapos: 5 sekolah (4 SMP, 1 MTs)
- Cimanggis: 5 sekolah (3 SMP, 2 MTs)
- Sawangan: 7 sekolah (6 SMP, 1 MTs)
- Cilodong: 4 sekolah (3 SMP, 1 MTs)
- Bojongsari: 3 sekolah (2 SMP, 1 MTs)
- Cipayung: 4 SMP
- Beji: 2 sekolah (1 SMP, 1 MTs)
- Limo: 4 sekolah (3 SMP, 1 MTs)
- Cinere: 4 sekolah (1 SMP, 3 MTs)
Sebaran ini diharapkan mampu menjangkau masyarakat secara merata di seluruh wilayah Kota Depok.
Dari sisi kualitas, komposisi akreditasi sekolah peserta RSSG menunjukkan hasil yang cukup baik. Sebanyak 21 sekolah telah berakreditasi A, 25 sekolah berakreditasi B, 2 sekolah berakreditasi C, dan 1 sekolah belum terakreditasi. Menariknya, mayoritas MTs dalam program ini telah berakreditasi A, menunjukkan kualitas yang relatif unggul di jenjang tersebut.
Potret Program RSSG Depok 2026: Sebaran, Kualitas, dan Daya Tampung Sekolah

Data Akreditasi RSSG Kota Depok

Namun demikian, tim litbang Swara Pendidikan mencatat adanya kendala dalam mengakses data rinci Madrasah Tsanawiyah. Tim mengalami kesulitan dalam mengakses sistem EMIS (Education Management Information System) milik Kementerian Agama. Sejumlah data penting seperti jumlah rombongan belajar (rombel), jumlah pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), jumlah ruang kelas, serta indikator lainnya belum tersedia secara terbuka dan lengkap.
Kondisi ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam pengelolaan dan keterbukaan data pendidikan di lingkungan madrasah. Diperlukan perhatian dan komitmen bersama dari para pengelola madrasah maupun instansi terkait untuk memastikan pengisian dan pemutakhiran data berjalan optimal. Pembiaran terhadap ketidaklengkapan data ini berpotensi menghambat perencanaan serta pengambilan kebijakan pendidikan berbasis data, sehingga perlu menjadi perhatian bersama.
Berdasarkan data Kemendikdasmen, sekolah tertua dalam program ini adalah SMP Islam Al Hasanah yang berdiri pada 12 Maret 1983, disusul SMP PGRI Depok Jaya (1985) dan SMP Islam Nusantara (1986). Sementara itu, sekolah termuda adalah SMP IT Al Yusuffiah yang berdiri pada 25 September 2024.
Dari sisi kapasitas, total ruang kelas pada 35 SMP swasta mencapai 216 ruang dengan 161 rombongan belajar (rombel). Artinya, masih terdapat sekitar 55 ruang kelas yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Analisis lebih lanjut menunjukkan potensi daya tampung yang cukup besar. Diperkirakan terdapat sekitar 100 ruang kelas yang masih dapat digunakan. Jika setiap kelas diisi 32 siswa, maka potensi tampung mencapai sekitar 3.200 siswa untuk jenjang SMP. Jika digabung dengan MTs, total kapasitas dapat menampung lebih dari 4.000 siswa.
Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan, seperti faktor jarak sekolah dan preferensi masyarakat yang masih memengaruhi minat pendaftaran. Selain itu, belum tersedianya data terbuka terkait jumlah pendaftar dan siswa yang diterima pada RSSG tahun 2025 juga menjadi catatan penting dalam aspek transparansi.
Melalui program RSSG, Pemerintah Kota Depok diharapkan mampu meningkatkan pemerataan akses pendidikan, mengurangi angka putus sekolah, serta mengoptimalkan peran sekolah swasta sebagai mitra strategis dalam dunia pendidikan.
Program ini menjadi langkah nyata menuju pendidikan yang inklusif dan berkeadilan, sekaligus membuka peluang bagi seluruh anak di Kota Depok untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa hambatan biaya.**
(Litbang Swara Pendidikan)

























