Pendekatan Cultural Responsive Teaching di Sekolah

by Redaksi
0 Komentar 18811 Pembaca

Oleh : Dr. Triningsih, S.Pd SD, M.Pd

 

Pendekatan Culturally Responsive Teaching atau yang biasa disingkat CRT merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menghendaki adanya persamaan hak setiap peserta didik untuk mendapatkan pengajaran tanpa membedakan latar belakang budaya peserta didik.

Pendekatan Culturally Responsive Teaching menjadi suatu cara komprehensif untuk membekali guru dalam mengajar peserta didik di lingkungan yang berlatar belakang budaya yang berbeda-beda serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan tanggap budaya seorang guru dalam setiap muatan pembelajaran mengupayakan terhadap lingkungan pembelajarannya.

Pendekatan Culturally Responsive Teaching atau CRT menempatkan peserta didik yang merasa dirinya berasal dari budaya minoritas punya kesamaan hak memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan diri. Melalui pendekatan pembelajaran CRT ini, peserta didik juga menjadi lebih  memahami budayanya sendiri serta menghargai budaya orang lain.

Pendekatan Culturally Responsive Teaching dapat terjadi apabila peserta didik memiliki rasa saling menghormati terhadap latar belakang dan keadaan tanpa memandang status individu dan kekuasaan. Sebagai informasi, CRT atau pendekatan Culturally Responsive Teaching memuat unsur perencanaan pembelajaran yang meliputi berbagai kebutuhan, kepentingan, dan orientasi di ruang kelas.

Menurut pakar pendidikan, Gay menyebut Culturally Responsive Teaching adalah cara menggunakan pengetahuan budaya, pengalaman, dan gaya kinerja peserta didik yang beragam untuk dapat menimbulkan pengalaman belajar yang bermakna.

Gay yang merupakan penggagas konsep culturally responsive/relevant pedagogy, mengemukakan prinsip dasar Culturally Responsive Teaching yaitu terwujudnya hubungan mitra antara pendidik (guru) dan peserta didik dalam mencapai pembelajaran yang lebih baik.

Artinya, guru harus menyadari bahwa pembelajaran tidak hanya mementingkan prestasi akademik, tapi juga mempertahankan identitas budaya peserta didik.

Pemahaman  tersebut menegaskan bahwa Culturally Responsive Teaching merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara pendidikan dan dimensi sosial budaya peserta didik.

Perlu diketahui, penekanan pada budaya peserta didik dan komunitas tidak hanya sebagai upaya mendekatkan peserta didik dengan konteks pembelajarannya, tetapi muncuk harapan mampu menjembatani datangnya kesadaran peserta didik terhadap identitas budayanya.

Pendekatan Culturally Responsive Teaching melibatkan pertimbangan dari lingkungan kelas. Dalam rangka memfasilitasi gaya belajar yang berbeda-beda, maka ada 5 (lima) prinsip yang harus diperhatikan, yakni:

  1. Mengakui adanya warisan budaya dari berbagai kelompok etnik yang berbeda, baik sebagai sesuatu yang dapat mempengaruhi sikap peserta didik, pendekatan untuk belajar, serta konten untuk diajarkan sesuai dengan kurikulum,
  2. Membangun hubungan yang bermakna antara pengalaman yang peserta didik  di rumah dengan pengajaran akademik di sekolah,
  3. Menggunakan berbagai strategi pembelajaran yang terhubung dengan berbagai gaya belajar yang berbeda pada setiap peserta didik,
  4. Mengajarkan peserta didik untuk mengetahui dan mencintai warisan budaya mereka sendiri serta menghargai budaya orang lain,
  5. Menggabungkan informasi multikultural, sumber daya, serta keterampilan.

Karakteristik Pendekatan Culturally Responsive Teaching

Adapun model pembelajaran yang menggunakan pendekatan Culturally Responsive Teaching. Berikut karakteristik Pendekatan Culturally Responsive Teaching

  1. Peserta didik melakukan refleksi terhadap identitas
  2. Peserta didik terlibat dalam pemahaman budaya dan konstruksi pembangunan melalui tugas yang diberikan
  3. Peserta didik melakukan debat untuk mengetahui perspektif yang
  4. Peserta didik bekerja dalam kelompok untuk membahas tugas yang diberikan guru dalam perspektif
  5. Peserta didik terlibat dalam refleksi nilai-nilai dan pemahaman mereka dengan menyajikannya dalam sebuah tugas

Sedangkan, muncul pendapat lain dari adanya karaktersitik pendekatan Culturally Responsive Teaching ini.

Menurut Teori Ladson dan Billings, Culturally Responsive Teaching adalah pendidikan yang menyadari bahwa melibatkan latar belakang kebudayaan peserta didik dalam semua aspek pembelajaran merupakan hal yang penting. Karakteristik Culturally Responsive Teaching antara lain:

  1. Positive perspectives on parents and families, artinya guru membangun hubungan yang baik dengan orangtua serta keluarga peserta didik
  2. Communication of high expectation, artinya guru memberikan pujian pada prestasi kepada peserta didik, dan memberikan simpati jika peserta didik gagal dalam proses akademiknya.
  3. Learning within the context of culture, artinya adanya keberagaman budaya di setiap peserta didik yang ada di sekolah, serta adanya proses globalisasi yang mengharuskan pengembangan pemahaman mendalam tentang budaya di antara populasi
  4. Student-centered instruction, artinya pembelajaran yang tercipta harus dapat membuat peserta didik Peran guru sebagai perencana pembelajaran di kelas diperlukan agar dapat terjadi aktivitas dan komunikasi yang positif antar peserta didik. Kegiatan pembelajaran yang memahami peserta didik sebagai individu yang dapat mengkonstruksi pengetahuannya berdasarkan pengetahuan sebelumnya.
  5. Culturally mediated instruction, artinya kegiatan multikultural yang sedang berlangsung dalam ruang kelas menimbulkan kesadaran akan keberagaman
  6. Reshaping the curriculum, artinya sekolah harus membuat kurikulum yang dapat membangun karakter peserta didik dan tidak hanya terfokus pada hasil
  7. Teacher as facilitator, artinya dalam pembelajaran ini guru bertindak sebagai guru harus dapat memfasilitasi peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini guru juga berperan sebagai konsultan dan mediator di dalam kelas.

 


Biodata Penulis

Dr.Triningsih, S.Pd SD, M.Pd merupakan  Guru PNS di SDN Meruyung Kec. Limo Kota Depok dan lulusan program Doktor  (S3) Manajemen Pendidikan Tahun 2023 dengan predikat Cum Laude dari Universitas Pakuan.

Baca juga

Tinggalkan Komentar