Swara Pendidikan (Bogor) – Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, dipilih sebagai lokasi upacara peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 bukan tanpa alasan. Selain memiliki keindahan alam yang masih terjaga, wilayah tersebut menyimpan nilai sejarah penting sebagai salah satu titik awal berdirinya Bogor. Hal itu disampaikan Bupati Bogor, Rudy Susmanto, saat memimpin upacara peringatan HJB ke-544 di Lapangan Citalahab, Desa Malasari, Rabu (3/6/2026).
Menurut Rudy, Desa Malasari memiliki keterkaitan erat dengan sejarah lahirnya Kabupaten Bogor yang kemudian menjadi cikal bakal perkembangan wilayah Bogor dan sekitarnya.
“Desa Malasari adalah titik awal Bogor berdiri. Ini adalah titik awal adanya Kabupaten Bogor, adanya Kota Bogor, bahkan menjadi bagian dari sejarah lahirnya Kota Depok,” ungkap Rudy dalam sambutannya.
Rudy menjelaskan Desa Malasari memiliki jejak sejarah pemerintahan Kabupaten Bogor. Bupati pertama Bogor, Raden Ipik Gandamana, pernah berkantor di wilayah tersebut dan pada saat yang sama menjalankan tugas sebagai Pelaksana Bupati Lebak.
Selain nilai sejarah, kawasan Malasari dan sekitarnya juga memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Di antaranya potensi tambang emas, sumber energi panas bumi, serta kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang hingga kini tetap terjaga kelestariannya.
“Wilayah ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Ada kandungan emas, sumber panas bumi, dan kawasan hijau yang menjadi paru-paru lingkungan,” imbuhnya.
Namun demikian, Rudy menyoroti masih adanya ketimpangan pembangunan yang dirasakan masyarakat di wilayah tersebut. Menurutnya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas infrastruktur dan pelayanan publik.
“Kenapa wilayah yang kaya sumber daya alam justru memiliki infrastruktur kesehatan yang tertinggal? Kenapa wilayah yang kaya justru kondisi jalan dan sarana lingkungannya masih membutuhkan perhatian serius?” ujarnya.
Dia mencontohkan masih terdapat sekolah tingkat SMP dan SMA yang menempati satu kompleks atau satu atap karena keterbatasan sarana pendidikan. Kondisi tersebut, kata Rudy, menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan Pemerintah Kabupaten Bogor.
Lebih lanjut, Rudy menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Bogor ke-544 harus menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen bersama untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten Bogor.
Dengan wilayah yang terdiri atas 40 kecamatan, 416 desa, 19 kelurahan, dan jumlah penduduk lebih dari enam juta jiwa, pembangunan Kabupaten Bogor membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.
“Mari kita lanjutkan perjuangan yang telah dilakukan para bupati, wakil bupati, pimpinan DPRD, dan seluruh anggota DPRD terdahulu. Membangun Kabupaten Bogor yang maju dan merata membutuhkan kerja keras serta kolaborasi dari semua pihak,” tutup Rudi.
Nurjaya Saputra




