Menyeimbangkan Antara Linear Thinking dan Dialectical Thinking dalam Pendidikan di Indonesia pada Era Society 5.0

by Redaksi
0 Komentar 85 Pembaca

 

Pendidikan merupakan salah satu pilar penting dari pembentukan karakter, pengetahuan, dan keterampilan individu dalam pembangunan suatu bangsa. Melalui pendidikan, generasi muda dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan besar dalam menghadapi era society 5.0 yang semakin kompleks dan dinamis.

Dalam konteks ini, pendekatan berpikir yang terlibat dalam proses pembelajaran, seperti linear thinking yang cenderung berakar pada tradisi pemikiran Barat, dan dialectical thinking yang lebih terkait pada filosofi pemikiran Timur (Yama & Zakaria, 2019), memiliki peran yang signifikan.

Linear thinking menekankan pada Langkah-langkah terstruktur, logika, dan penyelesaian masalah secara sistematis, sementara dialectical thinking melihat dunia sebagai proses dinamis yang penuh kontradiksi dan kompleksitas (Nisbett et al., 2001).

Dalam tulisan ini, kita akan mengeksplorasi pentingnya menyeimbangkan antara kedua pendekatan pemikiran ini dalam pendidikan di Indonesia, serta bagaimana penerapan keduanya dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Dalam tulisannya Yama & Zakaria (2019) dan Nisbett et al. (2001), Linear thinking sering dikaitkan dengan tradisi pemikiran Barat, menyoroti pentingnya logika, urutan Langkah-langkah, dan penyelesaian masalah secara terstruktur.

Pendekatan ini cenderung memecahkan masalah dengan langkah-langkah yang berurutan dan konsisten, serta sering kali menekankan pada analisis sebab-akibat dan logika deduktif.

Di sisi lain, dialectical thinking, yang lebih sering ditemukan dalam tradisi pemikiran Timur, menekankan pada pemahaman bahwa realitas adalah proses yang dinamis, penuh dengan kontradiksi, dan tidak selalu dapat dijelaskan dengan cara yang terstruktur dan linear.

Di Indonesia, linear thinking sering tercermin dalam kurikulum yang menekankan pada pengembangan keterampilan matematika, dan sains.

Di kelas-kelas matematika, siswa diajarkan untuk mengikuti langkah-langkah yang terstruktur dalam menyelesaikan soal-soal, sehingga menghasilkan pemahaman yang jelas dan terukur. Namun, pendekatan ini juga memiliki keterbatasan dalam mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan yang lebih kompleks dalam masyarakat modern.

Di sisi lain, dialectical thinking menawarkan pendekatan yang lebih kompleks dalam memahami dunia. Pendekatan ini melihat realitas sebagai proses yang dinamis dan penuh dengan kontradiksi.

Dialectical thinking mendorong siswa untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan memahami kompleksitas suatu masalah. Ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif yang sangat diperlukan dalam menghadapi dunia yang beragam dan berubah dengan cepat.

Dalam menghadapi tantangan era society 5.0, di mana teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), internet of things (IoT), dan big data telah mengubah tatanan sosial, ekonomi, dan budaya, pendidikan perlu beradaptasi dengan cepat (Nawawi et al., 2023).

Penerapan linear thinking telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan di Indonesia, dengan fokus pada pembelajaran yang terstruktur dan berorientasi pada tujuan. Namun, dalam menghadapi tantangan kompleksitas dunia yang semakin meningkat, perlu juga mempertimbangkan penerapan dialectical thinking.

Dialectical thinking dapat membantu siswa untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan memahami kompleksitasnya dengan lebih baik – keterampilan yang sangat penting di era 5.0 yang menuntut adaptasi dan inovasi yang cepat.

Menyeimbangkan antara linear thinking dan dialectical thinking dalam pendidikan di Indonesia pada era society 5.0 menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang holistik dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.

Salah satu cara untuk mencapai keseimbangan ini adalah dengan mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut dalam kurikulum dan metode pengajaran.

Hal ini dapat membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Pembelajaran berbasis masalah, diskusi kelompok, dan proyek kolaboratif adalah contoh dari pendekatan-pendekatan yang dapat menggabungkan elemen-elemen dari kedua pendekatan pemikiran tersebut.

Pengembangan profesionalisme guru juga merupakan kunci dalam menciptakan keseimbangan antara kedua pendekatan pemikiran tersebut.

Guru perlu dilatih untuk mengintegrasikan kedua jenis pemikiran tersebut dalam pengajaran mereka sehingga dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan mendukung perkembangan holistik siswa yang relevan dengan tuntuan zaman.

Dalam implementasinya, guru dapat menggunakan berbagai strategi pengajaran, mulai dari ceramah hingga diskusi kelompok, untuk membantu siswa mengembangkan kedua jenis pemikiran tersebut.

Dengan demikian, setiap siswa dapat menemukan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan mereka masing-masing.

Dalam konteks di Indonesia, penting juga untuk mempertimbangkan nilai-nilai lokal dan budaya dalam pendidikan. Dialectical thinking yang cenderung dipengaruhi oleh pemikiran Timur (Yama & Zakaria, 2019), sering kali lebih berorientasi pada hubungan sosial, kebersamaan, dan kearifan lokal. Integrasi nilai-nilai ini dalam pendidikan dapat membantu memperkuat identitas budaya siswa, sambil juga mengembangkan keterampilan berpikir yang relevan dengan era society 5.0.

Dalam menghadapi tantangan kompleksitas dunia yang semakin meningkat di era society 5.0, menyeimbangkan antara linear thinking dan dialectical thinking dalam pendidikan di Indonesia menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang holistik dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.

Melalui pengembangan kurikulum yang holistik, pendekatan pengajaran yang beragam, dan pengembangan profesionalisme guru, dan integrasi nilai-nilai lokal, pendidikan dapat mempersiapkan generasi muda untuk berhasil menghadapi perubahan yang terjadi dengan cepat dan kompleksitas dunia yang semakin meningkat. **


Penulis: Nurdiana

(Mahasiswa S2 Psikologi Pendidikan, Universitas Indonesia)

 

Referensi:

Nawawi, M. L., Kurniawan, W., & Jamil, M. A. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Lembaga Pendidikan Era Society 5.0. Jurnal Tarbiyah Islamiyah, 8.

Nisbett, R. E., Choi, I., Peng, K., & Norenzayan, A. (2001). Culture and systems of thought: Holistic versus analytic cognition. Psychological Review, 108(2), 291–310. https://doi.org/10.1037/0033-295X.108.2.291

Yama, H., & Zakaria, N. (2019). Explanations for cultural differences in thinking: Easterners’ dialectical thinking and Westerners’ linear thinking. Journal of Cognitive Psychology, 31(4), 487–506. https://doi.org/10.1080/20445911.2019.1626862

 

Baca juga

Tinggalkan Komentar