Swara Pendidikan (Jepara) — Penanganan kesehatan pascabanjir di Kecamatan Kalinyamatan, khususnya di Desa Batukali, memasuki fase krusial. Menyikapi dampak banjir yang cukup berat, Puskesmas Kalinyamatan mengambil langkah proaktif dengan menggeser fokus pelayanan kesehatan langsung ke permukiman warga.
Kepala Puskesmas Kalinyamatan, dr. Lupi Murwani, M.M., menerapkan strategi pelayanan jemput bola guna memastikan warga dengan keterbatasan mobilitas, seperti lansia dan penyandang disabilitas, tetap memperoleh layanan medis tanpa harus keluar rumah.
Dalam keterangannya, dr. Lupi menjelaskan bahwa tim medis tidak hanya menunggu pelayanan di Poliklinik Kesehatan Desa (PKD). Melalui layanan home visit, petugas kesehatan mendatangi rumah-rumah warga satu per satu.
“Kami memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan. Selain lansia, kami juga bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk menghadirkan dokter spesialis guna memantau kondisi kesehatan balita secara intensif,” ujar dr. Lupi Murwani di Puskesmas Kalinyamatan, Selasa (20/1/2026).
Selain pelayanan medis, tim kesehatan juga memberikan edukasi kepada orang tua terkait pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan demam. Edukasi ini dinilai penting mengingat balita sangat rentan terhadap perubahan lingkungan pascabencana.

Berdasarkan data medis di lapangan, keluhan kesehatan yang banyak dialami warga pascabanjir antara lain infeksi kulit akibat paparan air kotor, gangguan pernapasan karena kelembapan udara yang tinggi, serta keluhan fisik seperti pegal linu dan meriang akibat kelelahan.
Meski demikian, Puskesmas Kalinyamatan mengapresiasi ketahanan fisik warga Desa Batukali. Latar belakang mayoritas warga sebagai petani dinilai turut membentuk stamina yang baik, sehingga secara umum kondisi kesehatan masyarakat masih relatif terjaga di tengah situasi darurat.
Pelayanan kesehatan tetap diberikan meskipun pada hari libur, terutama saat kondisi air di desa masih tinggi. Tenaga kesehatan Puskesmas Kalinyamatan tetap membuka layanan di posko Balai Desa Batukali yang terdampak bencana.
“Ini diharapkan menjadi pemantik koordinasi yang lebih luas antara otoritas kesehatan dan pimpinan daerah, khususnya dalam mencari solusi permanen terhadap persoalan banjir tahunan di Desa Batukali. Pemenuhan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat menjadi hal utama agar ancaman penyakit musiman dapat diminimalkan di masa mendatang,” imbuh dr. Lupi.
Upaya yang dilakukan Tim Kesehatan Kalinyamatan ini menjadi gambaran pentingnya sinergi antara kesiapsiagaan medis dan kepedulian sosial dalam menghadapi dampak perubahan iklim serta bencana alam di tingkat desa.**




