Kisah Insipiratif: Perjuangan Hera Prastari Merubah Sekolah Kebun Menjadi Sekolah Penggerak

by Redaksi
0 Komentar 193 Pembaca

Kisah Inspiratif

 

Hera Prastari, M.Pd. Kepala SD Negeri Pakansari 4

 

 

Bagai tirai kelabu, kondisi yang sangat jauh dari harapan. Keberadaan yang sangat timpang.  SD Negeri Pakansari  4 yang letaknya berada di ring 1, tidak jauh dari pusat pemerintahan Daerah  (Pemda) kabupaten Bogor dan tidak jauh dari kemegahan GOR PAKANSARI namun kondisinya sangat memperihatinkan.

Hal itu dirasakan oleh Hera Prastari yang pada saat itu baru diangkat  jadi Kepala Sekolah  pada tahun 2019 dan ditugaskan di SD Negeri Pakansari 4.

 

“Jauh dari ekspetasi, keinginan untuk menjadi kepala Sekolah, setelah terwujud ternyata harus ditempatkan di sekolah yang siswanya sedikit dan kondisi bangunan kurang layak,” urai Hera membuka cerita  saat ditemui awak Swara Pendidikan dikantornya. Senin (13/11/23).

 

Tapi yahh,,,, lanjutnya, saya harus bersyukur,  do’a saya terkabul ingin menjadi Kepala Sekolah. Dan apapun situasinya sekarang harus dijalani tugas ini walaupun mungkin berat dijalani  untuk merubah keadaan menjadi lebih baik

Hera bercerita, SDN Pakansari 04 awalnya dijuluki sebagai ‘sekolah kebon’ karena kondisinya yang tidak layak. Sekolahnya dikelilingi lahan kosong yang banyak rerumputan, tanaman liar, tidak memiliki pagar, serta akses jalan yang masih tanah dengan rimbunan pohon bambu.

“Meski begitu, saya berfikir bagaimana caranya memperbaiki keadaan sekolah. Sebagai langkah awal, bagaimana sekolah bisa ada pagarnya,  lapangan upacara yang baik , dan bangunan sekolah yang  layak dan menarik, “ tuturnya

Hera mengaku,  Salah satu tantangan untuk melakukan perubahan yang cukup berat adalah ketika  harus mengupayakan pembangunan sekolah yang lebih layak, agar terlihat punya identitas.

“Saya tidak putus asa. Saya terus melakukan pendekatan dan follow up ke dinas pendidikan. Akhirnya, pada tahun 2020 sekolah kami memiliki lingkungan belajar yang lebih layak, ada pagar, dan lapangan upacara dipapingblok,” kenangnya sambil tersenyum haru.

.

Pandemi  COVID’19 datang

Baru saja menyelesaikan program yang pertama,  tiba-tiba tantangan yang jauh lebih berat datang, yaitu pandemi Covid-19. Saat pandemi menghantam, pemerintah menutup sekolah untuk sementara dan melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh.

Hera mengatakan kondisi saat itu membuat ia kebingungan, apalagi dirinya merupakan kepala sekolah baru yang belum memiliki banyak pengalaman.

“ Di saat sekolah lain belajar melalui sarana online menggunakan handphone atau laptop,  ini tidak berlaku bagi SDN Pakansari 04 karena status ekonomi keluarga peserta didik adalah menengah prasejahtera” kata Hera

Hera menjelaskan, mata pencaharian orang tua peserta didik didominasi sebagai penjual kopi dan pedagang kaki lima yang mangkal di Gelanggang Olahraga (GOR) Pakansari.  tidak memiliki smartphone apalagi laptop.

“Alhasil, sekolah pun tidak dapat melakukan kegiatan belajar-mengajar melalui Zoom Meeting dan Google Meet,” imbuhnya

Akhirnya, selama pandemi, ungkap Hera, kami melakukan home visit, di mana guru datang ke rumah peserta didik. Per kelas saya bagi menjadi dua agar tidak terlalu padat dan pembelajaran dapat dilakukan di salah satu rumah orang tua peserta didik.

Hera menambahkan, saat pandemi, ekonomi keluarga orang tua peserta didik kian terguncang karena GOR harus ditutup, hingga mata pencaharian mereka terhenti

“Hal ini berimbas kepada banyaknya peserta didik yang pindah karena orang tuanya memilih untuk pulang kampung. Alasan ini juga yang membuat sekolah tersebut hanya memiliki peserta didik kelas I sampai VI sebanyak 87 orang,” ungkapnya

Hera pun terus mengajak dan mendorong para guru agar bahumembahu memberikan pembelajaran semaksimal mungkin dengan segala keterbatasan mereka dalam masa pandemi Covid-19.

“Walau Kondisi saya  sangat tertekan, bingung,dan nyaris putus asa, “ harunya

 

Mendaftar Program Sekolah Penggerak pada tahun 2021

Kesabaran yang luar biasa,  akhirnya mempertemukannya dengan informasi pendaftaran Program Sekolah Penggerak pada tahun 2021. “Tanpa berpikir panjang, dengan pemahaman yang amat terbatas mengenai program tersebut, saya mendaftarkan diri,” kata Hera

Waktu itu, lanjut Hera, saya merasa yakin bahwa program ini pasti baik dan berguna karena saya ingin memperbaiki kualitas guru, peserta didik, dan sekolah

Hera masih ingat, saat mendaftar Program Sekolah Penggerak banyak menelan cibiran dari orang-orang di sekitarnya. “Kamu ngapain sih ikut-ikutan begituan? Apa yang akan kamu dapatkan dari program itu? Gak usah macam-macam, sekolah kamu tuh kecil, kamu tinggal kerja saja,”  kenang Hera menirukan cibiran yang dilemparkan seseorang kepadanya.

Hera getir saat dia mengingat dengan jelas cibiran-cibiran itu. Namun ia tidak pernah ambil hati cibiran-cibiran itu. Fokusnya adalah melangkah ke depan untuk mengikuti PSP dengan harapan dapat mengubah sekolahnya agar menjadi lebih baik lagi.

“Alhamdulillah selalu diberi semangat oleh guru-guru dan orang tua peserta didik, sehingga sekolah kami akhirnya terpilih menjadi sekolah pelaksana Program Sekolah Penggerak,” ucapnya dengan suara bergetar

SDN Pakansari 04 menjadi SDN pelaksana Program Sekolah Penggerak angkatan pertama dan satu-satunya di Kecamatan Cibinong.

Hera menuturkan bahwa setelah mengikuti PSP, banyak manfaat yang mereka dapatkan. Salah satunya adalah mampu membawa perubahan yang berkualitas bagi para guru.

“Dulu guru kami gaptek dan tidak dapat mengoperasikan teknologi. Tapi sejak mengikuti PSP, sekarang mereka sudah bisa membuat video creative,” tuturnya sambil tertawa riang.

Selain itu, menurut Hera, penguatan sumber daya manusia yang merupakan salah satu intervensi Program Sekolah Penggerak yang difokuskan pada peningkatan kapasitas kepala sekolah dan kualitas guru, juga sangat bermanfaat bagi SDN Pakansari 04.

“Ini berdampak pada kualitas perubahan pembelajaran sekolah, di mana dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka yang berpusat pada peserta didik dilakukan pembelajaran intrakurikuler maupun kokurikuler, yaitu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila  (P5),” paparnya

Seiring akan berakhirnya kontrak 3 tahun sebagai Sekolah penggerak, tirai kelabu mulai tersingkap, sinar mentari telah memancarkan cahaya harapan. kondisi Sekolah dan SDM yang ada didalamnya. kini berubah jauh lebih baik.

Hera berharap, kedepannya siapa pun nanti yang menggantikan dirinya menjadi Kepala SD Negeri Pakansari 4 akan membawa perubahan yang lebih baik lagi.

“Dan saya juga ingin suasana baru, terus meningkatkan kualitas diri ditempat lain walaupun pasti akan kembali menghadapi tantangan, “ tutup Hera. (NJ)

Baca juga

Tinggalkan Komentar